
"Sebelum melanjutkan, kami mau memastikan sebelumnya apa benar Adinda sudah menikah?" Tanya pak Jatmiko selaku kepala sekolah.
"Betul pak" jawab pak Sholeh.
"Begini pak Sholeh, sebelumnya pihak sekolah memang tidak keberatan dengan ketidak hadiran Dinda dalam proses belajar mengajar. Ya itu semua karena kami tau keadaan Dinda yang sebenarnya. Tapi seiring berjalannya waktu banyak siswa yang akhirnya mengetahui keadaan Dinda. Dan hingga saat ini, entah kabar darimana sekolah juga sedang dihebohkan dengan adanya siswa yang berstatus menikah di sekolah kami. Bahkan kami sendiri pun baru mengetahui kabar tersebut setelah ada komplain dari beberapa wali murid yang juga mendengarnya" ucap pak Joko yang dengan hati-hati menjelaskan maksud kedatangannya.
"Maksud bapak komplain gimana?" tanya pak Sholeh yang terlihat bingung.
"Begini pak, di sekolah kami ada beberapa peraturan yang memang mutlak harus dijalankan. Salah satunya adalah tidak terikat pernikahan saat masih menyandang status sebagai siswa. Nah, karena hal tersebutlah yang membuat dewan siswa meminta kami menyelesaikan hal ini segera" lanjut pak Joko.
"Maksud bapak menyelesaikan itu apa?"
"Begini pak, maaf sebelumnya" ucap pak Jatmiko ragu-ragu. "Sesuai peraturan sekolah, dengan sangat menyesal kami harus mengeluarkan Dinda".
Bu Atikah yang sedari tadi diam pun ikut angkat bicara. "Maksud bapak Dinda tidak boleh sekolah lagi gitu? tapi ini kan sudah tahun ketiga pak, sebentar lagi ujian gimana bisa bapak mengeluarkan Dinda begitu saja" ucap bu Atikah sedikit emosi.
"Maaf bu, kami juga sudah memikirkan hal ini. Tapi dewan siswa memaksa kami mengambil keputusan seperti ini"
"Terus gimana nanti nasib anak saya pak?" ucap bu Atikah yang sudah terisak.
"Mungkin ada solusi agar Dinda bisa tetap lanjut sekolah" sela pak Joko yang langsung mendapat tatapan penuh harap dari bu Atikah dan pak Sholeh. "Pak Sholeh kan bisa mengajukan surat pindah sekolah sebelum surat keputusan dewan siswa keluar. Dinda bisa bersekolah di sekolah yang tidak mempermasalahkan statusnya".
__ADS_1
Saran pak Joko seketika mendapatkan anggukan dari pak Jatmiko dan rekannya. Sedang bu Atikah dan pak Sholeh nampak memikirkan kata-kata pak Joko.
Setelah selesai menyampaikan maksudnya, para tamu itupun pamit. Pak Sholeh dan bu Atikah kini dilanda kebingungan. Bagaimana bisa ia menyampaikan hal tersebut kepada Adinda.
Adinda memang belum ada keberanian untuk kembali ke sekolah. Rasa takut akan pandangan orang-orang terhadapnya, membuat nyalinya menciut saat harus bertemu dengan orang banyak, terlebih suasana sekolah yang ramai. Di fikirannya, nanti pasti banyak orang-orang yang penasaran dengan ketidak hadirannya akan bertanya berbagai macam pertanyaan seperti 'kenapa baru sekolah? apa yang terjadi?' dan berbagai pertanyaan lainnya yang pastinya membuatnya mengingat peristiwa itu. Ahhh,,,sungguh ke 'parno' an yang berlebihan bukan?. Tapi itulah yang dialami Dinda saat ini. Bukankah menjadi tak kasat mata akan sangat baik saat ini? pikirnya.
Bukan tanpa alasan Dinda mengkhawatirkan hal-hal semacam itu. Bukan juga dia tidak berusaha menghilangkan kekhawatiran yang berlebihan itu. Pernah sekali waktu ia mencoba keluar dari rumah. Berharap semua hal akan baik-baik saja, iapun memberanikan diri mengikuti ibunya berbelanja ke depan rumah. Dan pertanyaan yang sama sekali tak diharapkan muncul dari tetangga yang juga sedang berbelanja.
Dinda, suaminya mana kok gak pernah kelihatan?
Seketika Dinda membalikkan tubuhnya kembali ke rumah. Dan setelah itu tak pernah sekalipun ia menginjakkan kakinya di halaman rumahnya. Aahhh, Kemana Dinda yang dulu cuek dan masa bodo dengan omongan orang.
Semenjak kejadian itu Dinda seperti menjelma menjadi pribadi yang lain. Dinda yang dulu ceria dan cuek, sekarang lebih sensitif dengan omongan orang lain.
Dinda menhapus air matanya saat mendengar seseorang membuka pintu kamarnya.
"Din" sapa bu Atikah berjalan mendekati putrinya.
Dinda melihat kegusaran di wajah kedua orang tuanya.
"Dinda nggak papa buk, nanti Dinda pindah sekolah saja" ucapnya tiba-tiba. Nampak Ia berusaha terlihat tegar dihadapan kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kamu dengar tadi nak?" tanya bu Atikah heran.
"Iya, bapak sama ibu tenang saja. Nanti Dinda minta tolong kak Nisa buat nyari sekolah baru".
"Syukurlah kamu bisa menerimanya nak. Semoga saja di sekolah yang baru nanti kamu lebih tenang belajarnya" sambung pak Sholeh.
Dinda tersenyum mengiyakan ucapan orang tuanya.
Malam harinya Dinda sudah berada di kamar bersama Nisa.
"Kak, menurut kakak ada nggak sekolah yang mau menerima siswa yang sudah menikah?" ucap Dinda mengawali pembicaraan.
"Nanti kita cari dek. Pasti ada" jawab Nisa meyakinkan.
"Kak, kalau kita rahasiain aja status Dinda gimana?"
"Dek, itu nanti kita lakukan kalau sudah benar-benar putus asa. Jangan mengawali sesuatu dengan sebuah kebohongan. Apalagi sebentar lagi kamu ujian, bagaimana nanti kalau sekolah tau kamu berbohong. Bukankah kamu sendiri nantinya yang rugi?"
Dinda terdiam memikirkan ucapan kakaknya.
"Eemmm,,,dek, apa kamu yakin bisa kembali ke sekolah kalau nanti kita sudah menemukan sekolah untuk kamu?" tanya Nisa ragu-ragu.
__ADS_1
"Dinda belum yakin kak, tapi setidaknya di sekolah yang baru nanti tidak ada yang Dinda kenal" jawab Dinda meyakinkan dirinya.