
Dimas menyeret langkahnya memasuki rumah keluarganya. Melewati ruang makan dimana orang tua dan juga istrinya sedang berkumpul di sana untuk makan malam. Tak ada sapaan apapun keluar dari mulutnya, ia hanya menoleh sekilas saat suara mamanya memanggil namanya. Tanpa menyahuti, laki-laki itu melanjutkan langkah menuju kamarnya di lantai dua.
"Kalian bertengkar?" Tanya mama Ambar menyadari keanehan sikap putranya.
"Enggak kok ma" jawab Dinda sambil beranjak dari kursinya. "Dinda susul mas Dim dulu ya ma?" Tanpa menunggu jawaban dari mertuanya, gadis itu sudah berbalik untuk menuju kamarnya.
Seharian ini Dimas hanya berdiam di apartemennya. Niko yang sedari pagi bersamanya pun hanya diam saja mendengarkan curhatan sahabatnya itu. Yah walaupun pada akhirnya curhat singkat itu berakhir saat Dimas mulai tertidur. Hingga sampai petang tadi, Niko baru berhasil membujuk sahabat dan juga bosnya itu pulang ke rumahnya.
Sedangkan Dinda sendiri mengurungkan niatnya untuk mengunjungi Dimas di apartemen atas permintaan dari Niko. Suami dari Maya itu mengatakan jika saat ini Dimas sedang disibukkan dengan urusan pekerjaannya. Dan Niko juga berjanji bahwa Dimas akan segera pulang setelah pekerjaan mereka selesai.
Memasuki kamar tidurnya, Dinda mengedarkan pandangannya mencari sosok suaminya. Mendengar gemericik air dari dalam kamar mandi, ia pun menyiapkan pakaian ganti untuk suaminya itu sembari menunggunya keluar.
Ceklek
Dinda masih saja duduk di sofa sembari memperhatikan Dimas yang sedang memakai pakaiannya.
"Mas" panggil Dinda mendekati Dimas yang sudah duduk di tepi ranjang. "Mas Dim mau makan dulu?"
"Nggak" jawab Dimas acuh.
"Mas Dim kenapa? Jangan kaya gini mas, Dinda nggak suka". Dinda mulai terisak. Ia pun mengambil duduk di samping suaminya.
"Kamu pasti kecewa sama aku kan? Kamu pasti mau ninggalin aku. Aku nggak sempurna Din" ucap Dimas tanpa menatap istrinya.
__ADS_1
"Mas jangan gitu. Dinda sayang sama mas Dim" Dinda memeluk pinggang laki-laki yang masih tak bergeming dari duduknya itu. "Kita masih bisa berusaha mas. Kalaupun kita ditakdirkan hanya berdua, Dinda ikhlas selama itu sama mas Dim" tangis Dinda sembari mengeratkan pelukannya. "Mas Dim jangan gini ya, kita jalani sama-sama".
"Mas sayang sama kamu Din, mas nggak bisa lihat kamu kecewa karena mas" lirih Dimas membalas pelukan istrinya. "Tapi mas juga nggak bisa kehilangan kamu. Mas cinta sama kamu" ucapnya terisak.
"Sssssttt,,, Dinda nggak akan kemana-mana kok. Dinda juga sayang sama mas Dim. Jangan tinggalin Dinda lagi ya. Kita jalani semuanya berdua. Hanya Dinda sama mas Dim". Ujar Dinda menenangkan.
Sesaat mereka terhanyut dalam pelukan yang mengharu biru. Perasaan takut dan kecewa yang menghantui serasa melebur dengan ungkapan rasa sayang yang membuncah dari keduanya. Rasa takut kehilangan pun membuat pasangan itu semakin terlarut dalam suasana. Tak ada yang sanggup melihat belahan jiwanya kecewa, namun tak ada pula yang rela untuk saling melepaskan.
Berjanji menjalani semua berdua, kedua insan yang terikat tali pernikahan itupun merajut asa berdua. Saling mencintai dan saling menguatkan. Dengan atau tanpa anak yang hadir diantaranya. Cukuplah itu menjadi urusan Tuhannya. Kita manusia cuma bisa berusaha bukan?.
Seusai makan malam yang terbilang sudah terlambat, Dimas bergabung dengan kedua orang tuanya yang masih bersantai di ruang keluarga. Sedang Dinda, gadis itu masih berada di ruang makan membereskan sisa-sisa makan malam dari suaminya.
"Kamu kemana aja dari kemaren? Kerja sampai lupa pulang. Ingat Dim kamu udah punya istri sekarang. Kasian kan dia nungguin kamu". Berondong mama begitu Dimas mendudukkan dirinya.
"Maaf ma, Dimas salah".
Dimas hanya menghela nafasnya mendengar pertanyaan dari papanya itu. "Ma, pa, Dimas mau ngomong sesuatu".
Kedua orang tua itu pun menatap Dimas serius. Tak biasa-biasanya putra sulungnya itu bersikap seperti itu. Terlebih untuk urusan perusahaan. Biasanya Dimas akan lebih senang menyelesaikan sendiri ketimbang membicarakannya dengan kedua orang tuanya. Terkecuali memang masalah itu tidak bisa ia atasi sendiri. Tentunya ia akan berkonsultasi dengan sang mama yang memang lebih berpengalaman darinya.
