Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Selalu Denganmu


__ADS_3

Dinda merebahkan tubuhnya di ranjang yang sudah lama dirindukannya. Malam ini ia dan Dimas akan bermalam di rumah orang tuanya. Kedatangannya kali ini selain untuk mengobati rasa kangennya kepada keluarganya juga karena sang kakak yang baru saja melahirkan beberapa hari yang lalu. Ya, Anisa baru saja melahirkan keponakan baru untuknya. Dan sore tadi, ia baru saja mengunjungi bayi lucu berjenis kelamin laki-laki itu.


"Mas Dim nggak papa kan kalau kita nginep beberapa hari lagi di sini?" Tanyanya pada sang suami yang baru saja mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Iya, terserah kamu sayang. Asal jangan sampai lebih dari seminggu aja. Kasihan Niko mesti ngurus kerjaan mas sendiri" jawab Dimas sembari merebahkan tubuhnya di samping Dinda.


"Nggak lah. Paling juga dua tiga harian aja. Dinda juga kan mesti kuliah".


Dimas mengecup lembut kening sang istri yang sudah dalam posisi memeluknya. "Iya, apasih yang nggak buat kamu" ucapnya sembari mencubit gemas pipi Dinda.


Dimas begitu beruntung memiliki Dinda yang mencintainya tanpa syarat. Bahkan setelah perbuatannya di masa lalu, ketulusan sang istri nyatanya kembali diuji dengan kondisinya yang tidak subur. Sedangkan Dinda sendiri begitu mendamba hadirnya sang buah hati. Bisa dipastikan tanpa ketulusan cinta dari Dinda, mungkin gadis itu sudah meninggalkannya. Dan ia teramat bersyukur untuk itu.


Tak hanya itu, demi menjaga nama baik sang suami, Dinda pun tanpa ragu mengakui kalau dirinyalah yang memiliki gangguan kesuburan kepada keluarganya. Dan itu didengar sendiri oleh Dimas saat beberapa bulan lalu ia berkunjung ke rumah mertuanya.


"Ibuk doain Dinda ya, biar Dinda bisa hamil kaya kak Nisa" ucap Dinda kala itu.


"Tentu saja Din. Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk anak-anak ibu. Termasuk kamu".


"Tapi kalau Dinda nggak bisa hamil, ibu sama bapak nggak bakal kecewa kan?"


"Eh,,, amit-amit Din. Ngomong apa itu. Ngomong itu mbok yang baik-baik aja" protes bu Atikah.


Dinda menghela nafas sebelum akhirnya melanjutkan kalimatnya "Tapi emang itu kenyataannya buk, ada masalah sama kandungan Dinda".


Dan bisa ditebak betapa shocknya bu Atikah mendengar penuturan putrinya itu. Sebagai seorang wanita tentu ia bisa merasakan kekhawatiran sebagaimana yang dirasakan Dinda. Rasa tak percaya diri dan yang pasti rasa takut dengan masa depan rumah tangga. Ya, pikiran bu Atikah menerawang membayangkan masa depan rumah tangga sang anak yang bersuamikan orang kaya. Dan tentu saja dipikirannya akan sangat mudah bagi Dimas untuk mencari pengganti putrinya itu.


"Kamu bercanda kan Din?" Tanyanya terbata.


"Nggak buk. Itu kenyataan, mungkin ibuk harus lebih banyak dan lebih khusyu saat berdoa untukku" canda Dinda dengan senyum manisnya.


"Tentu saja nak" jawab sang ibu berusaha kuat. "Dimas sendiri gimana?"

__ADS_1


"Mas Dim baik-baik saja. Dia ikhlas menerima keadaan Dinda. Udah cinta mati sama Dinda katanya" Ucap Dinda kembali tersenyum. Gadis itu sebisa mungkin berusaha menenangkan sang ibu yang menatap iba padanya.


Dan Dimas sendiri mengulas senyum dengan mata yang berkaca-kaca di balik dinding ruang tengah mendengar kelakar istrinya itu. Ia tahu, istrinya itu sedang menjaga kehormatannya di depan keluarganya. Bahkan ia sama sekali tak pernah meminta Dinda melakukan hal itu. Dan dengan baiknya, istrinya itu menutupi kekurangannya di mata keluarganya. Aaahhh,,, bukankah akan sangat berdosa jika ia menyakiti malaikat berwujud sebagai istrinya itu.


---


"Sayang, kamu udah nggak sedih lagi kan?" Tanya Dimas kepada Dinda yang mulai memejamkan matanya.


