
Hari minggu. Jarum jam menunjukkan pukul sembilan pagi. Dinda baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang masih tergerai. Sesekali ia mengusap rambutnya itu dengan handuk kecil yang ia sampirkan di bahunya. Ini adalah kali kedua ia mandi pagi itu. Selesai sarapan pagi tadi, Dinda memilih untuk ikut mbak Sari ke pasar.
Ya begitulah Dinda, sesekali saat hari libur, ia memilih mengikuti asisten rumah tangga itu untuk berbelanja keperluan dapur. Bosan membuatnya merasa antusias untuk menginjakkan kakinya di pasar tradisional. Dengan begitu, ia bisa menikmati jajanan pasar kesukaannya sepuasnya. Bahkan mbak Sari dan bik Narti yang tahu kebiasaan Dinda itu merasa senang dengan majikannya itu. Terkadang tanpa Dinda minta pun, mereka membelikannya aneka jajanan pasar yang biasa Dinda beli.
Ceklek
Dimas masuk kamar dan melihat Dinda yang sedang mengeringkan rambutnya di depan meja rias.
"Kamu mandi lagi Din?" Dimas duduk di belakang Dinda.
"Iya mas, di pasar tadi kotor banget karena hujan semalam"
Dimas memperhatikan Dinda yang asyik dengan rambutnya. Mengurainya dan mengibar-ngibarkannya supaya terkena sapuan angin hair dryer. Pandangan Dimas terhenti pada leher jenjang Dinda yang terlihat jelas karena posisinya yang memiringkan kepalanya.
Glekkk
"Aku bantu" Dimas meraih hair dryer dari tangan Dinda dan menggantikan pekerjaannya.
"Mas nggak ada acara hari ini?"
"Enggak. Kenapa?"
"Mas nggak kepikiran gitu ngajakin Dinda jalan-jalan?" Dinda memperhatikan wajah Dimas dari kaca di depannya.
Dimas pun tersenyum mendengar ucapan Dinda. Ia merasa senang karena sejauh ini Dinda telah banyak berubah dibanding Dinda saat pertama datang ke rumah itu. Dinda yang sekarang lebih ceria dan juga lebih terbuka tentang keinginannya. Bahkan, Dinda tak sungkan merajuk pada Dimas jika keinginannya itu tidak terpenuhi.
Dimas mematikan dan meletakkan hair dryer di depan Dinda. Kemudian, ia pun mengalungkan kedua lengannya sehingga posisinya kini sedang memeluk istrinya itu dari belakang. Dengan sedikit membungkuk, ia menyandarkan dagunya pada pundak Dinda dan perlahan mengecup pelan leher yang sedari tadi terbuka itu.
Cup
Deg
Dinda meremang merasakan perlakuan manis dari Dimas.
"Iihhh,,, mas, geli ah" ucapnya menyembunyikan kegugupannya.
"Emang istrinya mas ini mau ngajakin kemana?" Tanya Dimas masih melanjutkan aksinya.
"Emm,,, ke taman hiburan boleh nggak? Selama di sini aku kan belum pernah ke sana. Eh ajak Maya juga boleh nggak mas? Kasian kan dia pasti bosan di kosannya. Lagian dulu pas piknik juga kita nggak semp,,,"
Ucapan Dinda terhenti karena kini Dimas sudah menyumpal mulut cerewetnya itu dengan bibirnya. Ah, entah sejak kapan ia membalik posisi gadis itu sehingga kini mereka sudah berdiri berhadapan dan bibir saling memagut.
__ADS_1
Dinda sendiri seolah menikmati kegiatan itu, ia memejamkan mata merasakan setiap perlakuan suaminya.
Byar
Dimas membuka matanya. Ia seolah teringat dengan posisinya saat ini yang begitu menginginkan istrinya itu.
Sial!!! Hampir saja,,,
"Maaf" Dimas berlalu begitu saja menuju kamar mandi. Meninggalkan Dinda yang masih termangu karena ucapannya.
Kenapa dia minta maaf? Aku kan istrinya. Apa sih yang dipirkannya. Aaaaa,,, aku kira bakalan terjadi. Eh, apa yang aku pikirkan sih. Aaaa,,, kenapa jadi ngeres gini.
"Kamu bersiap aja, kita pergi setelah aku mandi" ucap Dimas yang tiba-tiba melongok dari pintu kamar mandi.
