
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Dinda baru saja mengganti pakaiannya dengan piyama warna merah marunnya. Sekeluarnya dari kamar mandi, ia duduk di depan meja riasnya dengan wajah yang nampak kesal. Setelah melakukan ritual malamnya, ia pun merebahkan tubuhnya diatas kasur meraih guling ke dalam pelukannya.
"Bisa-bisanya dia nggak datang di ulang tahun adiknya sendiri. Apa dia benar-benar melakukan niatnya itu?" gumam Dinda yang terdengar cukup keras sehingga terlihat seolah ia sedang berbicara sendiri di kamar.
"Niat macam apa itu? 'aku akan menjauh darimu jika itu yang kau inginkan' (seolah menirukan ucapan Dimas) Apa -apaan dia? Memangnya dia tau apa yang ku inginkan?. Hhaaaiisshhh,,, bikin orang kesel aja!!!" Dinda meremas guling yang dipeluknya.
Yah, kali ini Dimas tidak menghadiri acara makan malam untuk merayakan ulang tahun Talita. Dan hal itu membuat Dinda sangat kesal kepada Dimas. Terlebih itu adalah acara keluarga Dimas sendiri. Ia merasa tidak enak dengan mertua dan juga adik iparnya karena ia tidak mau dianggap sebagai penghalang berkumpulnya keluarga itu.
Ketidakhadiran Dimas kali ini entah kenapa membuat Dinda merasa marah. Terlebih setelah ia mendengar sendiri Dimas yang mengatakan akan menjauh darinya. Aaahhh,,, bukankah ia benar-benar terlihat seperti orang jahat? Setelah membuat Dimas hidup terpisah dari keluarganya, kini bahkan Dimas akan menjauh darinya dan itu artinya Dimas juga menjauhi keluarganya. Dan semua itu hanya karena kehadirannya di tengah-tengah keluarga Sanjaya. Semua orang seolah lebih mementingkan perasaan dan juga kenyamanannya. Walaupun itu artinya mereka harus kehilangan seorang anak dan juga kakak di keluarga itu.
"Apa aku yang terlalu egois?" gumamnya lirih setelah perdebatan batin yang dilaluinya.
Keesokan harinya, Dinda menuju dapur dengan masih mengenakan baju tidurnya. Seperti biasanya, ia akan membantu bik Narti untuk menyiapkan sarapan bagi keluarga itu.
Terlihat mama Ambar yang baru masuk dari pintu belakang.
"Kamu libur Din?"
"Iya ma"
"Mau ikut mama ke salon nggak? Nanti kamu bisa spa" tawar mama sembari mengambil botol jus dari dalam kulkas.
"Maaf ma, tapi nanti Maya udah janji mau ke sini"
"Oohh,,, gitu. Ntar malem kamu ikut ke acara Talita kan?"
"InsyaAllah ma"
"Ya udah kalau gitu, mama mandi dulu ya" ucap mama ambar dan berlalu menuju ke kamarnya.
Di apartemen Dimas.
Dimas sedang bersiap di dalam kamarnya. Ia merapikan kertas-kertas yang berserakan di atas meja dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya. Ia lalu menyahut jaket yang tadi sudah ia siapkan di atas tempat tidurnya dan berjalan ke luar kamar.
__ADS_1
"Sudah siap lo?" Tanya Niko menghentikan langkah Dimas.
"Haisshh,,, ngagetin aja lo! Gak punya sopan santun banget sih lo, masuk diem-diem gitu" rutuk Dimas.
"Yeee,,, lo aja kali yang gak denger salam gue"
"Udah ayok berangkat"
"Bentar napa sih Dim. Ini hari sabtu bro, waktunya libur. Nah ini malah kerja. Seenggaknya biarin gue ngopi dulu kek, pait nih mulut gue dari tadi belum sempet ngopi".
Dimas pun menghela napasnya kasar kemudian menjatuhkan dirinya di sofa yang berada tepat di belakangnya.
"Ya udah sana bikin kopi, sekalian bikinin gue juga" perintah Dimas.
"Siap bos!"
Niko pun melangkah menuju dapur dan membuat dua cangkir kopi hitam. Ia juga membuat dua buah sandwich ala kadarnya dan membawanya ke ruang tamu di mana terlihat Dimas sudah menunggunya sembari memainkan Hpnya.
"Kenapa mesti nelfon ke elo?"
"Ya karena dia susah ngehubungin Hp lo".
"Ntar juga ketemu kan?"
"Tau ah. Emangnya kado apaan sih? Istri lo ulang tahun?"
"Bukan. Adek gue"
"Terus, kenapa mesti dikirim? Biasanya kalo ada yang ulang tahun kan ngumpul lo sekeluarga" heran Niko.
"Semalem gue gak dateng".
"Kenapa emang? Kemaren lo kan udah pulang dari sore".
__ADS_1
"Gue gak mau Dinda pingsan lagi kalau ketemu gue" Dimas meraih kopinya.
Mendengar alasan Dimas, Niko pun menghela napas kasar.
"Dim,,, Dim,,, sampai kapan lo mau seperti ini terus? Lo tu nikah udah lama, dan lo juga cinta kan sama istri lo? Tapi lo masih aja ngehindar demi dia. Sumpah, lo tu ajaib banget bro. Salut banget gue ama lo" cerocos Niko.
"Trus gue mesti gimana Nik? Gue gak bisa ngeliat dia menderita setiap kali ngeliat gue. Tapi gue juga pengen ketemu dia kaya pasangan lainnya. Dan lo tau kan itu gak mungkin?" Ucap Dimas menunjukkan raut wajah yang putus asa.
"Lo gak mau nyari yang lain gitu?" Tanya Niko hati-hati.
"Sialan lo!!!"
"Sorry bro. Kali aja lo butuh hiburan. Gue yang ngeliat aja capek, gimana elo yang ngejalanin"
"Haisshhh,,," Dimas merapatkan giginya.
"Apa lo nggak mau coba nemuin dia? Kali aja dia udah lebih baik?"
"Nggak ah, gue bakal nemuin dia kalau emang dia udah siap. Dan dia sendiri yang minta".
"Yaaahhh,,, kapan ketemunya kalau gitu? Keburu diambil orang Dim".
"Heyyy,,, dia udah jadi istri gue. Lo lupa?" Geram Dimas melempar bantal sofa ke arah Niko.
"Ya elah kaya gak pernah muda aja lo. Istri lo itu masih muda bro. Dan lagi, dia lumayan cakep. Emang lo gak khawatir apa?"
"Darimana lo tau dia cakep?" Tanya Dimas menyelidik.
"Yaaahhh,,, pake nanya. Noh Hp lo liat. Dari wallpaper sampe isinya tuh penuh ma foto bini lo".
Dimas menyunggingkan senyumnya membenarkan ucapan Niko. Selama ini dia memang tidak pernah menghapus foto-foto Dinda yang diperolehnya melalui Talita. Ia merasa berada di sisi Dinda hanya dengan melihat foto-foto itu. Bagaimana tidak, Talita selalu mengiriminya foto-foto hasil kejahilannya dari Dinda yang memang sudah berpenampilan cantik sampai berantakannya Dinda saat bangun tidur pun Dimas punya semua fotonya.
Aaahhh,,, Talita jahil banget sih kamu.
__ADS_1