
Pesta telah usai. Pengantin perempuan pun sudah diboyong keluarga mempelai laki-laki menuju kediamannya. Sanak saudara dan tetangga pun berangsur meninggalkan rumah pak Sholeh. Kini hanya ada keluarga dekat dan juga sahabat Dinda yang masih berada di rumah pak Sholeh.
Di bawah tenda yang masih terlihat megah itu, para tetua keluarga masih terlihat asik bercengkrama. Sedangkan anak-anak dengan riangnya bermain di atas panggung pelaminan yang masih terlihat begitu cantik dengan bunga-bunga yang masih menghiasinya.
Ketiga sahabat Dinda yang memang sedari pagi sudah berada di rumah itupun bersiap untuk pulang. Mereka bertiga berpamitan dengan bu Atikah sang empunya hajat, yang terlihat memberikan tiga buah dus untuk dibawa pulang ketiga gadis itu. Selesai berpamitan dengan bu Atikah dan pak Sholeh, Maya, Dian dan Nina pun menghampiri Dinda yang terlihat masih menikmati makanannya bersama Dimas dan yang lainnya.
"Kita pulang dulu ya Din" Dian menepuk punggung Dinda yang duduk membelakanginya.
"Eh, kok buru-buru sih. Ntar aja kenapa, jarang-jarang kan rame kaya gini" Dinda berdiri dan memutar tubuhnya menghadap ketiga temannya.
"Udah sore Din, besok-besok kita kumpul lagi deh" sahut Nina.
"Ya udah, makasih ya gaesss" Dinda menatap ketiga sahabatnya bergantian. "Oh ya May, kamu pulang ntar aja biar dianter sama Alfian" lanjutnya saat melihat Maya. Karena setahu Dinda, gadis itu tidak membawa motornya.
"Aku bareng Nina kok Din" ucap Maya yang diangguki oleh Nina.
"Ya udah, hati-hati ya kalian"
Masing-masing dari mereka pun bersalaman dengan orang-orang yang juga duduk satu meja bersama Dinda. Tak terkecuali Niko. Laki-laki itu hanya diam saja saat Maya mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sampai-sampai Andra yang duduk di sampingnya harus menyenggolnya terlebih dahulu sebelum akhirnya ia menyambut uluran tangan itu.
"Kejar gih bang. Anterin sono" bisik Andra pada Niko saat Maya dan yang lainnya telah berjalan menjauh.
"Ck, apaan sih lo"
"Yaaahhhh,,, segitu doang dah nyerah" ledek Andra yang memang tau cerita Niko-Maya dari Talita. "Ayo sana, sekalian minta langsung ma bokapnya. Keren gak tuh usul gue?"
"Haiisshhh,,," Niko menatap kesal pada Andra. Bagaimanapun juga, dia memang tidak terlalu dekat dengan Andra. Bahkan sebelum ini bisa dibilang mereka adalah rival.
"Yaaahhh,,, dibilangin. Ayo cepetan sana, mumpung ada kesempatan. Kapan lagi coba lo mau nganterin dia sampe rumah"
Niko pun melihat ke arah Maya yang saat itu sedang menunggu Nina mengambil sepeda motornya. Pikirannya masih ragu antara mau menerima saran Andra atau mengabaikan saja gadis itu. Toh memang ia sudah ditolaknya kan. Tapi tak dipungkiri juga, perasaannya pada Maya masihlah sama. Rasa penasaran dan ingin memiliki gadis itu tak berkurang sedikitpun. Bahkan, semakin ia berusaha melupakannya, semakin besar rasa rindunya pada gadis itu.
"Kenapa lo?" Dimas menyenggol lengan Niko saat melihat laki-laki itu hanya terbengong dengan pandangan lurus ke depan.
__ADS_1
Niko pun menoleh ke arah Dimas dengan pandangan menelisik.
Bahkan Dinda yang benci banget sama Dimas aja bisa luluh karena Dimas yang pantang menyerah. Apa emang harus gue temuin orang tuanya. Tp kalau gue temuin orang tuanya itu tandanya gue serius dong. Tapi kalau nggak,,,,
"Aaahhhh,,, masa bodoh lah!" Umpat Niko tiba-tiba dan dengan tergesa beranjak meninggalkan tempat duduknya.
Dimas yang duduk disampingnya pun sampai heran dibuatnya. Sedangkan Andra hanya tersenyum mencibir melihat Niko yang sedikit berlari ke arah Maya.
"Aku antar pulang" ucap Niko begitu sampai di samping Maya, yang tentu saja mengejutkan gadis itu.
"Hah?"
