
Keesokan harinya, dengan sedikit paksaan akhirnya Dinda mau dibawa menemui psikiater. Dengan didampingi kedua orang tuanya, Dinda duduk di depan dokter Dita. Psikiater yang memang sudah mengenal Dinda itu pun melontarkan beberapa candaan untuk membuat Dinda lebih rilex.
Dokter Dita mengisi pertemuan kali ini dengan lebih santai sehingga Dinda pun menjalaninya dengan nyaman. Jika sebelumnya ia lebih banyak bertanya tentang kejadian yang menyebabkan trauma pada Dinda, kali ini ia hanya bertanya seputar kuliah dan kegiatan Dinda lainnya.
Dinda pun dengan senang hati menceritakan setiap kegiatan yang dijalaninya dan juga perkembangan yang dialaminya. Termasuk acara makan malamnya yang juga dihadiri oleh Dimas. Beberapa kali terdengar pujian dari dokter cantik itu setiap kali ia menceritakan kemajuan yang dialaminya. Ia berharap dengan begitu ia akan segera terlepas dari segala perawatan yang ia jalani.
Hingga akhirnya dokter Dita menanyakan hal yang merupakan inti dari pertemuannya kali ini.
"Menurut Dinda, apa yang membuat Dinda selalu merasa takut, cemas bahkan panik saat melihat Dimas?"
Dinda terdiam mendengar pertanyaan yang dianggapnya konyol itu.
Pertanyaan macam apa itu? Bukannya dokter sudah mengetahuinya? Kenapa mesti nanya lagi sih.
"Dinda sekarang sudah bisa bersosialisasi lagi kan? Bahkan sudah bisa berkenalan dengan laki-laki yang bahkan awalnya Dinda pun merasa takut dengannya. Iya kan?" Tanya dokter Dita lagi.
"Iya" jawab Dinda singkat.
"Apa yang Dinda fikirkan hingga bersedia berkenalan dengannya?"
"Karena dia baik" jawab Dinda asal.
"Baik? Darimana Dinda tau? Kan baru kenalan".
Dinda nampak berfikir untuk menjawab pertanyaan dokter itu.
"Dinda mau tau sebabnya?" tanya dokter menatap intens ke arah mata Dinda.
Dan Dinda yang ditatapnya pun hanya terdiam menunggu kalimat selanjutnya.
"Itu karena fikiran Dinda terlalu fokus pada kejadian yang lalu".
"Maksud dokter?"
"Di kejadian lalu, otak Dinda merekam visual Dimas sebagai pelaku. Yaitu orang yang sudah menyakiti Dinda. Itu sebabnya Dinda selalu merasa ketakutan saat melihatnya. Sedangkan teman baru Dinda itu tidak ada andil sama sekali dari kejadian itu. Sehingga Dinda bisa dengan mudah menerimanya".
__ADS_1
Dinda masih terdiam mendengarkan penjelasan dokter.
"Lalu bagaimana Dinda bisa mengatasi traumanya terhadap Dimas dok?" sela bu Atikah tak sabar.
"Itu bisa saja terjadi kalau ada kemauan dari Dindanya sendiri bu".
"Maksud bu dokter?" Bu Atikah.
"Dinda mau sembuh dari trauma ini?" Tanya dokter mengalihkan pandangannya ke arah Dinda.
Dinda mengangguk lesu.
"Selama ini obat yang saya kasih diminum nggak?".
"Enggak".
"Kenapa?"
"Nggak suka".
"Dinda mau saya kasih masukan biar sembuh".
Dinda mengangguk lagi.
"Dinda" Dinda pun menatap dokter. "Dinda mau nggak mencoba untuk memaafkan?"
"Siapa?" Tanya Dinda.
"Dimas"
Dinda mengernyitkan dahinya tak mengerti. Memaafkan Dimas? Yah, ia pernah mendengar permintaan maaf dari Dimas yang berkali-kali saat ia pura-pura pingsan. Bahkan setiap bertemu pria itu selalu saja menampakkan raut wajah mengiba. Tapi sedikitpun Dinda belum terfikirkan untuk memaafkannya. Bukan karena tidak mau, tapi karena memang tidak pernah terpikir untuk memberi maaf pada laki-laki itu. Yang artinya ia harus melupakan kejadian itu.
