Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Julid


__ADS_3

Dinda baru saja selesai membersihkan diri sepulang dari acara lamaran Maya. Sedangkan Dimas, laki-laki itu masih terlihat sibuk dengan hp yang sejak tadi menempel di telinganya. Melihat istrinya yang memasuki kamar, Dimaspun menutup telfonnya kemudian beralih pada Dinda yang sedang menyisir rambutnya di depan meja rias.


"Kayaknya besok mas harus pulang deh Din" ucap Dimas sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Dinda gimana?" Gadis itu berbalik menatap suaminya.


"Kamu mau pulang bareng mas atau masih mau di sini?"


"Emang harus banget ya mas pulang besok?" Gadis itu tau suaminya itu harus mengurus pekerjaannya yang sudah ditinggalkan hampir seminggu lamanya.


"Iya, ada sedikit masalah di kantor. Kalau kamu masih mau liburan di sini nggak papa. Minggu depan mas jemput"


"Mas sendiri maunya gimana?"


"Hemmm?" Dimas mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Mas Dim maunya Dinda pulang bareng mas apa nggak?" jelas Dinda.


Laki-laki itu tersenyum mengerti. Ia menjulurkan tangannya meraih tangan Dinda dan mengarahkan gadis itu untuk duduk di pangkuannya.


"Kamu tanya sama aku?" Dimas meletakkan dagunya pada pundak Dinda dan melingkarkan kedua tangannya pada perut gadis itu.


"Iyalah sama siapa lagi?"


"Kalau aku sih mau sama kamu terus. Tapi kalau kamu masih pengen di sini nggak papa. Asal kamu seneng ajalah pokoknya".


"Iiiihhhh,,, baik banget sih suami akuuuhhh" Dinda menengokkan kepalanya dan mencium pipi Dimas. "Eeemmmmuuahhhh,,,"


Dimas tersenyum dan membalas dengan mencium ceruk leher istrinya. "Kamu bahagia kan nikah sama aku?" Tanya Dimas serius.


"Bangettt" masih dipangkuan Dimas, gadis itu memutar tubuhnya dan memeluk Dimas erat. "Terima kasih masku sayang. Sayang kamu banyak-banyak pokoknya".


Dimas terkekeh mendapati istrinya yang bermanja seperti itu. Rona bahagia nampak jelas terpancar dari wajahnya.


"Ya udah, mandi dulu gih. Biar aku beres-beres dulu, besok kita pulang" ucap Dinda melepaskan pelukannya.

__ADS_1


"Kamu ikut mas?"


"Iyalah, ntar kamu selingkuh lagi kalau jauh dari aku".


"Ehhh,,, ehhh,,, ngomong apa itu. Nggak baik tau. Siniin bibirnya biar mas kasih pelajaran dulu"


"Hehehe,,, bercanda"


Dinda beranjak dari pangkuan Dimas. Namun dengan sigap tangan laki-laki itu menarik tengkuknya dan menyapu bibir gadis itu. Cukup lama sampai Dinda mendorong dada Dimas hingga menjauh.


"Nggak bisa napas mas!" ucap Dinda terengah-engah yang hanya dibalas senyuman oleh Dimas.


Tak dapat dipungkiri, kebahagiaan nyata terpancar dari pasangan suami istri itu. Terlepas dari pertemuan yang tak layak untuk diingat, kedua orang itu mampu menepis rasa yang tak mengenakkan itu dan meleburnya menjadi perasaan cinta yang mendalam. Rasa saling ingin membahagiakan dan takut kehilangan semakin menyeruak ke dalam relung hati masing-masing.


Sementara itu, di rumah Maya masih nampak ramai dengan keluarga yang masih berkumpul di ruang keluarga. Seperti biasa, semua barang seserahan yang didapat akan dibiarkan terlebih dahulu agar semua anggota keluarga dapat melihatnya. Dan hal itulah yang tak ia sukai dari tradisi keluarganya. Karena tante-tantenya yang julid itu pasti akan mencari celah untuk membandingkannya dengan saudara-saudara yang lain.


Beberapa ibu-ibu yang tak lain adalah bude dan juga tante dari Maya, terlihat antusias membantu membuka semua barang seserahan yang dibawa oleh keluarga Niko.


"Calon kamu orang kaya May?" Ucap salah satu wanita dengan gamis warna kunyit.


"Biasa aja budhe" jawab Maya santai.


"Iya, mana baju-baju ini semua bermerek lagi. Katanya calon kamu cuma karyawan biasa. Kok bisa sih kasih barang-barang semahal ini?". Timpal ibu-ibu yang lebih gemuk.


"Santi saja yang dilamar sama pengusaha tahu nggak semahal ini seserahannya" ucap gamis kunyit mengingat saat lamaran anaknya. "Tapi saya bangga, biar sedikit tapi kan hasil usaha menantu saya sendiri".


