Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Obrolan


__ADS_3

"Saya pak" jawab Dinda pada laki-laki yang memanggil namanya.


"Bisa ikut saya ke kantor?" Tanya Ilham si dosen baru.


"Sekarang pak?"


"Iya" jawabnya kemudian berlalu meninggalkan kedua gadis yang saling pandang karena bingung.


"Ada apa pak Ilham tiba-tiba manggil kamu Din?" Maya penasaran.


"Tau tuh. Ayok May temenin" Dinda berdiri menarik tangan Maya.


"Eh,,,eh,,, kan kamu yang dipanggil. Ngapa aku mesti ikut sih" protes Maya, namun masih saja ikut ketika Dinda menariknya.


Dinda duduk di depan Ilham yang masih sibuk dengan berkas-berkas di depannya. Selain mereka berdua, di ruangan itu ada pula bu Ratih yang juga sibuk dengan laptop di mejanya. Namun meja bu Ratih yang berada di sudut ruangan membuat Dinda merasa hanya ada dirinya dan Ilham di ruangan tersebut.


Ruangan kantor yang sepi membuat Dinda merasa tak nyaman berlama-lama duduk di depan dosen baru itu. Dengan menyimpan kekesalannya, gadis itu memberanikan diri bertanya pada sang dosen yang nampak acuh dengan keberadaannya.


"Maaf pak, sebenarnya saya di sini disuruh ngapain ya?"


"Nggak ngapa-ngapain" jawab Ilham tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas di depannya.


"Maksud bapak?"


"Jam kuliah kamu kan masih lima belas menit lagi, kamu bisa nunggu di sini" Ilham beralih menatap Dinda yang nampak bingung di depannya.


"Trus maksud pak Ilham manggil saya ke sini tu apa? Saya nggak ngerti"


Ilham menoleh pada rekannya di sudut ruangan yang masih nampak sibuk dengan laptopnya. Kemudian kembali menatap Dinda yang duduk di depannya dengan menyunggingkan senyum yang entah apa maksudnya.


"Kamu udah ngerjain tugas kamu?" Tanya Ilham.


"Udah pak"


"Udah cukup tidur?"

__ADS_1


"Hah? Maksud bapak?"


"Saya nggak mau kamu nanti tidur di kelas saya. Kalau sampai itu terjadi, saya nggak akan segan untuk menghukum kamu lebih berat dari kemarin" ancam Ilham yang berhasil membuat Dinda mematung di tempatnya. "Oh iya, kamu punya pacar?"


"Nggak pak, saya,,,"


"Baguslah kalau begitu" potong Ilham dengan senyum di bibirnya. "Kamu bisa kembali ke kelas, sebentar lagi pelajaran dimulai"


"Hahh?"


Ini maksudnya apa sih. Masa dipanggil cuma ditanya kaya gitu. Haissshhh,,,


-


Selesai makan malam, Dinda yang sudah digandeng tangannya oleh Talita pun tak bisa menolak saat adik iparnya itu menariknya menuju kamarnya. Dimas yang duduk di ruang tengah bersama kedua orang tuanya pun melihat adiknya itu begitu terburu-buru menarik tangan istrinya.


"Eh,,, eh,,, mau dibawa kemana Dinda?" Dimas meletakkan remot tv yang dipegangnya.


"Pinjam bentar kak" jawab Talita masih berjalan menggandeng Dinda melewati Dimas.


"Nggak janji. Kak Dinda mau aku ajak tidur di kamarku. Kakak siap-siap aja tidur sendiri" ucap Talita sembari menaiki tangga menuju kamarnya. Dinda yang digandengnya pun hanya tersenyum mendengar Talita yang menggoda kakaknya.


"Awas lo ya!" Ancam Dimas mengangkat sebelah tangannya pada Talita yang sudah menjauh.


"Oh iya Dim, gimana soal rencana resepsi kalian? Kamu sudah bicara sama Dinda?" Tanya mama Ambar.


"Udah ma. Dinda bilang sih terserah mama aja".


"Loh, kok gitu. Apa dia nggak kepengen pernikahan kalian dirayakan di gedung dan dianya make baju pengantin yang cantik gitu?"


"Dimas juga pengennya gitu ma. Sekalian ngenalin Dinda ke keluarga besar. Nanti Dimas omongin lagi deh".


