Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Awal Yang Baik


__ADS_3

Di tengah cercaan pertanyaan yang mengarah padanya. Dimas hanya tersenyum menatap Dinda yang sedang menikmati sarapannya. Mama Ambar yang tak mendapat jawaban dari pertanyaannya pun memukul kesal bahu Dimas yang kini duduk di sampingnya.


Plakkk,,,


"Ditanya orang tua bukannya dijawab dulu!"


"Awwhh,,, apaan sih ma? Dimas jatuh kemaren" jawab Dimas berbohong.


"Kamu kira mama anak kecil bisa kamu bohongi seperti itu? Kamu bikin ulah lagi?"


"Nggak, beneran Dimas jatuh. Nggak percaya amat sih ama anak sendiri".


"Sudah lah ma, kali aja Dimas baru dapat hukumannya" sela pak Lukman melirik ke arah Dinda.


Mama Ambar pun menatap Dimas dan Dinda bergantian. Begitu juga dengan Talita yang merasa aneh dengan situasi pagi itu. Dimas sarapan bersama mereka dan Dinda nampak biasa saja tak menunjukkan keanehan seperti biasanya.


Dinda yang merasa diperhatikan pun menyelesaikan sarapannya lebih dulu.


"Kak Dinda berangkat sama pak Samsul ya, Lita udah nggak ngampus mulai hari ini" ucap Talita yang melihat Dinda sudah bersiap-siap.


"Udah mulai KKN nya?"


"Iya, ntar siang Lita berangkat"


"Ya, udah. Sukses ya Lit" Dinda berdiri dari kursinya.


"Biar aku aja yang antar" ucap Dimas tiba-tiba dan tentu saja membuat semua orang menatapnya heran.


Dinda hanya diam tak menanggapi. Ia melanjutkan langkahnya berpamitan dengan mencium tangan kedua mertuanya.


Melihat Dinda yang diam seperti itu, Dimas pun berdiri menyunggingkan senyumnya.


"Tunggu, biar aku ambil kunci dulu" Dimas pun melesat meninggalkan meja makan. Membuat ketiga orang yang masih duduk itu termangu menatap heran kepada pasangan itu.


Untuk ke dua kalinya Dimas dan Dinda berada dalam satu mobil. Bedanya kali ini Dinda memberanikan dirinya duduk di depan di samping kemudi. Suasana hening ditambah lagi kemacetan membuat perjalanan pagi itu serasa lebih panjang. Sesekali Dimas melirik ke arah spion memperhatikan Dinda yang masih menatap keluar kaca.


"Apa masih sakit?" Tanya Dinda tanpa menengok ke arah Dimas.


"Eh,,, enggak kok" jawab Dimas kaget.


Hening lagi


"Kamu udah nggak papa?" Tanya Dimas lagi.

__ADS_1


Dinda diam tak menyahuti.


Dimas pun teringat saat Dinda menangis kemarin. Ia mengeluarkan semua uneg-uneg yang mengganggu pikirannya. Sebenarnya Dimas senang mendengarnya, bahkan hampir saja ia kelepasan tertawa melihat tingkah konyol Dinda. Sedikit banyak ia mulai memahami gadis itu selama ini tidak menyukai perlakuannya. Ya aneh memang, padahal Dimas melakukan semua itu demi dirinya, tapi perlakuannya diartikan lain oleh Dinda. Bahkan gadis itu juga tidak menyukai setiap kali ia menanyakan keadaannya. Dibilang sok baik katanya? Aahhhh,,, Dinda, perhatian tulus gitu kamu bilang sok baik.


"Kamu nggak papa berangkat kuliah seperti itu?" Tanya Dimas pantang menyerah.


"Kenapa?"


Akhirnya dijawab juga.


"Mata kamu bengkak gitu. Tuh liat" Dimas mengarahkan spion ke arah Dinda.


Aduhhh,,, kenapa belum ilang juga sih.


"Kamu kuliah jam berapa?"


