
Dimas keluar dari kamar Dinda dengan keadaan yang sudah lebih segar. Dengan celana pendek selutut dan kaos berwarna putih ia berjalan menuju dapur bermaksud mencari istrinya. Rambutnya yang masih basah ia sisir ke atas sehingga makin menambah aura ketampanannya. Ia berdiri di depan pintu dapur dan mengedarkan pandangannya mencari sosok Dinda. Para ibu-ibu yang sedang sibuk di dapur pun tak melewatkan kesempatan menatap pria gagah yang nampak kebingungan itu.
"Nyariin Dinda Dim?" Tanya bu Atikah yang melihat Dimas berdiri di pintu dapur.
"Iya buk" Dimas membalikkan tubuhnya menatap mertuanya.
"Dia di depan sama mbah uti. Kamu sarapan dulu gih. Belum sarapan kan tadi?"
"Nanti aja buk, Dimas ke depan dulu" ucapnya sembari berjalan meninggalkan dapur.
Seketika suasana dapur pun heboh sepeninggal Dimas dari sana.
Itu suaminya Dinda dek? Ganteng banget ya.
Mantumu kaya artis ya mbak?
Masih punya saudara laki-laki nggak mbak, mau juga punya mantu kaya Dimas.
"Haisss,,, ibu-ibu ini apaan sih. Udah ah, nggak enak nanti kedengeran Dimas" ucap bu Atikah menanggapi kecerewetan ibu-ibu lainnya di dapur.
Dimas melangkahkan kakinya menuju ruang tamu tempat istrinya berada. Nampak kesibukan beberapa tukang dekor yang hilir mudik menghias rumah sederhana itu untuk perhelatan acara sore nanti. Sejenak langkah kakinya terhenti melihat sosok istrinya yang sedang asik bercanda dengan saudara-saudaranya dan juga seorang wanita tua di tengah-tengahnya.
"Mas! Sini" Dinda melambaikan tangannya ke arah Dimas.
Dimas pun berjalan menghampiri istrinya.
"Ini nenek mau kenalan" Dinda berdiri menyambut Dimas dan menarik tangan laki-laki itu untuk mendekat.
"Ahhh,,, iki putuku. Ganteng tenan kue le" Ucap wanita sepuh yang tadinya duduk di samping Dinda.
__ADS_1
Dimas pun meraih tangan sepuh itu dan menciumnya. Dimas bisa menebak kalau dia adalah nenek Dinda karena di sisi lain nenek itu ada Alfian yang menggelayut di lengan kirinya dan Anisa di sofa yang lain.
"Duduk sini le" nenek menepuk tempat kosong di sampingnya yang tadinya diduduki Dinda.
"Iya nek" Dimas duduk di samping nenek dan Dinda mendudukan dirinya di bawah, di depan kaki Anisa.
"Heh, panggil mbah uti. Ojo melu-melu Dinda manggil nenek"
"Iya mbah uti" ucap Dimas mengerti.
"Lhah kan biar keren nek kaya di tipi-tipi" sahut Dinda.
"Al juga seneng manggil nenek" Alfian menimpali.
"Helehh,,, wes nang, ora usah dirungokke bocah Dinda kuwi" Dimas cuma tersenyum menanggapi ucapan mbah uti yang tak ia mengerti.
"Kuwe ki umurmu piro to le, nikah kok ndadak koyo ngono, simbah dadine ora iso teko".
"Udah tua nek, mas Dim udah mau tiga puluh" celetuk Dinda yang membuat Dimas mengerutkan keningnya.
"Hush, bocah iki pancen mbuh. Bocah wedok kuwi sing sopan karo bojone" kesal simbah menjewer telinga Dinda.
"Aduh,,, aduh,,, ampun nek. Sakit" Dinda meringis memegangi telinganya.