"Hal yang paling utama yang harus kamu lakukan adalah menerima kejadian itu. Cobalah untuk berdamai dengan keadaan dengan menerima kejadian itu sebagai bagian dari rencana tuhan untukmu". Ucap dokter mulai menjelaskan. "Dan cobalah untuk memaafkan Dimas. Saya tau kamu marah, kamu benci sama dia karena sudah menyakiti kamu. Tapi berlapang dadalah untuk memaafkannya. Sulit memang, tapi dengan begitulah kamu bisa mengatasi ketakutanmu terhadapnya".
Menerima dan memaafkan. Yah, dua kata itulah yang ditangkap Dinda dari pertemuannya dengan dokter Dita beberapa jam lalu. Sedari tadi hanya dua kata itulah yang seolah menari-nari di kepalanya.
__ADS_1
Menerima? Yah, mungkin saja dia bisa menerima kejadian itu. Karena bagaimanapun Dinda juga bukan orang yang tidak beriman. Ia meyakini segala sesuatu yang terjadi sudah ada yang mengaturnya. Walaupun pada kenyataanya ia belum sepenuhnya ikhlas menerima kejadian buruk yang menimpanya itu. Tapi setidaknya ia akan berusaha untuk bisa benar-benar berdamai dengan keadaanya.
Tapi memaafkan? Aaahhh,,, apa bisa semudah itu?
Seminggu sejak kunjungannya ke psikiater, Dinda memutuskan untuk benar-benar menghentikan perawatannya. Ia berdalih sudah mendapatkan bekal untuk mengatasi traumanya secara mandiri. Kedua orang tua dan juga mertuanya pun tak bisa lagi memaksanya. Toh selama ini Dinda memang sudah menunjukkan banyak kemajuan dengan usahanya sendiri.
Sore itu Dinda dan dua orang sahabatnya yang tak lain adalah Maya dan Talita sedang menghabiskan waktu disebuah kafe. Mereka memesan beberapa minuman dan juga makanan untuk menemani mengobrol.
"Tau tempat ini dari mana Lit?" Tanya Dinda memperhatikan suasana kafe yang terlihat nyaman itu.
"Dari temen aku kak. Gimana? Asik kan tempatnya?" Talita ikut memperhatikan sekelilingnya. "Katanya pemiliknya juga ganteng lho" lanjut Talita setengah berbisik.
"Kak Lita pernah lihat?" Sahut Maya.
"Belum. Hehehe,,," Lita tersenyum canggung.
"Haiyyaaahhh,,," ucap Dinda dan Maya bersamaan.
"Ohh iya, acara ulang tahun kamu gimana? Jadi ngundang temen-temen kamu?" Timpal Dinda.
"Jadi dong. Gak banyak kok, cuma beberapa temen aja termasuk kamu May. Dateng ya" jawab Lita menatap Maya.
"Aku juga diundang kak? Waaahhh,,, makasih ya. Pasti dateng deh, kapan lagi ke pesta ultahnya senior"
"Emang dirayain di mana Lit?" Tanya Dinda.
"Di sini. Malam minggu nanti"
"Lhooo,,, kok malam minggu. Ulang tahunmu kan malam sabtu nya".
"Iya, malam sabtunya kita makan malam sekeluarga. Trus malam minggunya sama temen-temen. Lagian setelah itu nanti kan bakal jarang ngampus karena kesibukan KKN aku. Sekalian kaya lepas kangen gitu".
Makan malam keluarga lagi? Berarti ada dia juga nanti. Oke,,, Dinda bersiaplah! Jika kemaren kamu pingsan selesai acara, kali ini kamu harus melaluinya tanpa pingsan. Harus bisa!!!
*Dialog dengan psikiater cuma karangan author ya readers. Maaf kalo kurang detail karena authornya bukan psikiater sih. !!!Hehehe,,, 🙏
__ADS_1