"Biar aku antar kamu pulang" ulang Niko.
"Eh, makasih mas. Aku bareng Nina aja, tuh udah datang orangnya" nampak Nina yang sedang menaiki motor menuju ke arahnya.
"Yuk May" Nina menghentikan motornya di depan Maya.
"Eh, nggak! Aku bareng kamu aja Nin" Maya sudah melangkahkan kakinya hendak membonceng Nina. Namun langkahnya terhenti saat Niko menarik tangannya hingga gadis itu terpental kembali ke tempatnya semula.
Nina yang melihat tingkah kedua orang itupun mulai memahami situasi. "Ya, udah May. Aku duluan ya" ucapnya pada Maya. Kemudian tatapannya beralih kepada Niko yang masih mencengkeram lengan Maya. "Anterin beneran ya mas. Awas temenku kenapa-kenapa!" ancamnya diiringi senyum penuh arti kepada Maya.
Maya pun kesal dibuatnya. Terlebih melihat sahabatnya itu mulai menjalankan motornya meninggalkannya bersama Niko. "Eeehhh,,, Nin,,, nggak bisa gitu dong. Ninaaa,,," teriak Maya sembari berusaha melepaskan cengkeraman tangan Niko.
"Ck, mas Niko apa-apaan sih?" Kesal Maya.
"Ayo, mobilnya di sana" Niko menunjuk arah mobilnya dengan dagunya.
Tanpa menjawab lagi, Maya pun mengikuti Niko yang menarik tangannya menuju ke mobilnya yang terparkir di depan rumah tetangga Dinda. Laki-laki itu memang mengendarai mobil Dimas bersama Andra saat datang ke rumah Dinda. Semua itu atas perintah Dimas untuk mempermudah urusannya selama berada di rumah mertuanya.
-
Hari sudah mulai petang saat Niko mematikan mesin mobilnya. Ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan di depan rumah Maya karena gadis itu yang memintanya. Niat untuk menemui orang tua Maya pun ia urungkan. Bahkan untuk sekedar turun dari mobil saja ia tidak bisa karena Maya benar-benar melarangnya. Takut orang tuanya melihat katanya.
__ADS_1
"May,,," panggil Niko saat Maya hampir saja menurunkan kakinya dari mobil.
"Hmm?"
"Apa bener nggak ada rasa sedikitpun sama aku?"
Maya kembali menutup pintu dan menoleh ke arah Niko. "Apaan sih mas. Kita udah pernah bahas ini. Kita temenan aja ya".
"Aku nggak mau May. Aku udah terlanjur sayang sama kamu. Bagaimana bisa aku berteman sama kamu kalau perasaan ini bukanlah rasa yang dimiliki seorang teman?"
"Maaf mas" ucap Maya menundukkan kepalanya. Namun dengan segera ia menghela nafas dan kembali menatap Niko dengan ekspresi biasa. "Terima kasih sudah mengantar. Aku permisi" kemudian membuka pintu dan turun dari mobil tanpa memberi kesempatan pada Niko untuk menyahuti ucapannya.
Gadis itu berjalan dengan sedikit berlari memasuki pekarangan rumahnya. Ia sangat-sangat menghindari membicarakan tentang perasaan dengan Niko. Ia takut akan berubah pikiran jika Niko terus saja mengungkapkan perasaannya. Sedangkan dia sendiri belum ada kemantapan hati pada laki-laki itu.
Remaja lain seusianya mungkin akan dengan mudah untuk memulai suatu hubungan dengan istilah pacaran, tapi tidak demikian dengan Maya. Gadis itu terlalu takut untuk membuka hatinya pada seorang pria. Terlebih jika laki-laki itu adalah Niko, yang setahu dia adalah playboy. Karena selama mengenal Niko, laki-laki itu memiliki banyak sekali kenalan wanita yang kerap kali menyapa saat sedang bersamanya. Ahh, pendek sekali pikirannya.
-----
Sesampainya di dalam rumah, Maya sudah disambut dengan ayah, ibu dan juga dua adiknya yang sedang berkumpul di ruang keluarga.
"Baru selesai acaranya May?" Tanya ibu saat gadis itu mencium punggung tangannya bergantian dengan ayah.
"Iya buk. Maya langsung ke atas ya. Gerah" ucapnya memandangi tubuhnya yang masih berbalut kebaya.
"Iya"
"Kamu tadi pulang sama siapa?" Sahut ayah yang baru teringat jika Maya tidak membawa motornya.
"Temen yah"
*Tok,,, tok,,, tok,,,
"Assalamu'alaikum*"
__ADS_1