
Dinda berlari-lari kecil menghampiri Maya yang menunggunya di taman. Gadis itu mendudukkan tubuhnya di bangku kosong tepat di samping Maya,membuat gadis yang sedang asik dengan hpnya itu terlonjak kaget.
"Ck, ngagetin aja sih Din!" Sungut Maya.
"Pak Ilham tuh nggak kira-kira ya May, seneng banget ngerjain anak orang. Ini udah yang kesekian kali dia nyuruh aku nyari buku di perpus. Dia kan bisa nyari sendiri, ngapain juga pake nyuruh-nyuruh ya nggak? Lagian hari ini kita juga nggak ada kelas dia kan?" Cerocos Dinda yang tak mendapat perhatian sedikitpun dari Maya. Sedari tadi gadis itu sibuk dengan game di hpnya.
"May!" Hardik Dinda yang melihat sahabatnya itu masih fokus dengan hpnya. "Kamu denger nggak sih?"
"Ganggu aja sih Din. Nih, nabrak kan jadinya" kesal Maya menunjukkan layar hpnya dengan gambar ular yang sudah hancur menjadi serpihan kue.
"May, akutuh lagi kesel tau nggak?" Rengek Dinda.
"Udah dibilang pak Ilham tuh ada maksud sama kamu. Kamu sih nggak tegas sama dia"
"Tegas gimana lagi sih May? Aku udah bilang kalau aku dah nikah, dianya nggak percaya. Ak nolak perintahnya eh di ancem sama nilai. Gimana lagi coba?" Ucap Dinda putus asa.
"Kamu bilang aja sama kak Dimas. Biar dia nemuin pak Ilham"
"Hhh,,," Dinda menghela nafas kasar. "May, may. Kamu sengaja mau ngeliat mas Dim berantem sama pak Ilham?"
"Iya juga sih. Kamu manfaatin aja kalau gitu. Mayan kan buat tambah-tambah nilai"
"Haissshh,,, kamu ini!"
Maya meringis memegangi lengannya karena tepukan dari Dinda. "Sakit Din"
Dinda benar-benar tak habis fikir dengan dosen barunya itu. Ada saja alasan dari Ilham untuk membuat Dinda menemuinya. Bahkan sudah tiga hari ini setiap selesai jam kuliah, Dinda harus menemui dosen baru itu. Entah karena urusan perkuliahan atau hanya sekedar disuruh membelikan minuman untuk dosen yang dibilang ganteng itu.
Bahkan Dinda pun dibuat kesal dengan pesan-pesan yang dikirim oleh Ilham. Berkali-kali laki-laki itu mengajak Dinda untuk bertemu, namun selalu ditolak oleh gadis itu. Laki-laki itu semakin menyebalkan saja saat penjelasannya sebagai wanita yang sudah bersuami tak dihiraukan oleh Ilham. Dosen ganteng itu seolah menutup mata dan telinganya jika itu berhubungan dengan kabar status Dinda.
-
__ADS_1
Bagi Ilham, mendekati Dinda adalah hoby barunya saat ini. Gadis itu benar-benar telah mencuri perhatiannya sedari pertama mereka bertemu. Wajah manisnya selalu saja memenuhi isi kepalanya.
Kehilangan kekasih karena sikap cueknya membuat laki-laki itu begitu memperhatikan Dinda. Entahlah, perasaan ingin memiliki gadis itu begitu kuat hingga membuatnya lupa dengan statusnya sebagai dosen dan sang gadis sebagai mahasiswanya. Bahkan, kabar mengenai Dinda yang sudah menikah pun ia abaikan begitu saja. Menurutnya, itu hanyalah cara Dinda untuk menolak perhatiannya. Bisa jadi laki-laki yang sering disebutnya sebagai suami itu adalah pacarnya. Dan selama belum adanya ucapan 'sah' dari para saksi, bukankah masih ada kesempatan baginya. Begitu pikirnya.
Ilham yang hendak pulang dengan mengendarai mobilnya, melihat Dinda berjalan dengan sahabatnya menuju halte di depan kampus. Selama ini, yang dia tau gadis itu selalu pulang dengan saudaranya yang juga kuliah di sana. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan, Ilham pun menghentikan mobilnya tak jauh dari dua gadis yang baru saja mendudukkan dirinya di bangku yang tersedia di sana.
"Mau pulang Din?"
