
Pak Sholeh dan Anisa baru saja memasuki lobby rumah sakit. Di belakangnya nampak pasangan suami istri yang baru saja mereka temui di kantor polisi. Ya, pak Sholeh mengabulkan permintaan kedua orang tua Dimas untuk menemui Adinda.
Kini mereka sudah sampai di depan ruang rawat Dinda. Pak Lukman sudah mengetahui keadaan Dinda dari Anisa. Ia pun menunggu diluar bersama pak Sholeh, pak Joko dan juga Guntur. Sedangkan Bu Ambar masuk bersama Anisa. Bu Ambar yang melihat keadaan Dinda secara langsung tanpa sadar meneteskan air matanya. Perlahan didekatinya gadis yang duduk bersandar di bangsalnya itu. Luka-luka kecil dan memar di wajahnya, tak mengurangi aura kecantikannya. Kalau saja bukan putranya, ia pasti sudah mengutuk laki-laki itu. Laki-laki yang merenggut masa depan gadis di depannya itu.
Rasa bersalah menyusup ke dalam relung hati Bu Ambar. Rasa bersalah atas perbuatan putranya terhadap gadis di hadapannya. Air matanya tak henti-hentinya mengalir. Dengan hati-hati meraih tangan kecil depannya dan menggenggamnya sepenuh hati.
''Maaf'' lirihnya
Dinda yang mendengar permintaan maaf dari wanita di depannya pun menoleh.
"Anda siapa? kenapa minta maaf?"
Bu Ambar tak kuasa menjawab pertanyaan dari Dinda. Air matanya semakin deras membasahi pipinya. Ia pun menghambur memeluk Dinda sembari menggumamkan kata 'maaf' berkali-kali.
Di luar ruangan, terlihat dokter Hans dan seorang perawat berjalan ke arah ruangan Adinda. Dokter Hans yang melihat pak Lukman pun menyapanya.
"Dokter Lukman?" ucap dokter Hans tak percaya. "Anda benar dokter Lukman kan" lanjutnya.
__ADS_1
"Iya, betul sekali Hans" jawab pak Lukman menjulurkan tangannya.
"Senang bertemu dengan anda" balas dokter Hans menjabat tangan pak Lukman.
"Kamu yang bertanggung jawab pada pasien di ruangan ini?"
"Iya benar, apa dokter mengenalnya?" tanya dokter Hans penasaran.
"Ah, iya. Bagaimana kondisinya?"
Sejenak dokter Hans memandang pak Sholeh yang ia ketahui sebagai orang tua pasien. Pak Sholeh yang juga ingin mengetahui kondisi putrinya pun mengangguk mengetahui maksud dokter Hans yang meminta ijin darinya.
"Sampai kapan putri saya harus dirawat dok?" tanya pak Sholeh hati-hati.
"Sebenarnya sudah bisa kalau mau dibawa pulang. Tapi saya sarankan sekali lagi agar Dinda dibawa menemui psikiater untuk mengobati traumanya".
Setelah mendengarkan penjelasan panjang lebar dari dokter Hans, kini pak Sholeh, pak Lukman beserta istri-istrinya berada di kantin rumah sakit.
__ADS_1
"Kami akan membawa Dinda pulang sore ini" ucap pak Sholeh membuka pembicaraan.
"Maaf sebelumnya, apa tidak lebih baik kalau Dinda dirawat dulu. Dan juga, Dinda kan perlu bertemu psikiater" jawab pak Lukman memberi saran.
"Apa kalau bertemu psikiater bisa mengobati luka batin anak saya? apa kehormatannya bisa kembali?" sela bu Atikah penuh emosi.
"Bu, sudah" pak Sholeh menenangkan istrinya.
Bu Ambar yang sedari tadi diam pun membuka suara "ijinkan kami membantu pengobatan Dinda. Kami tau, ini semua tidak akan mengembalikan keadaan Dinda seperti semula. Tapi setidaknya terimalah bantuan kami sebagai ungkapan penyesalan dan permintaan maaf dari anak kami."
"Hhhhh,,,maaf? apa itu berguna saat ini?" sinis bu Atikah
"Buuu,,," kembali pak Sholeh mencoba menenangkan istrinya.
"Apa pak?! apa bapak masih bisa bersabar melihat keadaan Dinda? apa bapak masih bisa tenang membayangkan kehidupan yang akan dijalaninya? bagaimana nanti dia melanjutkan hidupnya, sekolahnya?! bagaimana dia menghadapi teman-temannya? bahkan berbicara dengan bapaknya sendiri saja tidak bisa. Bagaimana masa depannya, bagaimana nanti kalau dia dewasa? apa ada laki-laki yang mau menerimanya, menikahinya?! bagaimana kalau tidak ada? atau bahkan menyakitinya. Apa bapak bisa menerima semua itu?" ucap bu Atikah mengeluarkan segala pikiran yang mengganggunya.
"Kalau itu yang mengganggu pikiran bu Atikah, bagaimana kalau anak saya yang akan menikahi dan menerima Adinda sebagai istrinya?"
__ADS_1
Suasana hening seketika, ucapan bu Ambar membuat semuanya tak bisa berkata-kata.