Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Kekesalan Dimas


__ADS_3

Dimas memfokuskan pandangannya lurus ke depan. Masih menahan kesal di dadanya, ia melajukan kendaraannya dengan hati-hati menembus padatnya jalanan ibukota. Di sampingnya ada Dinda yang sedari tadi mencuri-curi pandang ke arahnya. Gadis itu seolah mencari tau sesuatu dari raut kesal suaminya.


"Mas,,," suara Dinda memecah keheningan. Menarik-narik lengan kemeja Dimas, gadis itu mencoba mencari perhatian saat mobil berhenti di lampu merah. "Maaass,,," ulangnya.


"Hmmm,,," geram Dimas acuh.


"Mas Dim sayang" panggil Dinda lagi dengan suara manja.


"Hemmm,,,"


"Ihhh,,, kok gitu sih. Masih marah?"


"Tauk ah!" rajuk Dimas.


"Ck, ya udah kalau nggak mau ngomong sama Dinda" merajuk, gadis itu melipat tangannya ke depan dada dan memutar tubuhnya hingga menghadap lurus ke depan. "Emang ya, mas Dim itu udah nggak sayang lagi sama Dinda. Dulu aja, bersedia ngelakuin apa aja biar dapet perhatian Dinda. Eh sekarang udah diperhatiin, udah disayang malah gini. Merajuk lagi kaya anak-anak nggak dapat mainan. Hhhh,,, udah tua juga" cerocos Dinda.


Eh,,, apa-apaan sih. Harusnya gue kali yang marah. Kok dia malah ikut-ikutan sih. Mana pake ngatain tua lagi. Hhhh,,, dasar cewek, bocah lagi, maunya menang sendiri. *S*alah bukannya minta maaf, malah ikutan marah-marah.


"Kamu ngomong apa sih?" Ucap Dimas menjawab omelan Dinda.


"Tauk ah!" sungut Dinda


Dimas yang baru saja menjalankan mobilnya setelah berhenti di lampu merah pun kembali menepikan kendaraannya.


Masih dengan pandangan yang lurus ke depan, laki-laki itu menghela nafasnya kasar memulai ucapannya. "Kamu tuh ya, harusnya tuh mas yang marah. Kamu nggak ngerasain gimana tersiksanya mas tadi Dinda. Mas tuh kesel, malu Din" ucapnya penuh penekanan. "Seumur-umur baru tadi mas main solo tau nggak? Iihhh,,," lanjutnya sembari bergidik jijik.


Tak dapat ditahan lagi, Dinda pun tertawa mendengar curahan hati suaminya itu. Ada rasa kasihan menyelinap di tengah kelucuan yang didapatnya.


Hari ini, mereka baru saja memenuhi jadwal pertemuan mereka dengan dokter Harry. Setelah beberapa kali pertemuan dengan Dinda sebagai objek pemeriksaan, kali ini giliran Dimas yang menjalani tes kesuburan. Untuk menjalani tes tersebut, tentu saja Dimas harus menyerahkan sp**manya untuk diuji di laboratorium. Dan prosesnya itulah yang membuat Dimas kesal setengah mati.


Bagaimana tidak, ia harus mengeluarkan sp**manya sendiri dengan cara mas***ba** di ruangan yang sudah disediakan. Ahhh,,, andai saja diperbolehkan ia mengeluarkan cairan itu dengan cara yang selama ini dilakukan dengan Dinda, tentu saja ia akan akan sangat menyukainya. Namun sialnya, kali ini ia harus melakukannya sendiri tanpa bantuan istrinya. Karena Dinda yang dimintai tolong untuk sekedar membangkitkan gairahnya pun enggan melakukannya, malu katanya. Jadilah ia sendiri masuk ke dalam ruangan yang sudah tersedia sebuah laptop dengan beberapa video dewasa di dalamnya.


Hal yang seumur-umur tak pernah dilakukannya. Bahkan saat dulu ia harus menahan hasratnya karena trauma Dinda, tak pernah sekalipun ia melakukan hal yang dianggap menjijikkan itu. Aahhh,,, kesal sekali rasanya.


"Maaf mas" ucap Dinda setelah berhasil menghentikan tawanya.


"Ck, kamu senengkan ngeliat masmu ini tersiksa?"


"Bukan gitu mas. Akutuh malu tadi, masa kita masuk berdua ke kamar itu, yang pastinya para perawat itu akan tau kita mau ngapain".


"Emang aku nggak malu apa?" Dimas memutar tubuhnya menatap Dinda. "Bayangin Din, mas mesti usaha sendiri buat ngisi itu wadah. Susah tau Din ngelakuin itu di tengah rasa was-was. Coba aja tadi kamu ikut masuk. Pastinya akan lebih mudah".


Dinda mengulum senyumnya membayangkan kelakuan suaminya di dalam ruangan klinik tadi.


Ahhh,,, kasihan banget sih kamu mas.

__ADS_1


"Yang penting kan udah selesai mas. Dan mas juga bisa ngelakuinnya tanpa bantuan Dinda kan?"


"Terpaksa!" sungut Dimas menolehkan wajahnya menghindari tatapan istrinya.


"Iiihhh,,, masih ngambek aja sih suamiku" rayu Dinda sembari mengusap-usap pipi Dimas.


Mendapat perlakuan manis dari istrinya, Dimaspun kembali menatap tajam Dinda. "Pokoknya kamu harus bayar kekesalan mas tadi".


"Bayar gimana maksudnya?"


"Lihat aja ntar malam" ucap Dimas dengan seringainya.


Melihat ekspresi mesum suaminya, Dinda pun paham dengan apa yang dimaksud oleh Dimas. Dengan gerakan cepat, iapun memajukan tubuhnya dan mengecup singkat bibir suami tercintanya itu.


Cup


"Nggak usah nunggu ntar malam" ucapnya tersenyum.


Mendapati perlakuan Dinda, Dimas menaikkan sebelah alisnya. "Ck, segitu doang" sinisnya.


Dinda yang gemas dengan suaminya itupun menangkup wajah Dimas dengan kedua tangannya, kemudian mencium bibirnya.


Perlahan namun pasti, laki-laki yang memang selalu tergoda dengan istri kecilnya itupun mulai menikmati pergerakan istrinya itu. Setelah cukup puas menautkan bibir, Dimas menyatukan keningnya pada kening Dinda dengan tangan yang membelai lembut wajah istrinya itu.


"Ini baru DP" ucap Dimas di sela-sela tarikan nafasnya yang memburu.


"Sayang" panggil Dimas sembari meraih tangan Dinda dan menggenggamnya.


"Hm?" Dinda menatap Dimas.


"Kalau seandainya, hasil tes,,,"


"Pasti bagus" potong Dinda seolah tau apa yang dikhawatirkan suaminya. "Mas Dim nggak usah mikir macem-macem. Dinda yakin kok, hasil tesnya akan bagus. Mas sehat, dan lagi kata dokter, kan mas masih dalam usia produktif. Yaaahhh,,, walaupun sedikit tua sih" canda Dinda berusaha menghilangkan kekhawatiran Dimas.


"Biar tua tapi ganteng kan?" balas Dimas mencapit hidung Dinda.


"Iihhhh,,, pedenya. Untung sayang" sahutnya diiringi tawa keduanya.


Setelah cukup berbincang saling menyemangati untuk menepis semua kekhawatiran, mereka pun kembali melanjutkan perjalanan. Menerobos padatnya jalanan sore hari, Dimas melajukan kendaraannya pulang ke rumahnya.


Siang pun berganti malam. Kini keluarga Sanjaya sedang berada di ruang makan menikmati makan malamnya. Dihadiri seluruh anggota keluarga, makan malam yang hangat pun tercipta dengan sesekali terdengar canda tawa menambah kesan harmonisnya keluarga.


"Hubungan kamu sama Andra gimana Ta?" Tanya pak Lukman kepada putri bungsunya setelah menyelesaikan makan malamnya.


"Baik pa" jawab Talita santai.

__ADS_1


"Kamu tuh anak gadis. Papa nggak suka kamu keseringan keluar sama pacar kamu itu".


"Tenang aja pa. Talita keluar sama Andra itu juga paling ke kampus, atau sekedar makan-makan kok".


"Bohong tuh pa" sahut Dimas yang sedari tadi hanya diam memperhatikan. "Kemaren aja Lita ikut Andra ke arena balapan".


Mendengar ucapan Dimas, Talita pun melemparkan tatapan membunuhnya pada kakak satu-satunya itu.


"Bener itu Ta?" Suara mama Ambar menyahuti.


"Emm,,, cuma nonton kok ma".


"Emang Andra masih balapan?" Tanya papa.


"Masih".


"Enggak kok".


Jawaban berbeda keluar dari Dimas dan Talita berbarengan.


"Kakak apaan sih?" Sungut Talita kesal dengan Dimas.


"Emang iya kan si Alex itu masih sering balapan" Dimas tak mau kalah.


"Kok mas Dim bisa tau?" Tanya Dinda yang ikut penasaran dengan ucapan suaminya.


Mendengar suara istrinya, seketika Dimas pun kehilangan kata-katanya. "Em,,, itu,,,".


"Ha,,,ha,,,ha,,, rasain. Ketahuan sering ke arena tuh" ledek Talita disertai tawa mengejeknya.


"Mas Dim masih balapan juga?" Tanya Dinda lagi.


"Enggak kok, mas cuma nonton aja".


"Hallahhhh,,, nonton apa nonton? Bohong tuh kak" ucap Talita kepada Dinda.


"Bener itu Dim?" Sahut mama. "Kirain udah sembuh kamu".


"Ck, mama apaan sih. Emang Dimas sakit apa?" Gerutu Dimas. "Eh, kok malah Dimas yang kena sih. Kita kan lagi bahas Talita" ucap Dimas tak terima. "Sayang, percaya deh. Mas tuh udah jarang banget ke arena. Paling yaaa,,, sesekali lah. Itupun paling nonton kok" ucap Dimas sembari menggenggam tangan Dinda.


"Nonton doang?" Tanya Dinda sinis.


Mendapat tatapan sinis istrinya, Dimas menggaruk belakang kepalanya. "Mas udah tua sayang. Udah nggak pantes balapan kaya dulu".


"Cihhh,,, kalau gini aja ngaku tua kamu" ledek mama yang diikuti senyum sinis dari papa dan juga Talita.

__ADS_1


"Mas boleh kok balapan" ucap Dinda tiba-tiba. "Asal mas ajak Dinda juga" lanjutnya yang membuat semua orang menahan senyumnya kecuali Dimas tentunya.


Mantuku pinter banget sih naklukin anak badung ini. Batin mama.


__ADS_2