
Malam ini kedua keluarga telah berkumpul. Mereka sedang membicarakan pertunangan Rey dan Moza yang akan di adakan lusa.
Perbincangan hangat yang berakhir dengan makan malam keluarga menjadi acara malam ini yang begitu berkesan bagi kedua keluarga. Mama Zara dan Mama Azki begitu bahagia karena akhirnya perjodohan ini berhasil.
Kini acara makan malam telah usai. Rey mengajak Moza untuk pergi ke taman yang ada di rumahnya.
"Aku sudah tidak sabar lagi, Sayang," ucap Rey lembut. Ia tak melepaskan pandangannya dari Moza.
"Kau harus memiliki rasa sabar, Rey," ucap Moza terkekeh.
"Tapi saat ini rasanya Aku sudah tidak sabar lagi untuk menikahi mu," ucap Rey. Ia menatap kedalam manik mata Moza. Moza mengalihkan pandangannya dari tatapan Rey. Wajahnya kembali merona.
"Dasar, Kau ini," ucap Moza masih mengalihkan pandangannya dari tatapan Rey.
"Aku serius Za."
"Oke, Aku percaya. Tapi Kau harus bersabar Rey. Bukankah Kau pernah mengatakan bahwa Kau akan sabar menunggu ku, tapi kenapa sekarang menjadi tidak sabar?"
"Aku memang sabar untuk menunggu mu, tapi Aku sudah tidak sabar untuk memilikimu, Sayang," jawab Rey. Moza tertawa kecil mendengarnya.
***
Dua hari kemudian...
Acara pertunangan Rey dan Moza sudah pasti di ketahui oleh awak media. Mereka mempertanyakan tentang gosip yang beredar tentang Richie dan Moza beberapa waktu lalu. Walaupun Richie sudah mengklarifikasi bahwa tidak ada hubungan yang spesial antara dirinya dan Moza, tapi media tak percaya begitu saja. Hingga saat ini heboh dengan Moza yang malah bertunangan dengan Rey.
Di sana juga ada Bintang dan Via yang hadir dalam pertunangan Rey dan Moza. Para wartawan menghampirinya dan mewawancarai seputar rumah tangganya.
Apalagi mereka melihat Er yang tampak begitu tampan. Bocah itu terlihat begitu tampan dan menggemaskan.
"Siapa nama putra Anda Tuan Bintang?" Beberapa wartawan mulai bertanya.
Bintang tersenyum dan memperkenalkan Er, putranya.
"Karel M Askara," jawab Bintang. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang mereka lontarkan kepada Bintang.
"Putra Anda sangat tampan, Tuan. Apakah Anda tidak berencana untuk menambah momongan lagi, Tuan?" tanya wartawan lainnya.
"Kami sudah merencanakannya. Dan saat ini istri ku tengah mengandung calon anak kedua kami," ucap Bintang.
"Wah, selamat Tuan. Semoga kalian selalu bahagia," ucap wartawan lagi.
Bintang tersenyum dan segera memasuki tempat acara dengan menggandeng tangan Via dan menggendong putranya.
__ADS_1
Sementara ada tamu lain yang membuat para wartawan itu langsung mengerumuninya. Dia adalah Richie. Ia membawa pasangan untuk datang ke acara pertunangan Moza dan Rey.
Richie mengajak Dea.
"Richie, siapa yang Kau ajak malam ini? Apakah kali ini Kau mengajak kekasihmu?"
Richie berusaha untuk melindungi Dea. Dia tidak menjawabnya dan hanya tersenyum kepada wartawan itu. Membuat para wartawan itu begitu penasaran dan terus mengejar Richie. Untungnya ada beberapa bodyguard yang menghalangi para wartawan itu. Hingga Richie dan Dea kini dapat masuk ke dalam acara tersebut.
"Selamat Rey, Moza. Semoga kalian selalu bahagia. Kami menunggu kalian mengundang kami ke pesta pernikahan kalian selanjutnya." ucap Via dengan tulus.
"Terimakasih, Vi." ucap Moza dan Rey tersenyum.
"Uncle, aunty, Er mau punya adik bayi," celetuk Er.
"Sungguh? Selamat juga ya, untuk kalian," ucap keduanya. Mereka ikut bahagia mendengarnya.
"Uncle dan aunty kapan punya adik bayi juga?" tanya Er. Dan itu sukses membuat Rey dan Moza merona.
"Er...," panggil Via. Ia menaruh jari telunjuknya di bibirnya dan menggelengkan kepalanya.
"Oke Mam," ucap Er menunduk. Lalu Bintang dan Via segera membaur bersama tamu undangan lainnya.
"Hai Za, selamat ya, untuk pertunangan kalian. Aku berharap Kau selalu bahagia," ucap Richie.
Rey segera meraih pinggang Moza begitu posesif. "Tentu saja kami akan bahagia," jawab Rey. Moza terkikik geli melihat tingkah Rey. Lalu pandangannya teralihkan pada Dea di samping Richie.
"Aku sedang menunggu jawaban darinya," ucap Richie. Bola matanya melirik ke arah Dea.
"Jangan dengarkan dia, Kau tahu kan dia seperti apa," ucap Dea melepaskan genggaman tangan Richie. Dea segera melangkah dan membaur dengan tamu lainnya.
