
Satu tahun kemudian
Seorang gadis berlari-lari di parkiran sebuah kampus. Gadis berjilbab dengan gaya khas remaja itu seakan berkejaran dengan waktu. Ia berlari menerobos siapa saja yang menghalangi langkahnya.
"Maaf,,,permisiii,,,,maaf,,,maaf,,," ucapnya sembari masih terus berlari.
Tak jauh di depannya ia dapat melihat punggung seorang pria dengan setumpuk buku di tangannya. Ia pun semakin mempercepat larinya hingga menyisakan sedikit jarak dengan pria itu. Dengan mengendap-endap di belakang punggung pria itu, ia pun berhasil masuk ruangan tanpa diketahui pria yang sekarang berdiri di depan kelas.
"Gila! pagi-pagi udah sport jantung" bisik Dinda ngos-ngosan mengatur nafasnya.
"Lagian udah tau ada kelas pak Rusman pake telat. Mau dihukum kamu?" ucap Maya yang juga berbisik di sampingnya.
Maya? Iya Maya teman SMA Dinda. Ia memang kuliah di universitas yang sama dengan Dinda. Sedangkan Dian dan Nina masih berada di kota asalnya.
Satu tahun ini Dinda berusaha keras mengembalikan hidupnya. Berbagai kesibukan yang dilakukannya membuatnya lupa akan luka yang pernah dialaminya. Kini ia bisa kembali berkumpul dengan teman-temannya dan bahkan menjadi seorang mahasiswi seperti harapannya. Dengan penampilan baru yang lebih tertutup, ia seakan merasa lebih aman dari pandangan laki-laki yang memang ia hindari.
Ya, ia memang belum sepenuhnya melupakan kejadian itu. Sesekali masih saja terlintas peristiwa yang menyakitkan itu. Hal itu juga yang membuatnya menjaga jarak dengan laki-laki. Dan jangan ditanya berapa banyak laki-laki yang dibuat penasaran karena sikapnya itu.
Jam kuliah pun selesai. Dinda kini sedang berada di kantin kampus bersama Maya. Segelas jus jambu yang ia pesan sudah ludes diteguknya. Dan kini tangannya meraih siomay yang berada di depan Maya. Maya yang berada di depannya pun cuma menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya itu.
"Kebiasaan, pesen sendiri kenapa sih!" Kesal Maya.
"Kamu pesen lagi gih. Tenang biar aku yang bayar. Aku tau kok derita anak kos di tanggal tua" ucap Dinda setengah mengejek.
"Sialan lu. Tapi bener juga sih" timpal Maya diiringi tawa keduanya.
__ADS_1
"Pada ngerumpiin apa nih? Seneng banget kayanya" tiba-tiba Talita datang dan mendudukkan dirinya di samping Dinda.
"Eh kak Lita. Ini lagi minta traktir sama Dinda" jawab Maya asal.
Talita pun kuliah di universitas yang sama dengan Dinda. Lebih tepatnya Talita lah yang merekomendasikan Dinda untuk kuliah di tempat yang sama dengannya.
"Ohh,,, jangan sungkan May. Kak Dinda duitnya banyak loh. Uang saku aku aja kalah"
"Apaan sih Lit. Mau ditraktir juga kamu?" sahut Dinda
"Mau sih. Tapi Lita maunya di traktir belanja ke mall"
"Yeeee,,,, enak aja. Minta sendiri ma kakak kamu" jawab Dinda tak mau kalah.
"Oke deh, ntar aku suruh kak Dimas ke rumah"
Tapi Dimas tak pernah mempermasalahkannya. Malah ia dengan sukarela pergi dari rumahnya sendiri agar Dinda merasa nyaman. Ia juga menjalankan kewajibannya menafkahi istrinya.
Yah, selama ini Dimas lah yang mencukupi segala kebutuhan Dinda. Dinda yang awalnya keberatan pun akhirnya menerima karena bujukan mama Ambar. Dengan dalih nafkah dari suami akhirnya Dinda pun mau menerima pemberian dari Dimas. Suami? Bahkan Dia sendiri belum pernah sekalipun menjalankan perannya sebagai seorang istri. Aaahhh,,,ironis sekali hubungan mereka.
Di tempat lain. Dimas sedang memantau proyek pembangunan real estate yang sedang digarapnya. Dengan ditemani Niko yang sekarang menjadi asistennya, ia berkeliling proyek memastikan semuanya berjalan sesuai rencana.
Setahun ini Dimas memang sangat bekerja keras mendalami pekerjaan barunya. Dan itu menjadikannya menjadi salah satu pengusaha muda yang patut diperhitungkan.
Terlebih lagi, ada istri yang harus ia nafkahi membuatnya bersemangat mengembangkan usahanya. Istri? Ya, istri. Mungkin hanya Dimas lah laki-laki yang memiliki istri tapi tidak pernah menemui istrinya. Tapi untuk sekedar mengetahui kabar istrinya, ia tak pernah ketinggalan sedikitpun walaupun tanpa kontak dengan istrinya.
__ADS_1
Seperti saat ini, tanpa sadar ia tersenyum melihat sebuah pesan masuk di hpnya. Sebuah gambar Dinda yang sedang tersenyum menyantap siomay di depannya. Yah, gambar itu barusan dikirim Talita yang memang selalu mengiriminya kegiatan-kegiatan yang dilakukan Adinda. Ah, mungkin ini alasan Talita mau Dinda satu kampus dengannya.
Dan itu semua tidak gratis tentunya, Dimas dengan senang hati menuruti semua keinginan adiknya itu demi mendapat foto eksklusif istrinya. Yah, istri yang mulai mengisi ruang hatinya entah sejak kapan.
"Seneng banget Dim" ucap Niko yang memergoki Dimas tersenyum melihat hpnya.
"Apaan sih lu" sergah Dimas menyembunyikan layar hpnya yang sempat diintip Niko.
"Ciihhh,,, dapet kiriman gambar gitu aja senengnya kaya baru dapet lotre lu" ejek Niko.
"Bukan urusan lo!"
"Gue gak bisa bayangin gimana nanti kalau Dinda udah bisa nemuin lo".
"Dinda,,, Dinda. Kaya kenal aja lo"
"Makanya kenalin" ledek Niko yang tau pasti Dimas tidak bisa melakukannya. "Atau lo mau gue kenalan sendiri?" goda Niko.
"Awas lo macem-macem!" ancam Dimas.
"Iiihhh,,, takuuttt"
"Haisshhh,,, pulang sendiri lo!" gertak Dimas meninggalkan Niko menuju mobilnya.
"Woeyy,,, gue beneran kenalan sendiri tau rasa lo"
__ADS_1
Ucapan Niko seketika membuat Dimas berhenti. Ia pun kembali menghampiri Niko yang tertinggal di belakang. Tanpa pikir panjang ia langsung menyeret Niko dengan menarik kerah bajunya membawanya menuju mobil.