"Hm?" Dinda kembali membuka matanya mendengar pertanyaan sang suami.


"Kamu baik-baik saja kan?" Ulang Dimas.


"Iya, mas Dim nggak usah khawatir. Dinda udah nggak sedih lagi kok".


"Maaf, gara-gara mas,,,,"


"Sssttt,,, udah ah jangan dilanjut. Dinda ngantuk, besok mas Dim harus ikut Dinda jalan-jalan sama Dian sama Nina".


"Iya sayang" jawab Dimas dan kembali mendaratkan ciuman di kening sang istri.


"Kamu kapan isi Din?" Tanya salah seorang kerabat yang juga sedang menengok sang bayi. "Masa kalah sama Nisa, nikahnya kan duluan kamu".


"Doain aja Bude" Jawab Dinda yang sedang memangku si bayi.


"Kamu periksa dong. Biar tahu masalahnya apa"


'Emang kalau aku periksa mesti bilang ke kamu gitu'. Ingin sekali Dinda membalas seperti itu. Namun sopan santun masih ia junjung tinggi.


"Belum waktunya Bude. Nanti kalau udah waktunya juga Dinda hamil" suara Anisa membela sang Adik.


"Iya sih Sa. Tapi kalau kelamaan kan jenuh juga. Dulu bude aja langsung isi, sama kaya kamu. Bagaimanapun juga anak itu penghangat rumah tangga, tanpa anak hampa Sa. Terlebih untuk laki-laki dewasa macam suami Dinda ini. Pasti sudah ngebet sekali kan pengen punya anak?".

__ADS_1


"Tapi saya nggak gitu Bude" ucap Dimas yang tiba-tiba masuk mendekati sang istri. Dilihatnya Dinda yang tertunduk sembari bermain-main dengan tangan mungil si bayi. Dan bisa dipastikan, sang istri kini sekuat tenaga menahan laju air matanya.


"Eh nak Dimas" ucap wanita itu tak enak.


"Umur saya memang teramat pantas untuk memiliki dua atau tiga anak. Tapi saya sendiri tidak berpikir seperti itu. Bagi saya, selama istri saya bahagia, saya juga bahagia. Dengan atau tanpa anak". Jawab Dimas kemudian menggenggam tangan Dinda. "Ayok sayang, katanya mau shoping, nanti keburu malam".


Bagai diselamatkan dari sarang penyamun, Dindapun mengangguk mengiyakan ajakan suaminya. Tanpa mengangkat wajahnya, ia pun menyerahkan si bayi kepada bundanya. Dan segera berlalu dari kamar itu setelah Dimas yang mewakilinya untuk berpamitan.


Inilah yang ia takutkan tiap kali menghadiri acara keluarga. Terlebih menjenguk kerabat yang baru saja melahirkan. Tak bisa dipungkiri, pertanyaan-pertanyaan keramat itu pasti akan menghampirinya. Dan tentu saja, Dimas sang tameng harus senantiasa berada di sampingnya kan?. Membela dan juga melindungi kewarasan mental sang istri dari suara-suara sumbang yang bisa membuatnya down.


Walaupun hambatan bukan datang darinya, tapi tidak mungkin kan seorang istri mengumbar aib suaminya. Bagaimanapun juga ia dan Dimas sudah berusaha. Untuk hasilnya biarlah Tuhan yang menentukan. Dan mungkin saja orang-orang yang selalu menyudutkannya untuk segera memiliki keturunan itu lupa jika hanya Tuhan lah yang berwewenang memberinya rizki tersebut.


--------------


10 tahun kemudian


Seorang gadis kecil berlari dengan riangnya. Dengan bando merah muda bertengger cantik di kepalanya, gadis itu berlari keluar dari gerbang sekolahnya.


"Bundaaaaa,,," teriaknya begitu melihat sosok wanita yang menunggunya di luar gerbang.


"Aqila jangan lari-lari gitu dong" ucap Dinda menangkap gadis kecil yang menghambur memeluknya.


"Abis Qila seneng banget dijemput ama bunda".


"Oohhh,,, yaaa? Kalau gitu cium bunda dulu dong" Dinda menyodorkan pipinya pada Qila yang langsung disambar oleh gadis kecil itu.


"Kita langsung pulang bunda?" Tanya Qila yang sudah berada di dalam mobil.


"Qila maunya gimana?"


"Qila mau beli es krim dulu bund".

__ADS_1


"Oke baiklah, kita beli es krim dulu".


"Yeeeeeeaaaayyyy" teriak Qila heboh.


__ADS_2