"Aku heran dengan kalian. Kalian berdua menolak ku, padahal banyak gadis yang mengejar ku." ucap Richie menggelengkan kepalanya. Ia pun mengikuti Dea.
"Lepaskan Aku, Rey. Apa Kau tidak malu memeluk ku seperti ini?" tanya Moza. Sedari tadi Rey terus saja memeluk pinggangnya.
"Kau calon istri Ku, mana mungkin Aku malu. Kau terlalu cantik malam ini, Sayang. Aku tidak ingin pria lain menatapmu," ucap Rey.
"Astaga, calon suami ku ternyata sangat posesif," gumamnya seraya memutar bola matanya.
***
Acara telah dimulai...
Keluarga besar Moza berdiri di depan tempat acara berlangsung. Mereka menyambut langsung tamu istimewa mereka.
__ADS_1
Rey dan keluarga besarnya berjalan menapaki sebuah karpet merah. Saat ini Rey di apit oleh kedua orang tuanya. Mereka melangkah dengan hati yang bahagia. Di belakang mereka ada keluarga besar Rey yang membawa seserahan di tangan masing-masing.
"Selamat malam Om," sapa Rey dengan ramah saat berdiri tepat di depan Papa Arya. Rey membungkukkan badannya, namun sebuah tangan menghentikannya dan memeluknya hangat. Papa Arya memeluk calon menantunya dengan perasaan haru. Pria di depannya ini yang nantinya akan membawa putrinya. Menggantikan dirinya untuk menjaga putrinya.
"Ku harap Kau akan membuatnya bahagia dan selalu menjaganya," bisik Papa Arya penuh haru.
"Pasti Om, Saya berjanji akan selalu menjaga dan mencintai Putri Om dengan segenap hati," jawab Rey penuh kepastian. Beliau mulai melepaskan pelukannya.
Rey kemudian memberi salam kepada anggota keluarga Moza yang lainnya.
Kedua keluarga duduk berhadapan di meja yang sudah di persiapkan. Pembawa acara memulai acara dengan menyambut hangat seluruh keluarga besar Rey.
Salah satu keluarga besar Moza mulai bertanya kepada Rey. Dia adalah kakak sepupu Moza yang bernama Zayn.
"Kenapa Kau menyukai adikku?" tanyanya. Matanya menatap Rey.
Rey mengambil nafasnya, kemudian ia tersenyum. Ia menatap kearah Moza sekilas.
"Moza, adalah gadis yang mampu merubah pandangan ku tentang cinta. Dia adalah cinta, yang membuat ku sadar bahwa Moza adalah cinta yang sebenarnya dalam hidup ku. Dan Aku berharap dapat membawa kisah cinta ini menjadi abadi," ucap Rey begitu mantap.
Zayn mengangguk penuh haru atas jawaban Rey.
Kemudian Rey berdiri dari duduknya. Rey menatap Papa Arya dan Mama Zara. Mereka semua menatap ke arah Rey berdiri.
"Saya, meminta izin kepada Mama dan Papa untuk meminang Putri Mama dan Papa tercinta. Moza Atalia, untuk menjadi penyempurna hidup Saya," ujar Rey penuh ketulusan hati. "Saya berharap Papa dan Mama memberikan restu kepada Saya." Lanjutnya dengan suara yang sopan.
Mama Zara tersenyum dengan haru mendengar ucapan Rey. Kemudian ia meminta mike dari sang pembawa acara.
"Resya A Anggara. "Terimakasih untuk niat baik Ananda untuk meminang Putri tercinta kami. Putri kami satu-satunya...," Mama Zara tak dapat membendung tangisnya. Beliau menatap ke atas sebentar agar air matanya tidak terjatuh.
"Rey, Kau adalah pria yang Putri kami pilih untuk membimbingnya menjadi keluarga yang bahagia. Pria yang Putri kami pilih untuk membimbingnya menjadi seorang istri yang sesungguhnya." Air mata Mama akhirnya menetes. Lalu ia segera menghapusnya dan menahan rasa haru dalam hatinya.
Papa Arya mengusap lembut punggung Mama Zara.
"Putri kami satu-satunya, dia bahkan terkadang masih manja. Kami sempat kehilangannya ketika dia masih kecil. Dan sekarang kami berharap agar Kau yang senantiasa menjaga, mencintainya dan terus membuatnya bahagia," ucap Mama. Ia tidak dapat lagi membendung segala haru dalam hatinya. Air matanya luruh begitu saja.
Di sisi lain Moza yang berada di ruangan lainnya, menatap layar besar yang ada di depannya. Ia menangis terharu menyaksikan Apa yang terucap dari perundingan tersebut.
Rey begitu terharu, ia menundukkan kepalanya sejenak, menahan air matanya yang hendak menetes.
Suasana menjadi hening dengan suara isak tangis yang tertahan. Mama Azki menangis di pelukan suaminya. Beliau bahwa putranya akan menikahi gadis yang tepat. Menikahi gadis yang menyayangi keluarganya satu sama lainnya.
Beberapa saat kemudian... semua orang dapat menguasai rasa haru ini. Mama Zara kemudian kembali menatap Rey dengan senyuman.
__ADS_1
"Kami merestui mu untuk meminang Putri tercinta kami nak," ujar Mama bahagia.
***