Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Maaf


__ADS_3

Dimas memarkir mobilnya di depan rumah sederhana milik mertuanya. Ia menghela nafasnya sesaat sebelum turun dari mobilnya itu. Perlahan Dimas berjalan mendekat ke arah pintu masuk. Perasaannya tak menentu membayangkan bagaimana nanti reaksi istrinya melihat kedatangannya.


Tok,,,tok,,,tok,,,


berkali-kali ia mengetuk pintu namun tak ada tanda-tanda jawaban dari dalam. Diapun membalikkan tubuhnya berniat untuk menunggu di dalam mobil.


Ceklek


"Kak Dimas" suara Alfian saat melihat Dimas sudah turun dari teras rumahnya.


"Al,,, kirain nggak ada orang. Pada kemana semua?" Dimas kembali menghampiri Alfian di depan pintu.


"Kak Dinda tadi ikut bapak sama yang lainnya ke kondangan. Mungkin bentar lagi pulang, kakak tunggu di dalem aja"


"Iya deh" Dimas pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah itu.


Setelah berbincang sebentar dengan Alfian, Dimas pun melangkahkan kakinya menuju kamar Dinda untuk melepas lelah setelah melalui perjalanan panjangnya. Rasa tak sabar untuk segera bertemu istrinya membuatnya nekat untuk mengendarai sendiri mobilnya. Padahal kalaupun dia mengikuti jadwal penerbangan mungkin saat ini juga dia sudah sampai di rumah mertuanya itu.


Untuk kesekian kalinya Dimas memasuki kamar berukuran tiga kali empat meter itu. Di perhatikannya kamar bernuansa hijau yang beberapa waktu lalu menjadi saksi penderitaannya itu. Aaah, dia tersenyum mengingatnya, menatap tempat tidur yang juga tertutup sprei warna hijau. Betapa kesalnya dia waktu itu, saat melihat istrinya tidur dengan tenangnya sementara ia harus tersiksa menahan naluri kelelakiannya.


Dimas berjalan mendekati meja belajar kecil yang terdapat beberapa foto di atasnya. Satu persatu ia perhatikan foto yang memperlihatkan keceriaan istrinya bersama teman-temannya semasa sekolah.


"Hai sayang" gumamnya pada sebuah foto yang memperlihatkan senyum pep***ent milik Dinda.


Brakkk


Suara pintu yang dibuka dengan kasar membuat Dimas terperanjat. Hampir saja pigura kecil di tangannya itu terjatuh jika ia tidak sigap menangkapnya kembali. Ia membalikkan tubuhnya menatap seseorang yang masih mematung di depan pintu.


"Dinda" lirihnya.


Seketika Dinda menubruk dada bidang milik suaminya itu. Rasa kesal dan juga kecewa kini melebur menjadi rasa bahagia yang tak terkira melihat suaminya itu datang menjemputnya. Ia memeluk erat tubuh kekar itu seolah menunjukkan betapa ia rindu dengan suami yang kini berdiri di depannya. Isakan tangisnya terdengar semakin keras membuat Dimas sendiri heran dibuatnya.


Dimas pun membalas pelukan istrinya itu sembari mengusap-usap kepalanya untuk menenangkan.


"Ssttt,,, kok nangis sih" ucap Dimas mencoba mengurai pelukannya. Dan sebaliknya Dinda malah semakin mengeratkan pelukannya. "Udah dong sayang, malu tuh dilihatin" ucap Dimas seraya menatap ke arah pintu kamar yang masih terbuka. Di sana sudah ada empat pasang mata yang menyaksikan drama rumah tangga itu.


Dinda melepaskan pelukannya dan menoleh searah dengan pandangan Dimas. Dilihatnya bu Atikah yang menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anaknya itu. Dinda pun berjalan dan meraih gagang pintu untuk menutupnya.

__ADS_1


"Kirain kenapa nangis kenceng kaya gitu. Taunya cuma rindu" ucap Anisa mengejek adiknya.


"Iya, kak Dinda lebay deh" sinis Alfian sebelum meninggalkan tempat itu bersama yang lainnya.


Dinda pun mencebikkan bibirnya menanggapi ocehan saudaranya itu kemudian menutup pintu kamarnya. Ia kembali menghampiri Dimas yang masih berdiri di tempatnya dan memeluknya, lagi.


"Mas kenapa lama nyusulnya?" Ucap Dinda dalam pelukan suaminya.


Heh??? Jadi dia bener-bener berharap aku nyusulin dia? Aahhh, bodohnya aku. Tau gini kemarin aja aku nyusulnya.


"Maaf sayang. Kamu sih pake bilang nggak mau ketemu mas" ucap Dimas sekenanya.


"Maaf" lirih Dinda mendongakkan kepalanya menatap Dimas, dan disambut kecupan mesra di keningnya.


Cup


"Jangan ngambek lagi dong Din, mas sedih tau kamu tinggalin" Dimas mempererat pelukannya. Betapa leganya dia mengetahui istrinya itu sudah reda amarahnya.


Cukup lama mereka berpelukan, saling melepas rindu yang menyesakkan dada. Menunjukkan betapa dua insan itu sudah saling terikat satu sama lainnya. Terikat kuat oleh tali yang disebut 'cinta'.


Seperti teringat sesuatu, tiba-tiba saja Dinda melepaskan pelukannya. Ia menuntun tubuh suaminya hingga akhirnya mereka sudah duduk di tepi tempat tidur.


"Em" angguk Dimas.


"Kan jauh mas, mana sendirian lagi"


"Kalau mas nunggu jadwal pesawat, sore baru berangkat Din. Sedangkan sejak tadi siang mas udah nggak sabar mau ketemu kamu. Jadi ya terpaksa bawa mobil sendiri"


"Ujung-ujungnya juga sama kan nyampenya malam juga" ucap Dinda sedikit kesal dengan kenekatan suaminya itu.


"Tapi kamu seneng kan?" Dimas tersenyum menggoda Dinda dan kembali meraihnya ke dalam pelukannya. "Maafin mas ya sayang kalau udah bikin kamu kesel"


"Maafin Dinda juga"


Dimas melepas pelukannya. Ia mengangkat dagu istrinya dan menatap dalam mata Dinda. Pandangannya pun beralih ke bibir mungil milik istrinya yang memang sudah dirindukannya itu. Perlahan namun pasti iapun kembali merasakan manisnya cinta melalui lembut bibir istrinya itu.


Beberapa saat kemudian, Dimas pun mengakhiri sesi romantis itu dan melepaskan pagutannya.

__ADS_1


"Din, keluar dulu yuk. Mas belum nyapa bapak sama ibuk"


"Emm" angguk Dinda.


Sementara di tempat lain. Andra nampak begitu kesal karena Dimas benar-benar tidak mau meladeninya. Berkali-kali ia mencoba menghubungi Dimas namun tak kunjung mendapatkan jawaban.


Flash back:


"Perjanjian kita masih berlaku kan?" Ucap Andra kepada Dimas.


"Perjanjian yang mana? Gue gak pernah bikin janji ama lo"


"Talita"


"Belum nyerah juga lo?" Sinis Dimas.


"Tunggu-tunggu, apa hubungannya Talita sama perjanjian kalian?" Timpal Niko yang juga mendengar obrolan mereka.


"Ck,,, bukan urusan lo!" Ketus Andra.


"Songong lo. Ama orang yang lebih tua juga!" Niko melempar Andra dengan snack di depannya. "Dim, jelasin ke kita perjanjian apa itu?"


"Kita, lo aja kali. Gue mah udah tau" timpal Devan.


"Waaaahhh,,, bisa-bisanya kalian nyembunyiin sesuatu dari gue. Ckckck,,," protes Niko tak terima.


"Bukannya nyembunyiin Nik. Cuma kita nganggepnya itu hal yang gak penting buat dibahas" ucap Devan.


"Kok gak penting sih. Bang, jawab dong" rengek Andra menatap Dimas.


"Bang, bang. Kalau ada maunya aja manggil gue abang lo" hardik Dimas.


"Dim!" Panggil Niko meminta penjelasan.


"Dengerin dulu napa sih Nik. Ntar juga tau sendiri lo" Devan menimpali.


"Lo beneran suka sama Talita?" Dimas kepada Andra.

__ADS_1


"Emm" angguk Andra mantap.


__ADS_2