Dinda yang sedang berbincang dengan Maya pun menoleh ke arah sumber suara. "Iya pak"
"Saudara kamu mana? Biasanya kalian bareng kan?" Tanya Ilham sembari menyapukan pandangannya ke sekitar.
"Oh, itu Talita pak. Adik iparnya Dinda. Dia nggak kuliah hari ini" sahut Maya.
Ilham yang mendengar penjelasan Maya pun hanya ber 'oh' ria tanpa menanggapi ucapan anak didiknya itu.
"Saya antar aja yuk, sekalian biar saya tau rumah kamu" ucap Ilham dengan senyum manisnya.
"Maaf pak tapi saya udah dijemput sama suami saya. Bentar lagi juga nyampe"
"Ngapain bohong sih pak. Bapak aja yang nggak percaya sama saya"
Tin,,,
Suara klakson mobil yang baru saja menepi membuat Dinda menolehkan kepalanya. Senyumnya mengembang melihat seorang pria dengan kemeja navy keluar dari mobil tersebut. Sontak gadis itu berdiri menyongsong Dimas yang berjalan ke arahnya.
Mendapati tingkah istrinya yang tak biasa, Dimas pun mengerutkan keningnya dan tersenyum pada akhirnya.
"Eeemh,,, kangen yah?" Ucap Dimas mengeratkan pelukannya.
Dinda sendiri sebenarnya malu dengan sikapnya itu, tapi mau bagaimana lagi. Mungkin dengan seperti ini dosennya itu akan percaya kalau dia benar-benar sudah menikah, begitu pikirnya.
__ADS_1
"Dinda kenalin sama dosen Dinda yuk mas" ucap Dinda setelah melepaskan pelukannya. Ia pun menggandeng lengan suaminya itu dan berjalan mendekati Maya dan Ilham.
Maya sendiri yang masih duduk di bangku halte pun sesekali memperhatikan raut wajah Ilham yang terlihat lucu di matanya. Dosen yang terlihat tampan dengan rambut cepaknya itu terlihat tenang, namun juga terkejut diwaktu yang bersamaan.
"Kenalin mas, ini pak Ilham dan pak Ilham, ini mas Dimas suami Dinda" Dinda memperkenalkan kedua laki-laki yang saling berhadapan itu.
Keduanya pun saling berjabat tangan dan menyebutkan nama masing-masing.
"Kalian bener sudah menikah?" Tanya Ilham setelah melepaskan tangannya dari Dimas.
"Iya" jawab Dimas.
"Berapa lama?"
"Emm,,, hampir satu setengah tahunan"
"Kalian sengaja bersandiwara kan?" Sinis Ilham tak percaya.
Dimas yang tak tau apa-apa pun mengerutkan keningnya dan menoleh pada Dinda yang masih merangkul lengannya.
"Pak Ilham kenapa sih. Kami tuh beneran udah nikah pak. Ah, atau bapak mau lihat KTP Dinda" sewot Dinda sembari membuka tasnya mencari dompet yang ada KTP di dalamnya.
"Bisa aja kan kalian berbohong. Dinda aja sekarang masih semester satu. Satu setengah tahun lalu bukannya dia masih SMA? Kalau mau bohong itu yang realistis" sinis Ilham dan menatap Dimas tajam.
Dimas yang semula bingung pun mulai memahami situasi di depannya. Dengan percaya diri, Dimas membalas ucapan dosen yang kentara sekali menyukai istrinya itu.
"Kami memang menikah saat Dinda baru saja naik kelas tiga SMA. Dan bagaimana itu bisa terjadi, sepertinya bukan urusan anda untuk mengetahuinya"
"Nih pak KTP Dinda" Dinda menyodorkan KTPnya pada Ilham.
Dengan wajah tak percaya, Ilham mengamati kartu kecil yang dipegangnya. Tulisan 'kawin' pada status perkawinan benar-benar membuatnya terdiam tanpa kata. Aah,,, benarkah ia sudah dibutakan oleh cinta, sehingga dengan begitu bodohnya ia mengharap pada istri orang.
__ADS_1
Perlahan, Ilham menurunkan tangannya dan menyerahkan kembali KTP Dinda. "Maaf, saya tidak bermaksud untuk,,,"
"Nggak papa" potong Dimas. "Dengan begini saya jadi tau kalau istri saya hanya mencintai suaminya. Ya kan sayang?" Ucap Dimas kemudian mengecup pipi Dinda yang tentu saja mendapat pelototan dari istri kecilnya itu.