
Dimas Putra Sanjaya 28th. Anak pertama dari keluarga Sanjaya. Ayahnya merupakan seorang dokter spesialis jantung senior, sedangkan ibunya menjalankan bisnis keluarga yang bergerak di bidang properti dan juga sebuah salon kecantikan ternama di kotanya. Kesibukan kedua orang tuanya membuatnya lebih leluasa menjalani hidupnya. Bahkan kebiasaannya yang jarang di rumah mengenalkannya pada dunia malam. Klub malam menjadi tujuan ke duanya setelah arena balap.
Semenjak SMA ia sudah menjadi raja dikalangannya. Sifat arogan dan setia kawan membuatnya dipercaya menjadi ketua sebuah geng sekolah. Geng 'Bad Boy ' begitu teman-teman mereka menyebutnya bukanlah geng yang suka membully atau memalak teman-teman satu sekolah. Mereka bahkan sudah seperti geng yang menjadi kebanggaan siswa-siswa lainnya. Mereka selalu berada di garis terdepan saat teman satu sekolahnya ada yang mengganggu. Latar belakang anggota geng yang kebanyakan dari keluarga berpengaruh membuat keberadaan geng bad boy disegani. Bahkan gadis-gadis pun banyak yang mendambanya. Tampan, kaya dan sedikit nakal. Aahhh,,,bukankah itu memang dambaan gadis-gadis seusia itu.
Orang tuanya bukanlah orang yang tak perhatian kepada anak-anaknya. Pak Lukman Sanjaya merupakan orang yang tegas dan bijaksana. Sedangkan istrinya Ambarsari adalah seorang ibu yang sangat menyayangi anak-anaknya. Di sela-sela kesibukannya ia selalu menyempatkan diri menghabiskan waktu dengan keluarganya. Ia bukannya tidak mengetahui apa yang dilakukan putranya di luar rumah. Berkali-kali ia menasehati putranya untuk meninggalkan kebiasaannya itu. Tapi Dimas sama sekali tak menggubrisnya. Di rumah ia adalah anak yang penurut dan juga sangat sayang keluarga. Tapi di luar ia adalah Dimas sang trouble maker. Kantor polisi dan juga rumah sakit adalah dua tempat yang sering dikunjunginya karena hobinya.
Klub malam mengenalkannya pada sosok Siska Amalia. Gadis cantik yang dua tahun lebih tua darinya. Tiga tahun waktu berpacaran bukanlah waktu yang singkat. Terlebih bagi Siska yang usianya hampir menginjak kepala tiga. Tidak ada hal yang lebih diharapkan gadis seusianya selain pernikahan. Hal yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Dimas. Kesenangan dan kebebasan membuatnya melupakan pentingnya sebuah status antara dia dan kekasihnya. Hal tersebutlah yang membuat Siska jengah dan akhirnya meninggalkannya.
Dua bulan berlalu dari acara pernikahan Dimas dan Adinda.
Perbuatan yang ia lakukan kepada Dinda sepertinya merupakan titik balik dari kehidupannya. Bisa dibilang Dimas memang seorang berandalan di luar. Tapi untuk menyakiti bahkan menghancurkan hidup seorang gadis, sama sekali tak pernah terpikirkan olehnya. Dan ia pun masih ingat betul perbuatannya yang merenggut kesucian seorang gadis. Terlebih gadis itu masih berstatus pelajar. Penyesalan dan rasa bersalah kini mengisi hati dan pikirannya. Terbersit tekad dalam hatinya untuk meninggalkan kehidupannya yang lalu.
Pagi hari di ruang makan keluarga Sanjaya.
__ADS_1
''Yang lain mana ma?'' tanya Dimas yang baru tiba di ruang makan.
''Papa berangkat tadi pagi-pagi sekali, kalau si Lita masih tidur kayanya. Kan libur dia'' jawab mama Ambar sambil mengisi piringnya dengan makanan di depannya. ''Oh ya, kamu jadi berangkat ke kota x?"
"Jadi ma. Nanti Dimas berangkat dari kantor"
"Rumah Dinda kan dekat dari sana, nanti kamu mampir lah berkunjung".
Mama Ambar melihat perubahan ekspresi di wajah Dimas. "Gimana perkembangan pembangunan di kota itu?" tanya mama mengalihkan pembicaraan.
"Bagus, sampai saat ini semua lancar. Tampaknya kita memilih kontraktor yang tepat".
"Nampaknya anak mama sudah mulai bisa dilepas nih" ucap mama Ambar tersenyum ke arah Dimas.
__ADS_1
"Ihh, mama. Emang Dimas kemaren-kemaren diiket apa?" jawab Dimas pura-pura kesal.
Begitulah kehidupan Dimas saat ini. Ia semakin menenggelamkan diri dengan kesibukannya membantu bisnis keluarganya. Hari-harinya diisi dengan bekerja dan bekerja. Tak ada lagi balapan ataupun klub malam mengisi hari-harinya. Semua ia lakukan karena tekadnya yang benar-benar ingin berubah. Berharap sedikit saja perubahan itu akan mengurangi rasa bersalahnya.
Sudah sebulan lebih tahun ajaran baru dimulai. Dan selama itu pula belum sekalipun Dinda masuk sekolah. Pihak sekolah yang mengetahui peristiwa yang menimpa Dinda pun tak mempermasalahkan ijin sakit yang diajukannya. Ketiga sahabat Dindapun tak keberatan membantu Dinda agar tidak ketinggalan pelajaran. Bagaimanapun juga, tahun ini adalah tahun terakhir mereka mengenyam pendidikan di bangku SMA. Dan mereka berharap dapat mengakhirinya dengan hasil yang memuaskan.
Hari ini rumah Dinda kedatangan tamu dari pihak sekolah. Dinda yang masih belum siap bertemu dengan orang luarpun hanya berdiam di kamar. Hatinya bertanya-tanya tentang maksud kedatangan dari Kepala sekolah dan beberapa orang dari bagian kesiswaan yang salah satunya adalah pak Joko wali kelasnya.
"Mari pak silakan duduk" pak Sholeh mempersilakan tamunya.
Bu Atikah datang membawakan minuman dan kudapan untuk para tamu. Kemudian ia pun ikut duduk memperhatikan di samping pak Sholeh. Setelah berbasa-basi menanyakan keadaan Adinda, pak Joko memulai pembicaraan yang terlihat lebih serius.
"Begini pak, maksud kedatangan kami kemari selain untuk bersilaturahmi dan menjenguk Dinda, kami juga ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak terkait sekolah Dinda".
__ADS_1