
"Maksud kamu?"
"Apa kamu juga sudah menerima Dimas sebagai suamimu?"
Dinda terdiam mendengar pertanyaan Maya. Selama ini Dinda memang tak menyangkal pernikahannya dengan Dimas. Tapi menerima Dimas sebagai suaminya, sudahkah ia menerimanya? Aaahhhh,,, ia sendiri tak tau jawabannya. Yang pasti sejak pertemuan terakhirnya dengan Dimas, ia menjadi lebih penasaran dengan laki-laki itu. Laki-laki yang katanya sudah berubah semenjak berstatus sebagai suaminya. Dan ia semakin penasaran dengan seberapa banyak perubahan laki-laki itu sehingga keluarganya sendiri seolah begitu berterimakasih padanya.
"Entahlah May" jawab Dinda yang semakin membuat Maya heran. "Kenapa?" Tanya Dinda lagi saat melihat Maya sedang menatapnya heran.
"Kamu sekarang beda Din. Kemaren-kemaren kalau ditanya tentang Dimas jawaban kamu selalu cuek, kaya gak peduli gitu. Sekarang kamu kaya bingung ma perasaan kamu sendiri tau nggak?"
"Masa sih?"
"Dinda, kamu serius kan mau sembuh?" Tanya Maya lembut.
"Emm" Dinda mengangguk.
"Kamu kenapa gak coba lebih dekat sama Dimas?"
"Ehh,,, maksud kamu?"
"Kamu sadar gak sih, selama ini kalian tuh saling menghindar? Yang satu takut tersakiti, satunya lagi takut menyakiti. Mungkin hal itu juga yang menyebabkan trauma kamu sama dia gak kunjung sembuh. Ya karena kamu memang sama sekali nggak pernah mencoba untuk lebih mengenalnya. Ketakutan kamu itu yang mengalahkan kepercayaanmu padanya".
"Ngomong apaan sih May?"
"Ck, kamu ini. Hhhh,,, gimana sih jelasinnya" ucap Maya mulai kesal. "Gini ya Din, coba deh kamu jangan ngehindar terus dari Dimas. Atau kamu coba ngobrol gitu sama dia".
"Ngaco kamu. Kamu lihat sendiri kan baru ketemu aja tadi gemeter kaya gitu. Gimana bisa ngobrol?"
"Makanya itu, biasain! Kamu inget kan apa yang psikiater kamu bilang? Kesembuhan kamu itu tergantung dari kamu juga. Kalau kamu gak serius gimana mau sembuh coba. Kamu nekat aja dulu. Kalau nanti pingsan lagi kan ada Dimas yang ngangkat. Hehehe,,,"
"Haiiisshhh,,, kamu ini. Tapi kamu ada benernya juga sih May. Mungkin dengan lebih mengenalnya bisa menghilangkan rasa takutku padanya".
"Naahhh,,, gitu dong" ucap Maya senang.
Dinda memang tidak pernah terlalu serius mengatasi traumanya kepada Dimas. Baginya, asal dia bisa kembali hidup normal dengan bisa kuliah dan juga bersosialisasi saja sudah merupakan kesembuhan baginya. Tapi nyatanya pemikiran sederhananya itulah yang membuat traumanya tak kunjung sembuh. Semakin ia menghindari Dimas, semakin sulit pula ia melupakan kejadian itu.
__ADS_1
Di ruangan lain, Dimas sedang menyeruput kopinya di temani Niko dan juga Devan.
"Lo gak mau nyamperin dia Dim?" Tanya Niko.
"Nggak, lo gak liat dia lagi sama temennya?"
"Emang kenapa? Temennya juga pasti tau kan kalau lo itu suaminya?" Devan.
"Gue gak mau ngerusak kesenangannya. Lo liat kan tadi, dia ketakutan gitu?"
"Hhhhh,,, Dim,,,Dim. Gue kasian ama lo. Punya istri, tapi nasib gak kalah ma gue yang jomblo" ratap Niko mengejek Dimas.
"Beda lah Nik, Dimas udah punya status. Nah lo? cewek sih banyak, tapi status jomblo mulu dari dulu" balas Devan.
"Yeee,,, jomblo juga status Van. Lo sendiri gimana? Pacaran udah lama gak lo iket-iket tuh si Sheryl. Lepas nyahok lo!"
"Haisshhh,,, dasar temen laknat lo!" kesal Devan melempar Niko dengan irisan jeruk di minumannya.
"Ehem,,, ehem,,, permisi" seseorang mengalihkan perhatian mereka.
"Alex" ucap Mereka bersamaan.
"Boleh masuk?" ucap laki-laki yang di panggil Alex itu. Tanpa menunggu jawaban dari dalam, ia pun melangkah masuk dan mendudukkan dirinya di sofa single yang masih kosong.
"Ngapain lo di sini?" Tanya Niko sinis.
"Cuma mau ngobrol ama Dimas".
"Haissshh,,, gak sopan banget ama yang lebih tua" sambar Niko kesal.
"Oohhh,,, udah tua sekarang? Apa itu sebabnya lo berhenti ke arena?"
"Mau lo apa sih lex?" Sahut Devan.
"Masih sama. Gue cuma mau balapan ama Dimas".
__ADS_1
"Gue udah berhenti balapan" jawab Dimas datar.
"Ohhh,,, ya? Apa lo takut kalah dari gue?" Alex memprovokasi.
"Udah lah Lex. Segitu penasarannya lo sama Dimas. Dia udah berhenti, lo tau kan artinya berhenti?" Devan
"Ohhh,,, ya? Apa itu juga berlaku jika taruhannya besar?"
"Ciiihhh,,, anak kemaren sore ngomong taruhan. Punya duit berapa lo?" Ucap Niko yang sepertinya membuat Alex kesal. Terlihat dari raut muka Alex yang menegang dan mengepalkan tangannya.
"Ok,,, bagaimana kalau taruhannya bukan uang?" ucap Alex meredam emosinya.
"Terus mau lo apa?"
"Motor?"
"Gue udah berhenti! Belum ngerti juga lo?" Suara Dimas pelan namun terdengar tegas karena ia pun menahan emosinya.
"Oke,,, hubungi gue kalau lo berubah pikiran". Alex berdiri dan melangkahkan kakinya. Kemudian menghentikan langkahnya saat hampir mencapai pintu. Ia membalikkan badannya melihat lagi ke arah Dimas. "Oh iya,,, istri lo cantik juga. Ati-ati banyak yang mau" lanjut Alex kemudian melenggang begitu saja meninggalkan Dimas yang wajahnya sudah memerah menahan amarah.
"Heiiii,,,!!!" Teriak Dimas kepada Alex yang sudah menjauh.
"Dim!" Devan mencekal tangan Dimas yang sudah berdiri hendak mengejar Alex. "Tenang dulu".
"Dia kenal Dinda Van" ucap Dimas terlihat khawatir.
"Emang kenapa? Kita semua tau Alex. Dia gak bakalan membahayakan Dinda. Tenang ajalah. Duduk gih" ucap Devan menenangkan. Dimas pun menuruti Devan dengan duduk kembali di sofa yang ada di belakangnya.
"Kayaknya dia temen adik lo deh Dim" ucap Niko yang sedari tadi memperhatikan Alex dari sekat kaca yang transparan itu. Ia melihat Alex bergabung dengan rombongan Talita.
Dimas dan Devan pun segera mengikuti arah pandang Niko.
"Sialan!!!" Umpat Dimas masih memperhatikan Alex.
Dinda yang sudah mengakhiri sesi konsultasinya pun masuk bersama Maya. Ia memilih bergabung dengan rombongan Talita dan teman-temannya.
__ADS_1
Andra yang melihatnya pun dengan sigap menarik dua kursi untuk Dinda dan juga Maya. Mereka pun duduk berjajar dengan Andra di samping Dinda tentunya. Ia menengok sekilas ke arah Dimas dengan senyuman yang memprovokasi.