"I,,, iya" jawab Dinda lirih.
Dinda dan Dimas kini sudah siap untuk pergi ke taman hiburan. Dimas menggandeng tangan Dinda turun dari tangga. Setelah berpamitan dengan mama Ambar yang berada di kebun belakang, mereka pun berjalan menuju garasi melewati Talita yang sedang menonton tv di ruang tengah.
"Cie,,, cie,,, gandengan. Kaya nenek-nenek mo nyebrang ajah sih. Pada mau kemana ini kakakku sayang?"
"Kencan dong. Emang jomblo, bisanya cuma ngadepin tv di rumah" sahut Dimas menyindir adiknya. Dinda pun tersenyum melihat tingkah kakak beradik itu.
"Ayok kalau mau ikut. Kan asik bisa rame-rame. Ntar ada Maya juga kok" Dinda menimpali.
"Nggak usah sayang, nggak enak ngajakin jomblo. Ntar dia ngiri lagi sama kita"
"Haiiissss,,," Talita menatap kakaknya jengah. Matanya beralih menatap Dinda dengan manisnya. "Beneran kak boleh ikut?"
"Iya, cepetan ganti baju kalau mo ikut" jawab Dinda.
"Ok, siippp" Talita berlari menuju kamarnya.
Baru saja Dinda mendudukkan dirinya menunggu Talita, suara bel pintu membuatnya kembali berdiri untuk melihat siapa tamu yang datang.
"Kak Andra" ucapnya saat mbak Sari lebih dulu membukakan pintu untuk Andra.
"Hai Din" sapa Andra mengangkat tangannya.
"Ada perlu apa kak?" Tanya Dinda sedikit khawatir. Ia kembali mengingat kejadian saat Andra dan Dimas berkelahi karena dirinya.
"Talita nya ada?"
__ADS_1
Eh, Talita? Kirain,,, Din, Din. Ge er banget sih kamu.
"Ada kok, tapi kita mau pergi"
"Ngapain lo?" Ucap Dimas tiba-tiba.
"Apel dong bang. Kan abang yang nyuruh buat berjuang" jawab Andra santai.
Loh kok abang sih? Jadi beneran ini kak Andra suka sama Talita?
"Yakin lo diterima?" Sinis Dimas sembari mendudukkan dirinya di sofa. Kemudian disusul Andra yang duduk di depannya.
"Yang penting kan usaha dulu bang"
Di tengah pembicaraan mereka, datang lagi dua tamu yang mengejutkan Dinda.
"Assalamu'alaikum" ucap Maya dan Niko bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" jawab ketiga orang itu.
"Kalian kenapa bisa barengan?" Tanya Dinda penasaran.
"Hehehe,,, iya, aku juga boleh ikut kan Din?" Niko menggaruk belakang kepalanya.
"Mas yang hubungin Niko Din. Kasian Maya kalau ngeliatin kita berduaan"
"Ihhh,,, mas apaan sih" ucap Dinda malu.
"Ayok, berangkat" ucap Talita yang tiba-tiba sudah menggandeng Dinda. "Loh, Ndra. Ngapain lo di sini?"
"Eh, ini mau ikut kalian. Kasian kamu kan kalau nggak ada temennya" bohong Andra membuat Talita jengah.
"Ya udah ayok" Dimas berdiri dan meraih tangan Dinda.
Tiga pasang manusia itupun akhirnya berlalu dari ruang tamu keluarga Sanjaya. Dinda yang melihat Niko dan Andra menggunakan motor pun seketika meminta Dimas untuk membawa motornya saja. Dan seperti biasa, Dinda selalu saja menang setiap kali berdebat dengan suaminya itu.
Sesampainya di taman hiburan, Dimas tak sedikitpun melepaskan genggamannya pada jemari Dinda. Bahkan, untuk menaiki wahana pun, Dinda tidak bisa leluasa berdekatan dengan Maya dan juga Talita karena Dimas yang selalu ngotot menemaninya.
Keempat orang lainnya pun sampai geleng-geleng kepala melihat perlakuan Dimas yang begitu berlebihan kepada istrinya itu. Dinda sendiri, antara senang dan kesal melihat tingkah suaminya itu.
Tau gini berangkat sendiri aja sama Maya sama Talita.
__ADS_1