Dimas sendiri tersenyum gemas menatap istrinya yang ternyata sedikit tengil itu. Dinda sendiri baru kali ini bertemu dengan nenek setelah pernikahannya dengan Dimas. Saat itu nenek tidak bisa hadir karena kesehatannya.
"Biyen simbah ngiro Dinda kui hamil disik lho le. Lha wong bocah ijeh sekolah kok kesusu rabi"
Dinda dan Dimas terlihat canggung mendengar kalimat terakhir yang diucapkan simbahnya. Dimas yang tidak mengerti bahasa jawa pun sedikit banyak menangkap apa yang dimaksud neneknya itu.
__ADS_1
"Eh Din, ajak Dimas sarapan dulu gih. Tadi pagi kan nggak ikut sarapan, dia pasti lapar" ucap Anisa tiba-tiba. Dia paham adik dan adik iparnya itu tidak nyaman dengan ucapan simbahnya.
Dinda pun pamit untuk mengantar Dimas sarapan. Karena banyak orang berseliweran di rumah itu, Dimas meminta Dinda membawakan makanannya ke kamar. Dimas sendiri sebenarnya tidak terlalu nyaman dengan banyaknya orang asing yang berada satu rumah dengannya. Tapi karena keramahan keluarga besar Dinda membuatnya sedikit banyak mulai terbiasa. Terlebih lagi, mereka memperlakukan Dimas bak anak laki-laki yang sangat berharga. Yah, itu mungkin karena mereka tidak tahu saja penyebab ia menikahi Dinda, pikirnya.
Waktu sudah menjelang malam. Seluruh rangkaian acara lamaran pun sudah sedari tadi selesai dan berjalan dengan lancar. Rumah yang tadinya riuh dipenuhi tamu dari mempelai, tetangga dan juga saudara pun berangsur sepi meninggalkan beberapa keluarga inti yang memang berniat untuk menginap. Termasuk mbah uti, pak de Munif beserta istri dan dua anaknya.
Dinda sudah sedari tadi berada di kamarnya. Nampak raut kesal menghiasi wajah ayunya.
Flash back:
Beberapa perempuan yang terdiri dari saudara dan juga ibu-ibu tetangga bergantian mengajak Dimas berselfi ria di atas teras yang sudah di sulap bak pelaminan penuh bunga. Awalnya Dinda merasa bangga karena dialah pemilik dari laki-laki tampan idola baru ibu-ibu itu. Hingga akhirnya, saat Tyas sepupunya dan juga gadis-gadis lainnya mulai ikut-ikutan mendekati suaminya, ada rasa tidak rela menyusup ke hatinya. Dan lebih kesalnya lagi saat Dimas hanya tersenyum dan melayani permintaan mereka untuk berfoto bersama.
Flash back end.
Ceklek
Dimas memasuki kamar dan melihat Dinda sedang menelungkupkan wajahnya di atas bantal. Berfikir Dinda tidur, Dimas pun melepas kemeja batik yang masih dikenakannya sedari acara tadi.
"Udah, jadi artisnya?" Ucap Dinda tiba-tiba mengagetkan Dimas yang saat itu sedang membuka lemari.
"Hah? Siapa?" Dimas menoleh ke arah Dinda dengan tatapan bingung.
"Mas Dim kan seharian ini jadi artis. Enak kan di ajak foto-foto sama cewek-cewek itu?"
Dimas tersenyum mendengar ucapan Dinda. Ia pun mengurungkan niatnya mengambil baju ganti dan berjalan mendekati istrinya itu dengan masih bertelanjang dada. Dimas mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur sembari menatap istrinya yang masih dalam posisi tengkurap.
"Kalau ngomong itu lihat orangnya dong Din" ucap Dimas mencoba mengangkat tubuh Dinda.
"Apa sih?" Elak Dinda.
__ADS_1
"Apa istriku ini sedang cemburu hm?" Goda Dimas berhasil membalik tubuh Dinda.
"Ih kenapa gak pake baju sih?" Dinda menutup matanya melihat Dimas bertelanjang dada.