
Hari-hari berlalu, tanpa terasa sudah dua minggu sejak kejadian menginap yang membuat sepasang suami istri itu semakin menjauh. Dimas dengan alasan kesibukan pekerjaannya semakin menambah jarak di antara mereka. Tak ada lagi aktifitas mengantar jemput istri yang baru kemaren menjadi kebiasaan barunya. Hari-harinya ia habiskan hanya untuk bekerja dan bekerja.
Rindu? Sudah pasti ia rindu sekali dengan istri kecilnya itu. Baru saja ia merasakan kebersamaan singkat yang begitu membuatnya berbunga-bunga, kini ia harus merelakan kebahagiaan itu menguap begitu saja karena kesalahan yang dibuatnya. Setidaknya itulah yang berada di fikiran Dimas saat ini. Sikapnya yang begitu tak sabaran untuk memiliki Dinda membuatnya menelan pil pahit untuk menjauhi istrinya itu. Rasa bersalah dan malu semakin menciutkan nyali laki-laki itu untuk bertemu dengan pujaannya. Betapa tidak, ia sudah gagal mengendalikan nafsunya kepada gadis yang ternyata masih dilanda trauma karena perbuatannya. Hanya karena beberapa kali kesempatan yang diberikan Dinda, sudah membuatnya begitu percaya diri bahwa gadis itu akan menerima dan melupakan kejadian yang menimpanya.
Dinda sendiri lebih memilih fokus dengan kuliahnya. Dengan segala kesibukannya ia mencoba menepis rindu yang entah sejak kapan menyusup ke relung hatinya. Ia sendiri tentu tak akan berani menemui laki-laki yang ia sebut sebagai suami itu terlebih dulu. 'Mungkin ia marah' begitu pikirnya saat Dimas mulai menjauhinya. Ya, kejadian malam itu selalu saja berputar di kepalanya. Dinda yang begitu yakin sudah terbebas dari traumanya, malam itu harus kembali teringat dengan peristiwa menyakitkan yang pernah dialaminya. Ingin sekali ia mengucap 'maaf' untuk sekedar mengurangi rasa bersalahnya karena sudah menolak pria yang sah-sah saja jika menginginkannya.
Kerenggangan hubungan di antara keduanya tentu saja mengundang tanya pada orang-orang di sekitarnya. Pak Lukman dan bu Ambar sendiri sudah pernah menanyakan langsung kepada Dimas. Dan 'sibuk' menjadi satu-satunya alasan yang bisa diucapkan putranya itu. Pak Lukman pun tak berniat mengorek lebih jauh masalah di antara anak dan menantunya itu. Ia yakin keduanya mempunyai cara tersendiri untuk menyelesaikan masalah keluarga mereka.
Sabtu pagi, Dinda sedang bersiap untuk pulang ke kampung halamannya. Ini adalah pertama kalinya Dinda pulang ke rumah orang tuanya setelah ia pindah ke rumah keluarga Sanjaya. Kepulangannya kali ini adalah untuk menghadiri acara lamaran kakak perempuannya.
"Belum selesai Din?" Tanya mama Ambar yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Udah kok ma. Nih mau turun" jawab Dinda masih duduk di depan meja riasnya.
"Kamu beneran mau pulang sendiri? Mama bisa kok nemenin kamu" mama mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur di belakang Dinda.
"Terima kasih ma, tapi besok sore kan mama mau ikut papa ke Singapura. Kasian mama kalau mesti bolak balik nanti"
__ADS_1
"Iya sih Din. Tapi kamu yakin bisa berangkat sendiri? Atau mama suruh Dimas buat temenin kamu?"
"Nggak usah ma. Mas Dim juga kan sibuk" tolak Dinda sembari memutar tubuhnya menghadap mama Ambar.
"Din, mama tau kalian sedang ada masalah. Tapi jangan lama-lama ya nak marahannya. Hubungan kalian baru aja membaik" ucap mama sendu.
"Iya ma, mas Dim cuma lagi sibuk aja kok" elak Dinda. "Ayuk ma kita turun. Pak Samsul pasti udah nunggu".
Dinda menggandeng tangan mertuanya dan berjalan bersama menuju mobil yang sudah sedari tadi menunggunya. Tak tega menantunya berangkat sendiri, akhirnya mama Ambar pun mengantar Dinda sampai ke bandara.
Siang harinya, Dinda sudah berada di rumah orang tuanya. Akhirnya setelah sekian lama ia bisa merasakan kembali kebersamaan dengan keluarganya. Suasana yang begitu hangat, sejenak membuatnya terlupa dengan Dimas.
"Sudah-sudah, kalian ini kalau lagi ngumpul gini kebiasaan" ucap bu Atikah melihat kedua putrinya yang sedang menggelitiki Alfian. "Sudah malam ini, nanti ganggu tetangga".
Anisa pun menghentikan kejahilannya dan duduk di samping ibunya. Sedangkan Adinda, gadis itu seolah belum puas mengganggu adik laki-lakinya itu. Hingga akhirnya Alfian berhasil kabur meninggalkan Adinda yang masih ngos-ngosan karena ulahnya sendiri.
"Oh iya Din, bapak sampai lupa kalau bapak punya mantu. Dimas kenapa nggak ikut kamu pulang? Ibumu bilang hubungan kalian sudah membaik" tanya pak Sholeh yang seketika membuat Dinda terdiam.
__ADS_1
"Kalian baik-baik saja kan Din? Kemarin ibuk telfon katanya dia mau dateng" Timpal bu Atikah yang tentu saja mengejutkan Dinda.
Ibuk telfonan sama mas Dim? Bilang bisa datang lagi. Aduhhh,,, kalau ibuk tau mas Dim marah sama Dinda bisa habis aku.
"Ah, iya buk. Mas Dim kan sibuk kerja. Belakangan ini juga dia sering ke luar kota" jawab Dinda sekenanya.
"Besok kan minggu Din, masa masih kerja juga" ucap bu Atikah yang hanya dibalas senyum canggung oleh Dinda.
"Nanti pas acara dia bisa datang kan dek?" Sambung Anisa.
"Kayaknya sih nggak bisa kak. Nanti aja kalau pas pernikahan" jawab Dinda asal.
Dinda memang tidak memberitahu Dimas soal kepulangannya kali ini. Di fikirannya Dimas masih marah padanya karena dua minggu ini Dimas jarang menghubunginya. Bahkan bisa dibilang mereka tidak pernah saling berhubungan. Terakhir Dimas mengirim pesan pada Dinda saat memberitahunya akan ke luar kota sehingga tidak bisa mengantar jemput Dinda seperti biasanya. Ah, andai saja mereka jujur dengan perasaan masing-masing.
Jam sudah menunjuk pukul sepuluh malam. Di ruang tengah hanya meninggalkan Dinda yang masih setia menemani ibunya menonton acara kesukaannya. Sedangkan Dinda, sedari tadi ia disibukkan dengan chat dari Dian dan Nina yang begitu antusias ingin bertemu mengetahui sahabatnya itu sedang pulang kampung. Dan merekapun sudah membuat janji untuk bertemu besok.
Suara ketukan pintu menghentikan aktifitas Dinda memainkan hpnya. Melihat ibunya yang masih fokus dengan layar tv, ia pun berdiri melangkahkan kakinya untuk membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek