Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Luapkan Amarahmu


__ADS_3

Dimas membelokkan mobilnya memasuki sebuah komplek perumahan. Ia melajukan mobilnya pelan sembari memperhatikan alamat yang disebutkan oleh Maya. Sesampainya disebuah rumah yang dituju, ia pun memberhentikan mobilnya tepat di depan pintu gerbang hitam yang hanya terbuka separuhnya.


"Kak Dimas mau langsung pulang apa nungguin kita latihan?" Tawar Maya.


"Emang boleh?"


"Boleh kok, biasanya Kak Lita juga nungguin di dalam"


"Ya udah aku tungguin aja" Dimas tersenyum dan memarkirkan mobilnya tak jauh dari gerbang.


Kini mereka sudah memasuki rumah dengan halaman yang cukup luas. Terdapat bangunan terbuka yang membentang memenuhi separuh halaman depan yang memanjang hingga ke ujung belakang bagian rumah. Di sanalah tempat Dinda dan Maya mengikuti latihan karatenya.


Sudah hampir setahun ini Dinda mengikuti latihan karate di tempat itu. Terlebih semenjak kejadian itu, ia merasa harus bisa menjaga dirinya. Awalnya cukup sulit baginya untuk memasuki lingkungan yang baru, tapi ia mampu menjalaninya sampai akhirnya ada Maya yang selalu menemaninya.


Sebelumnya, ia dan ketiga temannya termasuk Maya juga mengikuti kegiatan serupa di kota asalnya. Maya yang awalnya enggan untuk melanjutkan pelatihannya pun akhirnya menerima tawaran Dinda untuk menemaninya berlatih. Alhasil disinilah mereka sekarang, di sebuah Dojo yang sudah terlihat ramai karena sebagian besar anggotanya adalah anak-anak dan hanya beberapa orang saja yang seusia dengannya.


Dinda dan Maya masuk untuk mengganti pakaiannya, sedangkan Dimas duduk menunggu di sisi lain halaman yang memang disediakan sebagai ruang tunggu untuk orang tua yang mengantar anak-anaknya.


"Nganter anak Mas?" Sapa seorang wanita yang masih terlihat muda. Wanita itu menggeser tubuhnya mendekat ke arah Dimas.


"Nggak" jawab Dimas acuh.


"Pasti ponakannya kan? Sama, saya juga lagi nganter ponakan"


"Bukan!"


"Aahh,,, pasti adeknya ya?" Imbuh wanita itu lagi.


"Saya nganter istri saya" ucap Dimas kemudian mengacuhkan wanita itu memainkan hpnya.


Merasa usahanya mendekati Dimas gagal wanita itu pun terdiam pura-pura sibuk dengan hpnya tanpa sedikitpun berpindah dari tempatnya.


Tak berapa lama terlihat Maya yang berlari keluar bersama rombongan yang lainnya. Ia menghampiri Dimas saat melihat laki-laki itu duduk di kursi tunggu. Setelah membisikkan sesuatu, ia kembali berlari menyusul rombongan yang sudah lebih dulu berlari keluar gerbang Dojo.


"Pada kemana kak?" Tanya Dinda pada seorang senior yang bertugas menjaga Dojo.

__ADS_1


"Mereka ke lapangan belakang komplek, Dinda kenapa bisa ketinggalan?"


Aahhh,,, sialan si Maya, kenapa aku ditinggal sih.


"Emm,,, aku tadi sholat dulu, eh malah ditinggal. Kak Iwan nggak nyusul ke sana?"


"Aku kebagian jaga rumah tuh. Hehehe,,," jawab Iwan yang sudah mengerti maksud Dinda, karena Dinda pasti tidak bisa jika menyusul sendirian. "Kamu latihan sama kakak aja di sini".


"Iya deh"


Dinda pun melakukan pemanasan sendiri, setelah itu dengan dibantu oleh Iwan ia berlatih beberapa pukulan dan juga tendangan.


Saat Dinda sibuk dengan latihan jurusnya, seseorang memasuki Dojo dan membisikkan sesuatu kepada Iwan. Iwan pun menyerahkan samsak yang di pegangnya kepada laki-laki itu dan meninggalkan mereka berdua.