"Kamu bicarain bener-bener sama istri kamu. Kalau ingat pernikahan kalian, papa ngerasa kasihan sama Dinda. Bagaimanapun juga, dia berhak diperlakukan sebagaimana gadis yang menikah pada umumnya" sahut pak Lukman yang duduk di samping mama Ambar.


"Iya pa. Mungkin nanti setelah pernikahan kakaknya Dimas akan bujuk Dinda lagi"

__ADS_1


"Iya, pokoknya mama pengen kalian menggelar resepsi yang megah" sahut mama Ambar bersemangat.


"Nggak gitu juga kali ma".


Di ruangan lain, Talita terlihat begitu serius bercerita kepada kakak ipar yang lebih muda darinya itu. Entah kenapa semenjak kehadiran Dinda di keluarganya, ia merasa memiliki sahabat yang benar-benar mengerti dirinya. Tanpa ragu-ragu ia pasti akan menceritakan apa saja termasuk kisah asmaranya pada gadis yang menjadi istri kakaknya itu.


"Seneng banget pasti kamu Lit" ucap Dinda setelah Talita menceritakan perihal Andra yang selalu saja menembaknya tak kenal tempat.


"Yaaaa,,, gimana ya. Antara seneng sama sebel sih kak. Malu tau ditembak di depan umum. Mana dia kaya lebay gitu orangnya"


"Lebay gimana? Orang sweet gitu kok lebay"


"Tau ah. Emmm,,, kak Dinda cinta nggak sama kak Dimas?"


"Issshhh,,, kok malah nanyain aku sih" omel Dinda.


"Ck, jawab aja sih kak. Aku kan lagi nyari referensi ini"


"Helehh,,, bahasanya pake nyari referensi segala" Dinda mencebikkan bibirnya.


"Jawab dong. Kapan kak Dinda sadar mulai cinta sama kak Dimas?"


"Emm,,, kapan ya?" Dinda mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuknya, sedang keningnya terlihat mengkerut seolah sedang berfikir serius. "Semula aku nggak tau pasti sih, yang aku rasain itu cinta apa bukan. Tapi seiring berjalannya waktu, aku selalu ngerasa nyaman kalau dekat sama mas Dim. Aku merasa cemburu saat dia dekat dengan wanita lain, aku ngerasa pengen terus sama dia. Ya, kangen gitu lah kalau jauh" ucap Dinda tersipu.


Bayangan saat dirinya pulang sendiri ke rumah orang tuanya pun terlintas di kepalanya. Saat itu sebenarnya ia merasa kecewa dengan masa lalu Dimas. Namun entah mengapa, rasa rindu pada suaminya itu mengalahkan kekecewaannya yang akhirnya menguap begitu saja setelah laki-laki itu menjemputnya.


"Ciieee,,, sedalam itu ternyata. Kak Dinda beneran cinta sama kak Dimas? Emang apa yang dilihat sih? Tau sendiri kak Dimas kan sudah,,," Talita menghentikan ucapannya, sadar kakak iparnya itu menunjukkan raut yang berbeda. "Maaf,,,"


Dinda tersenyum tipis mendengar ucapan Talita. Ia pun menggelengkan kepalanya menandakan ia tak tersinggung dengan ucapan adik iparnya itu.


"Itulah anehnya Lit" ucapnya kemudian. "Aku nggak tau cara kerja tuhan menjodohkan kami. Dulu aku benci banget sama kakak kamu. Tapi setelah melihat usahanya dan juga ketulusannya, rasa benci itu seolah hilang begitu saja. Saya yakin tuhan sudah mengatur jodoh masing-masing mahluknya. Entah dengan cara apa mereka dipertemukan, satu yang pasti, tuhan hanya memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan. Dan benar saja, sampai saat ini mas Dim benar-benar jodoh terbaik buat aku".


"Ehem,,, bijaksana sekali anda" Talita menggelengkan kepalanya sembari bertepuk tangan dramatis menanggapi ucapan iparnya itu. "Bagaimana bisa anda seyakin itu?" Tanyanya bak wartawan senior.


"Entahlah, yang pasti aku melihat cinta yang begitu besar di mata kakakmu. Dan sebagai manusia yang ingin dicintai, aku nggak mungkin menyia-nyiakan hal itu. Makanya, kamu pikirin lagi perasaan kamu sama kak Andra. Jangan sampai kamu nyesel nantinya" pesan Dinda yang membuat Talita terlihat memikirkan sesuatu setelahnya.

__ADS_1


__ADS_2