
Hari sudah menjelang petang saat mobil yang ditumpangi Dinda memasuki halaman rumah keluarga Sanjaya. Merasakan mobil yang ditumpanginya berhenti, Dinda yang sedari tadi sibuk dengan Hpnya pun mengangkat kepalanya. Matanya tertuju pada Land Rover hitam yang terparkir tepat di depannya.
"Itu mobilnya" gumam Dinda.
Ia bertekad menguatkan hatinya untuk menghadapi kemungkinan bertemu dengan suaminya itu. Beberapa kali ia mengatur nafasnya untuk menghilangkan gugup yang menderanya. Tangannya mulai bergetar dan keringat dingin mulai nembasahi dahinya.
Ayolah Dinda, semalam kamu bahkan makan malam dengannya. Kenapa masih saja seperti ini.
"Non Dinda mau dibantu?" ucap pak Samsul yang melihat Dinda masih terdiam di dalam mobil.
"Nggak usah pak, saya bisa sendiri". Dinda membuka pintu dan turun dari mobil.
Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju pintu yang entah kenapa ia begitu takut untuk memasukinya. Tangannya terus mengepal meredam kegugupan yang semakin menguasainya.
Di depan pintu, Ia menyempatkan berhenti dan beberapa kali megatur nafasnya. Setelah helaan yang terakhir, ia pun memantapkan langkahnya memasuki pintu yang sudah berada di depannya.
"Assalamu'alaikum" ucapnya ragu-ragu.
Betapa terkejutnya ia saat melihat seseorang yang sedang berbincang dengan kedua mertuanya itu.
"Ibuuuk,,," pekiknya dan menghambur ke pelukan bu Atikah ibunya.
"Lho, udah pulang Din? Saking asiknya ngobrol sampe gak denger kamu pulang". Ucap mama Ambar yang memang tidak menyadari kepulangan Dinda.
"Kamu sehat kan nak?" Ucap bu Atikah melepaskan pelukan putrinya.
"Ibuk kapan dateng? Kenapa gak telfon Dinda? Ke sini sama siapa buk?" berondong Dinda.
"Satu-satu Din. Ibu sama bapak aja tadi ke sininya".
"Lha bapak mana?" Tanya Dinda yang memang sedari tadi tidak melihat sosok pak Sholeh.
__ADS_1
"Ada di kamar mandi. Kamu juga mandi dulu gih keburu malam".
"Iya buk, Dinda ke kamar dulu ya".
Dinda meninggalkan ruangan itu setelah berpamitan dengan ibu dan juga kedua mertuanya. Dengan senyum yang masih mengembang, ia berlari kecil menaiki tangga menuju kamarnya. Tak jauh dari sana, seseorang memperhatikanya dengan senyuman tersungging di bibirnya.
Malam itu, pak Sholeh dan bu Atikah memutuskan untuk menginap di rumah besannya itu. Adinda yang memang sudah kangen dengan orang tuanya itu mengajak mereka untuk tidur di kamarnya. Di kamar, Adinda sedang menonton tv sembari merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya.
"Kamu masih belum sembuh Din?" Ucap bu Atikah membelai kepala Adinda.
"Udah kok buk" jawab Dinda yang mengira ibunya itu bertanya tentang pingsannya kemarin malam.
"Maksud ibu trauma kamu"
"Ohhh,,,, itu. Tau deh buk, Dinda sih udah berusaha tapi kalau ngelihat dia masih aja takut".
"Katanya semalem kamu habis makan malam ada Dimas juga".
"Tapi setidaknya kan udah ada kemajuan kamu bisa menemuinya seperti itu. Kamu gak mau nerusin pengobatan kamu nak?"
"Tunggu-tunggu, kok ibu tau kalau aku berhenti ke psikiater. Mama yang cerita?" heran Dinda sembari menegakkan tubuhnya dan duduk bersila di samping bu Atikah.
"Dinda, ibu memang tinggal jauh dari kamu. Tapi ibu mengetahui semua yang berhubungan dengan kamu nak. Dari bu Ambar dan juga Dimas" jelas bu Atikah.
"Maksud ibuk, dia sering nelfon ibuk gitu?"
"Iya, kadang kalau kerjaannya deket rumah dia juga main ke sana. Dan ini, ibu sekarang bisa di sini itu ya karena Dimas".
Jawaban bu Atikah benar-benar membuat Dinda terkejut. Ia benar-benar tak menyangka Dimas menjalankan perannya sebagai seorang suami dan juga menantu untuk keluarganya.
"Maksud ibuk, ibuk kemari hari ini bukan karena memang mengunjungi Dinda seperti biasanya?"
__ADS_1
"Bukan. Kemarin malam Dimas nelfon ibuk, katanya kamu sakit. Jadi dia yang nyuruh ibuk buat datang nemenin kamu. Dia mengirim tiket dan dia juga tadi yang jemput ibuk ke bandara".
Dinda terdiam mendengarkan penjelasan ibunya.
"Din, Dimas itu baik nak. Mungkin caranya ketemu kamu aja yang salah. Tapi dia sudah menyesalinya Din. Ibu gak tau dia sebelum jadi mantu ibu kaya apa. Tapi sekarang yang ibu lihat Dimas itu benar-benar tulus nak" ucap bu Atikah lembut.
Nggak Maya nggak ibu, kenapa pada belain dia sih? Bukankah dia penjahatnya? Kenapa jadi aku yang merasa jadi orang jahat di sini?
Selagi Dinda bergelut dengan pikirannya, terlihat pak Sholeh yang memasuki kamar setelah selesai mengobrol dengan pak Lukman di ruang keluarga. Ia pun mendudukkan dirinya di samping putrinya.
"Ngomongin apa sih kok cemberut gini mukanya" ucap pak Sholeh membelai puncak kepala putrinya. "Gimana kuliahnya?" lanjut pak Sholeh.
"Baik pak" jawab Dinda singkat.
"Kamu senang kan Din?" tanya pak Sholeh.
"Iya pak".
"Din, besok bapak sama ibu temenin ke psikiater ya?" ucap bu Atikah tiba-tiba.
"Nggak ah buk, Dinda udah males ke sana. Yang ada Dinda di tanyain mulu kejadian itu" jawab Dinda mencebikkan bibirnya.
"Din, kamu nggak mau bergaul sama teman-temanmu kaya dulu? Punya banyak teman dan kemana-mana sendiri tanpa rasa khawatir?" ucap pak Sholeh menimpali ucapan istrinya.
"Dinda punya teman kok pak, bahkan kemarin Dinda juga kenalan ma temen laki-laki di kampus. Dinda bisa mengatasinya pak".
"Bagaimana dengan Dimas?".
Dimas lagi Dimas lagi. Kenapa hari ini kebanyakan bahas dia sih?
Dinda memang menghentikan pengobatannya secara sepihak. Yah, mungkin ia salah. Tapi bertemu dengan psikiater? Aahhh,,, ia benar-benar membencinya. Ia juga ingin hidup normal. Bukankah selama ini ia mengatasinya dengan baik? Ia bisa kuliah, punya teman walaupun tak seberapa. Ia juga bisa bersosialisasi dengan laki-laki walaupun sulit pada awalnya. Ia bisa melakukannya tanpa psikiater yang sok akrab itu. Terkecuali menyembuhkan traumanya pada Dimas. Yah, Dimas yang akhir-akhir ini membuatnya kesal karena orang-orang yang lebih bersimpati padanya.
__ADS_1