"Latihannya sama aku aja" ucap Dimas tiba-tiba.


Dinda menghentikan latihannya dan menatap takut ke arah Dimas.


"Ayok, ini aku pegangin" ucap Dimas sembari memposisikan dirinya dengan samsak kotak di tangannya.


"Dia ada urusan" ucap Dimas seakan mengerti yang Dinda cari.


Dimas pun menurunkan kembali samsak tangannya dan mendekat ke arah Dinda. Dinda pun reflek memundurkan langkahnya.


"Katanya mau sembuh. Percuma saja kamu bisa beladiri kalau ngelihat musuh aja takut kaya gini. Ayok, anggap aja aku musuh kamu". Dimas kembali memposisikan dirinya.


"Ka,,, kamu jangan di sini" ucap Dinda susah payah.


"Kamu sendiri kan yang meminta aku membantu kesembuhanmu. Kapan kamu bisa sembuh kalau masih seperti ini? Bilang padaku apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku. Bilang padaku bagaimana agar kamu bersedia memaafkanku. Aku menyesal Din, sungguh. Maafkan aku"


"Diam! Kamu pergi" ucap Dinda menahan emosinya.


"Dinda, aku tahu kamu menyimpan kemarahanmu selama ini. kamu bisa pukul aku, tendang aku atau apapun akan aku terima. Luapkan kemarahanmu sampai kamu puas. Sampai lukamu terbalaskan. Aku ikhlas Din. Jangan siksa aku dengan sikapmu yang seperti ini. Lebih baik kamu memukulku daripada aku harus melihatmu menderita seperti ini".


Dimas mencoba mendekat lagi untuk memprovokasi Dinda.

__ADS_1


"Maafkan aku Din" Mencoba meraih tangan Dinda.


Plakkkk,,,


Tamparan keras melayang ke pipi Dimas.


"Begitu lebih baik kan? Ayo lagi". Ucap Dimas mendekatkan pipinya.


Plakkkk,,,


"Pergi!!!"


"Ayo lagi, luapkan kemarahanmu. Aku pantas mendapatkannya".


Dinda masih saja melangkah mundur untuk menghindari Dimas yang semakin mendekat. Sampai akhirnya tak ada lagi tempat untuk melangkahkan kakinya. Punggungnya sudah menempel sempurna pada dinding yang berada di belakangnya.


"Ayo angkat tanganmu lagi. Habiskan kemarahanmu di sini"


Dimas meraih tangan Dinda dan mengarahkan untuk memukul pipinya. Dinda yang mulai terprovokasi pun kembali melayangkan tamparannya.


Plakkk,,,


"Hentikan!!! Jangan kau kira dengan meminta maaf aku akan dengan mudah memaafkanmu" Dinda masih melanjutkan aksinya menampar bahkan sesekali melayangkan tinjunya ke dada dan perut Dimas.


Bugh,,, bugh,,, plakkk,,,


"Dasar penjahat!!! Aku seperti ini karena kamu! Hentikan permintaan maafmu itu. Buang wajah mengibamu itu! Aku benci melihatmu!!!" Dinda mulai menangis dan masih saja memukuli Dimas.


Bugh,,,


Sebuah tinjuan yang cukup keras menghantam pipi Dimas. Membuat laki-laki itu sedikit terhuyung, namun sama sekali tak membuatnya berniat untuk meninggalkan tempat itu. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Ia mengusap dan melihatnya dengan menyunggingkan senyum nanar. 'Aku pantas menerima ini'. Begitu mungkin pikirnya.


Tak ada rasa sakit dari pukulan yang ia terima dari gadis itu. Matanya beralih menatap gadis yang kini terduduk bersimpuh sembari menangis tergugu. Aaahhh,,, hatinya lebih sakit melihat pemandangan itu.


Dimas duduk berlutut untuk mensejajarkan posisinya dengan Dinda. Ia menatap wajah gadis yang semakin mengeraskan tangisnya itu. Ingin rasanya ia rengkuh gadis itu ke dalam pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2