Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Ancaman Papa


__ADS_3

Waktu menunjukkan hampir jam satu siang. Seorang laki-laki dengan malasnya masih saja bergelung dengan selimutnya. Kegalauan akan nasib cintanya seakan membuatnya enggan untuk menatap terangnya dunia. Suara dering hp yang sedari tadi memekakan telinga pun tak lantas membuatnya tergerak untuk menjawabnya.


Talita yang sudah muak dengan tingkah kakaknya itu pun berencana untuk menjahilinya. Ya, gadis itu baru saja kembali setelah menyelesaikan KKNnya, dan betapa terkejutnya ia tidak mendapati kakak iparnya di rumah karena suatu masalah dengan suaminya. Sedangkan ia tahu betul bahwa hubungan pasangan suami istri itu baru saja membaik.


Talita terlihat berfikir sebelum akhirnya membuka pintu kamar Dimas.


Ceklek


Dengan terburu-buru, Talita berlari menghampiri Dimas yang masih dibalut selimut di atas tempat tidurnya.


"Kak, kak Dimas,,, bangun. Dinda pulang tuh di bawah" mengguncang-guncang tubuh Dimas pura-pura panik.


Dimas yang mendengar nama Dinda disebut pun mendongakkan kepalanya bingung. "Hmmm?"


"Eeehhhh,,,, cepetan turun. Tuh Dinda di bawah"


"Dinda?" Dimas terbelalak.


"Iya. Ayo cepetan!"


Tanpa berfikir lagi, Dimas seketika membuka selimutnya dan melompat turun dari ranjang hingga hampir saja jatuh tersungkur. Secepat kilat ia berlari keluar kamar meninggalkan Talita yang terbengong melihat reaksi berlebihan kakaknya itu.


Dimas berlari menuruni tangga dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan. Langkah cepatnya membawanya hingga ke ruang tamu rumah itu, namun masih saja tak kunjung ia temukan sosok yang begitu dirindukannya itu. Ia pun kembali memutar tubuhnya menuju ruang makan di mana ia tadi sempat melihat orang tuanya yang sedang makan siang bersama.


"Dinda mana ma?" Tanyanya masih dalam posisi berdiri.


"Di rumahnya!" Jawab Talita yang tiba-tiba muncul menghampiri ke tiga orang di meja makan.


"Maksud kamu tadi apa bilang Dinda di sini?" Sewot Dimas.


"Ya biar kakak bangun lah. Apa lagi?"


"Duduk Dim" perintah pak Lukman tiba-tiba.

__ADS_1


Dimas menuruti ucapan tegas papanya itu dengan menarik kursi yang ada di samping mamanya. Kemudian ia pun mendudukkan dirinya dengan malas.


"Kalian ada masalah apa sih sampai Dinda kabur kaya gini hm?" Mama mengusap kepala anak sulungnya itu.


"Iya kakak gimana sih, baru juga baikan udah kaya gini lagi".


"Anak kecil bisa diem nggak?" Hardik Dimas tak suka dengan Talita.


"Eeehhh,,, kakak inget ya. Istri kakak itu bahkan lebih muda dari Lita"


"Jelasin sama papa Dim" ucap pak Lukman tiba-tiba.


"Jelasin apa sih pa?" Dimas menanggapi papanya.


"Kenapa Dinda sampai pulang ke rumah orang tuanya. Dan kamu, apa ini? Pagi baru pulang, balapan lagi kamu?!" Hardik papa.


Dimas diam saja menanggapi omelan papanya.


"Kalian kenapa sih nak? Baru juga mama seneng ngeliat kalian rukun. Eh, ini malah pada main kabur-kaburan. Kamu apain mantu mama?".


Dimas memang tidak terlalu mengetahui penyebab kemarahan istrinya itu. Yang ia tahu, Dinda cuma kesal dengan hubungannya dengan Siska dulu.


"Nggak mungkin kalau Dinda pulang gitu aja Dim. Kamu juga! Bukannya ngebujuk Dinda malah keluyuran gak jelas. Kamu bener pengen istri kamu nggak balik?" Sahut papa.