"Sembilan"


"Masih satu jam lebih, kamu bisa kompres dulu mata kamu sama es"


"Ntar aja di kantin"


"Ya udah kalau gitu"


Dimas melajukan mobilnya membelah kemacetan ibu kota. Setengah jam kemudian sampailah ia depan kampus tempat Dinda menuntut ilmu.


Dinda masih diam tak menyahut. Tapi di dalam hatinya gadis itu merasa sungguh sangat lega pagi ini. Seolah baru saja ia membuang jauh beban yang menghimpitnya. Rasa sesak saat bertemu Dimas pun berangsur berkurang. Yah, bahkan barusan ia sudah berkomunikasi dengannya bukan?


"Din, terima kasih untuk kesempatan ini"


Dinda membuka pintu dan menurunkan satu kakinya.


"Nanti pulang aku jemput" ucap Dimas cepat.


"Emm" Dinda mengangguk mengiyakan kemudian benar-benar keluar mobil dan berjalan meninggalkan Dimas.


Dimas melajukan mobilnya ke apartemen. Di sana sudah ada Niko yang menunggunya sedari pagi.


"Selamat pagi bos" sapa Niko mengagetkan Dimas yang baru saja masuk.


"Ngapain sih lo Nik, ngagetin aja pagi-pagi"


"Eehhh,,, kenapa tu muka? Lo berantem Dim?"

__ADS_1


"Mo tau aja!"


"Ehhh,,, seriusan. Ma siapa? Kok lo bisa kalah sih. Lo lupa caranya berantem?" Niko mendekat memperhatikan wajah Dimas. "Waaah,,, parah. Lo dikeroyok ya? Sampe babak belur kaya gitu".


"Ck,,, apaan sih. Gue abis jatoh. Puas lo?"


"Yeee,,, Niko ini" Niko menekankan suaranya. "Masa iya lo bohongin sih. Kenapa lo?".


Dimas pun tak bisa mengelak dari desakan Niko. Ia pun duduk di sofa dan menceritakan perihal pertemuannya dengan Dinda. Termasuk penyebab memar pada wajahnya.


"Hua,,, haa,,, haaa,,, kok lo gak ngajak gue sih. Gue kan bisa rekam kejadian langka itu. Ha,,haha,,,," Niko tertawa sembari memegangi perutnya.


"Sialan lo! Tapi gue seneng Nik. Seenggaknya hubungan gue sama Dinda udah lebih baik".


"Ya,, ya,,, mungkin selama ini dia benar-benar marah sama perbuatan lo. Dipikir lo itu samsak kali ya".


"Anggep aja ini memang hukuman buat gue".


"Iya juga sih. Oh iya,,, jam berapa ini? Kita kan mau mengunjungi proyek di kota sebelah, lupa lo?"


"Lo aja deh. Gue percaya ama lo"


"Tumben lo, udah mulai males kerja sekarang?"


"Lo liat muka gue. Lagian ntar siang udah janji mau jemput Dinda" ucap Dimas sembari mengangkat kedua alisnya.


"Songong lo. Mentang-mentang udah baikan"


"Semoga aja kali ini Dinda benar-benar maafin gue" Dimas penuh harap.


"Semoga aja. Gue udah bosen ngeliat tampang dingin lo".


Siang hari di kampus.


Dinda baru saja menyelesaikan mata kuliahnya. Seperti biasanya, ia dan Maya berada di kantin untuk makan siang.


"Lo beneran udah maafin Dimas Din?" Tanya Maya.


"Belum tau May. Tapi setelah kejadian kemaren aku berasa udah lega sih. Ketemu dia juga udah nggak setakut kaya kemaren-kemaren".


"Tau begini kamu pukulin aja dia dari dulu".


"Iihhh,,, kamu nih. Ketemu aja gemeter kaya gitu, gimana bisa mukulin orang?"

__ADS_1


"Trus kemaren gimana ceritanya kamu bisa mukulin dia sampe babak belur kaya gitu? Nyesel aku nggak liat langsung".


"Suruh siapa punya ide konyol ninggalin aku sendiri. Nyesel kan kamu?"


__ADS_2