"Iya mbak. Bagaimanapun laki-laki itu harus mandiri. Masa mau ngelamar harus ngrepotin orang tua. Udah nggak jaman sekarang. Beruntung Santi dapat Agus anak pengusaha tahu yang lumayan besar. Pasti masa depannya terjamin".


Iya terjamin. Dijamin bakal makan tahu terus tuh si Santi.


"Kamu itu ya May, jangan suka memberatkan calon suamimu. Kan kasihan kalau untuk membeli seserahan ini dia harus minta bantuan orang tuanya. Lebih kasihan lagi kalau harus ngutang demi terlihat 'wah' di mata kamu. Berapa sih gaji karyawan? Pasti nggak banyakkan?".


Nggak banyak memang. Cuma beberapa kali lipat dari gaji PNS. Huhhh,,, nggak tau aja kalian kalau mas Niko itu wakil Direktur.


Maya yang terlihat sibuk dengan hpnya, tak sedikitpun menanggapi obrolan tak penting itu. Sudah menjadi hal biasa jika saudara-saudara ibunya itu merendahkan keluarganya. Bagi mereka, pekerjaan sang ayah yang merupakan seorang pegawai pabrik selalu saja dipandang sebelah mata. Tidak seperti mereka yang memiliki suami PNS.

__ADS_1


Padahal jika diperhatikan, tak ada bedanya antara ayahnya yang seorang pegawai pabrik dan paman-pamannya yang seorang PNS. Mereka sama-sama berkecukupan, punya rumah sendiri dan bahkan sang ayah pun mampu-mampu saja menguliahkannya di Universitas pilihannya tanpa mengeluh kesulitan biaya. Ahhh,,, susah memang merubah pandangan seseorang yang percaya jika pegawai negeri pasti lebih kaya dari pegawai swasta.


"Dimakan dulu itu kuenya mbak, sayang kan dianggurin" ucap bu Siti menyela obrolan kakak-kakaknya.


"Oh iya Ti, nanti resepsinya rencananya di mana? Sebulan itu singkat lho kalau buat nyiapin acara resepsi. Mesti pesen ini, pesen itu" Ucap budhe gamis kunyit.


"Kalau soal resepsi, saya nggak ikut campur mbak. Maya bilang, dia sama Niko yang ngurus" ucap bu Siti sembari melirik Maya yang tak berpaling sedikitpun dari hpnya.


"Lhooohhh,,, kok gitu. Ini mantu pertama kamu lho. Kalau bisa ya buat yang berkesan gitu. Dulu, Santi saja resepsinya di balai desa biar bisa ngundang tamu banyak. Terus ada hiburan orkes dangdutnya juga. Tapi ya gitu, semua butuh biaya yang nggak sedikit tentunya".


Hallahhh,,, resepsi di balai desa aja bangga.


Maya menghela nafasnya mendengar obrolan para emak-emak itu. Saudara sih, tapi kalau urusan julid berasa jadi musuh. Bantuin enggak, komen mulu kerjaannya.


"Tau tuh mbak anak-anak. Kita orang tua ngikut ajalah" jawab bu Siti tenang.


"Iya sih Ti, tapi jangan sampai nanti karena nurutin maunya anak-anak kamu jadi nanggung utang banyak setelah mantu. Semampu kamu ajalah".


Maya yang mulai tak nyaman dengan ucapan budhenya itupun mengalihkan pandangan dari hpnya. Menatap ke arah budhe dan ibunya bergantian.


"Budhe tenang aja. Nanti resepsinya seratus persen ditanggung sama keluarga mas Niko kok" ucapnya dengan nada sombong.


"Maksud kamu? Acaranya di rumahnya gitu?" Tanya budhe gendut.


"Bukan, nanti acaranya di sini. Di hotel X"


Ketiga wanita yang berada di ruangan itupun terkejut dibuatnya. Kecuali bu Siti tentunya.


"Serius May? Itu hotel mahal lho"


"Serius dong budhe. Ya gimana lagi, itu mas Niko sama keluarganya yang pilih. Toh mahalpun kita nggak perlu bayar karena semua acara resepsi ditanggung sama mas Niko. Oh iya, nanti juga ada hiburan dangdutnya juga lho. Tapi biduannya beda sama yang di pernikahan Santi. Masa iya acara di hotel mewah pake biduan biasa aja".


"Emang siapa biduannya?"


"Ayu Ting-Ting"

__ADS_1


Seketika para wanita paruh baya itupun bungkam dengan segala keterkejutannya.


Naaahhh,,, kan. Keluar, keluar deh tuh biji mata. Mangap aja sampe masuk angin. Kaya an calon suami aku kan dari si Agus itu. Huhhh,,, seneng banget deh ngeliat budhe-budheku diem gini.


__ADS_2