"Enggak lah pa. Dinda sendiri yang bilang nggak mau ketemu Dimas"


"Udah jelas kan, berarti kamu yang bikin dia kesel. Papa nggak mau tau! Kamu selesein masalah kamu sekarang juga atau papa suruh Dinda nggak balik sekalian!" Ancam papa.


Dimas sedikit terkejut dengan ucapan papanya itu. Ia tahu papanya itu tidak pernah main-main dengan ucapannya. Bahkan papanya itu selalu saja berhasil mengendalikan Dimas dengan ketegasan ucapan dan juga tindakannya.


"Tapi gimana caranya pa? Nomornya saja nggak bisa dihubungi" lirih Dimas terlihat putus asa.


"Jemput dia dong Dim" saran mama.

__ADS_1


"Dinda nggak mau ketemu Dimas ma" ulang Dimas penuh penekanan karena kesal.


"Kakak ini gimana sih. Cewek tu emang gitu kak. Bilangnya nggak mau, tapi aslinya ya pasti mau juga. Emang kakak mau nurutin gitu aja kalau kak Dinda bilang nggak mau balik sama kakak?" Timpal Talita.


"Udah lah. Kamu bersiap jemput istri kamu. Jangan pulang sebelum dia pulang. Dan jangan berharap papa mau punya mantu lagi kalau Dinda nggak mau pulang!" Ancam papa lagi.


Mama dan Talita sontak menahan tawanya mendengar ucapan pak Lukman. Sedangkan Dimas, sebisa mungkin ia menahan kesal karena ancaman papanya itu. Bagaimana bisa orang tua itu berpikir sejauh itu. Bahkan untuk membayangkannya saja Dimas tak berani. Ia benar-benar sudah terpaut dengan istri kesayangannya itu. Kalaupun Dinda tak mau kembali bersamanya nanti, mungkin dia juga akan tinggal di sana dan membujuk istrinya. Setidaknya begitu yang saat ini dipikirkannya.


Niko melambaikan tangannya saat melihat Maya keluar dari gerbang kampusnya. Gadis itu terlihat mempercepat langkahnya berjalan menghampiri Niko yang berdiri di samping mobilnya.


"Ada apa mas?" Tanya Maya begitu sampai di depan Niko.


"Bisa bicara sebentar?"


"Bicara aja" jawab Maya datar.


"Nggak begini dong May. Masuk yuk" Niko mempersilahkan Maya masuk ke mobilnya.


"Ya udah, di dalam aja lho ya" Maya pun masuk ke dalam mobil Niko.


Tujuan Niko adalah mencari tahu tentang kepulangan Dinda ke rumah orang tuanya. Ia sendiri penasaran karena hal tersebut sepertinya membuat Dimas begitu kacau. Hari ini saja ia sudah begitu kerepotan mengambil alih semua pekerjaan Dimas karena Raya yang juga sekertarisnya itu sedang cuti hamil. Ia tak bisa membayangkan jika Dinda berlama-lama dengan aksi ngambeknya itu. Mungkin saja sahabatnya itu bisa stres dibuatnya, begitu pikirnya. Aaahhh,,, lebbayyy.


"Kenapa nggak suruh kak Dimas jemput Dinda mas? Dinda pasti seneng kok diperhatiin kaya gitu" saran Maya setelah mendengar keluh kesah Niko.


"Iya juga ya May. Orang kalau lagi jatuh cinta kenapa bisa bego kayak gini sih?" Ucap Niko ambigu. Dan Maya pun menatapnya heran karena ucapannya itu.


"Maksud aku, si Dimas itu lho. Kok dia nggak kepikiran buat jemput Dinda" elak Niko menghindari tatapan Maya.


"Kalau udah selesai Maya permisi dulu" Maya beringsut dari duduknya.


"Eeehh,,, tunggu dong. Nggak mau makan dulu? Aku traktir deh" tawar Niko mencegah Maya keluar dari mobilnya.


Makan? Boleh juga,,,

__ADS_1


"Ok, jangan nyesel ya udah nawarin Maya makan"


__ADS_2