
"Jadi, kenapa waktu itu Kau juga berbohong dan tidak mengatakan alasanmu yang sebenarnya? Seharusnya kita bicarakan semuanya tentang apa yang ada di hati kita waktu itu. Tapi kita sendiri yang membuat semuanya menjadi rumit. Walaupun begitu, Tuhan tetap menjodohkan kita. Tuhan membuat kita semakin dewasa dan membuat cinta kita begitu lebih kuat dari sebelumnya."
"Sayang, itu sudah berlalu, mulai sekarang kita akan memulainya dari awal lagi," ucap Via.
Bintang mengangguk, ia berhenti dan menurunkan Via dari gendongannya. Mereka kemudian duduk di atas pasir, menyaksikan ombak yang saling berkejaran.
Mereka begitu menikmati pemandangan malam yang begitu indah di depan mereka. Lalu setelah beberapa saat, Bintang mengajak Via untuk memasuki rumah. Udara malam sudah semakin dingin.
Malam ini, untuk pertama kalinya mereka menginap di istana yang ada di pinggir pantai.
"Sayang, bagaimana kalau kita pindah ke sini?" ucapnya seraya menyalakan suhu ruangan.
"Ini terlalu jauh dari kantor mu Sayang. Aku pasti akan lama menunggu mu pulang nanti, Kau juga akan berangkat lebih pagi dari biasanya. Bagaimana kalau kita kemari di akhir pekan saja? Aku yakin Er pasti akan sangat menyukainya."
"Keputusan ada di tangan Nyonya besar, sekarang tidurlah." Bintang mengecup kening istrinya dan membawanya menuju kasur dan memeluknya hangat. "Emm... Tunggu dulu, kita akan membuat adik untuk Er dulu," Bintang langsung menindih tubuh istrinya.
__ADS_1
"Aaah... Kau begitu nakal sekarang Tuan suami...." Via berteriak karena saat ini tangan Bintang dengan lincahnya menelusup kedalam piyamanya. Dan menggelitik leher istrinya dengan lidahnya yang begitu lincahnya.
Skip
Skip
(Author sedang berusaha untuk tidak menjadi author yang solehot dulu ya genks 😁)
***
Moza mulai menekan bel pintu sebuah apartemen yang ia yakini milik Resya. Entah mengapa ia merasa begitu gerogi saat ini. Namun ia tetap berusaha untuk bersikap tenang.
Rey berpikir tamunya adalah Mamanya, karena beberapa saat lalu Mama Zara mengatakan akan datang.
Rey terkejut, sementara Moza menelan ludahnya kasar. Lalu ia segera membalikkan badannya membelakangi Rey.
__ADS_1
"Moza, kenapa Kau disini? Maaf, Aku pikir Mama yang datang." Rey segera meraih bajunya dan segera memakainya. "Masuklah Za, kenapa Kau membalikkan badan mu? Apa Kau terpesona?" goda Rey.
"Pakai dulu bajumu. Ck, terserah Kau mau mengatakan apa, Aku hanya ingin mengantarkan cake yang Mama mu beli untukmu," ucap Moza, ia segera membalikkan badannya. Ia lega Rey telah mengenakan bajunya.
"Sepertinya mereka tidak akan berhenti sebelum keinginan mereka terwujud," ucap Resya. Ia kembali menutup pintu setelah Moza memasuki apartemennya.
"Dan pastinya mereka akan kecewa karena keinginan mereka tidak akan pernah terwujud," ucap Moza. Lalu ia meletakkan cake itu di atas meja, lalu ia mulai mencari letak dapur untuk mengambil piring.
Mendengar ucapan Moza membuat Rey terdiam. Ia menjadi semakin yakin bahwa Moza mungkin sudah move on darinya, dan mungkin saja saat ini telah memiliki seorang kekasih. Rey mendudukkan tubuhnya di meja makan, ia masih terdiam dengan pemikirannya.
Moza membawa piring dan menaruhnya di atas meja. Ia mulai memotong cake itu dan memberikannya kepada Rey.
"Makanlah, ini adalah cake kesukaan mu." Moza menyodorkan cake itu untuk Rey. Sementara Rey hanya diam dan terus menatap Moza. Lalu ia mulai memakan cake itu.
"Apa Kau saat ini sudah memiliki kekasih Za?" tanya Rey.
__ADS_1
Moza mengerutkan keningnya menatap Rey. "Hey kawan, itu adalah urusan pribadi ku. Dan Aku tidak akan mengatakannya padamu." ucap Moza diiringi tawanya.
***