"Kenapa? Perusahaan baik-baik saja kan?" Sambar mama.
"Ini bukan masalah perusahaan ma. Ini tentang Dimas" ujarnya menatap sang mama. "Ma, pa, maaf, Dimas nggak bisa kasih kalian cucu".
__ADS_1
Mama yang tadinya duduk bersandar itu pun menegakkan tubuhnya, menajamkan pandangannya ke arah Dimas. Bahkan, pak Lukman pun menatap tajam anak laki-lakinya itu. Bukan marah, namun ia merasa ada hal penting yang akan disampaikan si putra sulung.
"Kamu ngomong apa?" Tanya mama memperjelas pendengarannya.
"Maaf ma, Dimas nggak bisa ngasih kalian cucu. Dan lagi, tolong jangan tuntut istri Dimas untuk segera hamil".
"Kamu tuh ngomong apa? Siapa juga yang nuntut istri kamu untuk segera hamil? Kami memang senang jika Dinda hamil, tapi kami nggak pernah menekannya untuk segera hamil". Protes papa. Laki-laki sepuh itu berpikir Dimas menyalahkannya karena ia lah yang lebih sering membahas soal cucu kepada Dinda.
"Dimas yang salah pa. Dimas nggak bakal bisa bikin Dinda hamil". Dimas menghela nafasnya, memberikan jeda pada dadanya yang terasa bergemuruh. Bagaimanapun ia harus jujur kepada orang tuanya. Demi kenyamanan istrinya. "Kemarin kami mengambil hasil tes kesuburan dari dokter Harry. Dan hasilnya, Dimas tidak subur. Bahkan bisa dibilang tidak bisa menghamili Dinda". Dimas tertunduk, laki-laki itu menyembunyikan matanya yang mulai basah karena air mata.
"Dimas" lirih mama. Ia pun mendekat dan memeluk putra sulungnya itu. Seorang ibu tentu tau kesakitan yang dirasakan sang anak bukan?
"Dimas nggak sempurna ma".
"Nggak sayang, kamu anak mama yang sempurna. Jangan nyalahin diri kamu kaya gini, semua masih bisa diusahakan kan? Zaman sudah canggih, kalian pasti bisa berusaha nanti" ucap sang mama, ia menepuk-nepuk punggung Dimas menenangkan.
"Dimas takut ma, Dimas nggak mau kehilangan Dinda".
"Nggak akan sayang, Dinda nggak bakal ninggalin kamu selama kamu menyayanginya. Kamu yang sabar ya, semua pasti ada jalan keluarnya" Wanita paruh baya itupun tak kuasa menahan tangisnya. Ia tahu seberapa berat beban yang dipikul putranya itu. Sama sekali tak pernah terbayang di kepalanya hal semacam itu akan menimpa putranya.
Pak Lukman yang menyaksikan adegan ibu dan anak di depannya itu pun hanya terdiam. Pastinya juga ia merasakan apa yang dirasakan putranya. Seorang laki-laki yang mendapat vonis seperti itu, cukuplah untuk membuat orang-orang yang lemah putus asa. Tapi tidak dengan putranya, ia cukup kuat dengan hanya menghindar untuk sesaat. Bersyukur anaknya itu tidak melakukan hal-hal bodoh yang membahayakan dirinya.
Di saat kedua orang tua itu sibuk memberikan semangat untuk sang anak, Dinda yang mengintip dari ruang makan tak kuasa menahan harunya. Bukan karena melihat adegan di depannya, tapi ia merasa keputusan Dimas mengutarakan sumua itu pada orang tuanya pastilah karena dirinya. Ia yakin laki-laki itu begitu mencintainya hingga sebegitu ingin untuk menjaga perasaannya. Dengan memberitahu kekurangannya pada orangtuanya, tentu saja tak akan ada lagi yang akan menuntutnya untuk segera hamil. Dan laki-laki itu paham, sedikit banyak seorang wanita tentu tidak nyaman dengan pertanyaan semacam itu.
__ADS_1
Setelah kejadian hari itu, semu berjalan sebagaimana mestinya. Dimas ke kantor dan Dinda juga ke kampus seperti biasanya. Namun ada yang berbeda dari Dimas. Laki-laki itu menjadi sangat perhatian kepada istrinya. Dimas lebih sering menyempatkan waktu untuk menjemput istrinya. Bahkan tak jarang sejoli itu menghabiskan waktu untuk berkencan layaknya pasangan yang baru jatuh cinta. Dimas begitu memanjakan Dinda, dan Dindapun menyukainya tentu saja.
Tak ada lagi pembahasan mengenai anak diantara mereka. Bahkan untuk kembali berkunjung ke dokter pun belum terbersit dipikiran mereka yang sedang dipenuhi binar-binar bahagia. Untuk saat ini cukuplah hanya ada mereka berdua yang saling mencintai, saling menguatkan dan saling membahagiakan. Menerima segala apa yang Tuhan gariskan dan mencoba mengikhlaskan. Selebihnya, biarkan Tuhan yang menentukan.