
Sore sebelumnya
Dinda yang yang sudah sadar dari tadi siang masih saja memejamkan matanya. Entah benar-benar tertidur atau hanya pura-pura, cuma Dinda yang tau. Disampingnya cuma ada Maya yang menungguinya.
Guntur? ya, tadi saat membuka mata Guntur lah yang disampingnya. Tapi begitu terkejutnya Guntur saat Dinda berteriak-teriak histeris karena melihatnya. Sorot matanya tak terarah, seperti seseorang yang ketakutan luar biasa. Tangannya meraih apa saja yang ada di dekatnya dan melemparnya mengusir laki-laki di depannya. Bukan hanya Guntur saja, bahkan Dinda bersikap sama pada pak Joko dan dokter Hans yang merawatnya.
Sedangkan Maya hanya berdiri sambil menangis di samping sahabatnya itu. Sesekali ia memeluk dan menenangkan Dinda tanpa perlawanan terhadapnya.
Dokter Hans yang melihatnya pun memastikan kalau Dinda mengalami trauma disebabkan kejadian yang baru saja dialaminya. Ia menjadi histeris saat melihat laki-laki bahkan yang sudah dikenalnya. Untuk saat ini hanya Maya dan perawat perempuan yang diijinkan memasuki ruangannya.
Sore itu Maya keluar ruangan menemui Guntur dan pak Joko yang berada di ruang tunggu rumah sakit.
"Mau kemana May?" tanya pak Joko yang melihat Maya mendatanginya.
"Mbak Nisa tadi telfon pak, katanya mereka udah hampir sampai" jawab Maya yang masih berdiri di depan Guntur.
__ADS_1
"Ooohhh,,,kalau gitu biar bapak sama Guntur yang nunggu di sini. Kamu tau keluarga Dinda kan Gun?"
"Iya pak" jawab Guntur tak bersemangat.
"Oh iya pak, tadi ada dua orang polisi mau melihat Dinda. Bapak sudah tau?" tanya Maya menambahi.
"Iya, tadi bapak sama Guntur ketemu pas mereka keluar".
"May!"
Anisa dan kedua orang tuanya baru saja tiba di rumah sakit. Anisa yang melihat Maya dari kejauhan langsung berlari memeluk Maya dengan terisak. Pak Sholeh dan bu Atikah yang melihatnya hanya saling pandang melemparkan tatapan heran pada kedua gadis yang sama-sama menangis itu.
Anisa memang sudah mengetahui kejadian yang menimpa adiknya, tapi tidak dengan kedua orang tuanya. Annisa hanya memberitahu bahwa Adinda sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Pak Sholeh yang langsung diajak menjemput Adinda pun tak menaruh curiga. Setahunya putrinya itu memang memiliki riwayat penyakit mag yang kerap kali kumat.
Mereka pun berjalan menuju ruang rawat Dinda. Sesampainya di depan pintu kamar, dengan ragu-ragu Maya membukanya. Anisa dan bu Atikah masuk lebih dulu mendekati Dinda. Melihat kondisi adiknya dari jarak sedekat itu, Anisa tak kuasa menahan tangisnya. Sedangkan bu Atikah mendekati Dinda dengan tatapan menyelidik. Melihat luka memar dibeberapa bagian wajah dan tangan Dinda yang tak tertutup selimut, membuat bu Atikah terkesiap.
__ADS_1
''Kamu kenapa nak?" air matanya meluncur begitu saja. Perlahan, ia mendekat dan memeluk tubuh Adinda. "Apa yang terjadi? kenapa bisa seperti ini?" lanjutnya masih terisak.
Dinda yang mendengar suara ibunya membuka matanya. Mulutnya terkunci, tapi matanya melepaskan air bening dengan begitu lancarnya. Anisa yang sedari tadi masih dalam posisi berdiri menghambur ikut memeluk adiknya itu. Mereka bertiga larut dalam tangisan yang mengharu biru.
Pak Soleh mendekat memastikan apa yang membuat ketiga wanita kesayangannya itu menangis sedemikian rupa.
"Dinda kenapa buk?" tanya pak Sholeh membuat Anisa dan bu Atikah melepaskan pelukannya pada Dinda.
Dinda yang mendengar suara laki-laki mendekatinya pun terlihat gelisah. Tangannya mencengkeram kuat lengan bu Atikah yang berada tepat di dekatnya dan menyembunyikan wajahnya di balik punggung ibunya.
"Pergi!!!, jangan mendekat, tolooong,,,tolooong,,,jangan mendekat, toloooongg,,,"
Pak Sholeh dan yang lainnya terkejut melihat reaksi Dinda. Pak Joko dan Guntur yang juga berada di ruangan itu segera menarik Pak Sholeh untuk keluar ruangan. Pak Sholeh yang tak mengetahui apa yang terjadi pun hanya mengikuti keduanya dengan berbagai pertanyaan di kepalanya.
Pak Joko, Guntur dan juga Pak Sholeh kini sedang duduk di kursi tunggu di luar ruangan Dinda. Pak Sholeh terlihat sangat terpukul mengetahui keadaan Adinda yang sebenarnya. Matanya meremang, membayangkan kejadian buruk yang dialami putrinya.
__ADS_1
''Dinda'' lirihnya menahan sesak di dadanya.