
Jodoh memang sepenuhnya rahasia Tuhan. Tak ada seorangpun yang tahu dengan siapa ia akan berjodoh. Ada yang telah lama bersama, namun jika bukan jodoh mau bagaimana? Ada juga yang tak pernah jumpa, namun jika jodoh adanya, maka bersamalah pada akhirnya.
Begitu juga dengan Maya, selepas Niko menjawab tantangan ayah dengan bersedia menikahinya, maka tak ada lagi yang keluar dari bibir gadis itu. Berbagai pertanyaan singgah di kepalanya. Seperti mengapa sang ayah yang setahu ia sangat kolot begitu mudah memberikan restunya? Mengapa ia tak mampu menolak kesepakatan antara Niko dan sang ayah? Dan masih banyak 'mengapa-mengapa' yang lain di kepalanya.
Protes? Tentu sudah, namun kesiapan Niko dan juga perasaannya yang abu-abu seolah menjadi keputusan mutlak bagi sang ayah. Entahlah, tapi kata 'jodoh' benar-benar bermain di kepalanya saat ini. Begitu mudahnya jalan untuk bersama Niko membuatnya berfikir jika semua ini tak luput dari yang namanya 'jodoh'.
"Melamun aja calon manten" suara sang ibu mengejutkan Maya yang sedang termenung di atas ranjangnya.
"Ibuk ihhh,,, ngagetin aja"
"Mikirin apa sih May?" Tanya bu Siti yang sudah duduk di tepi ranjang di samping Maya. "Masih kepikiran Niko?" Goda bu Siti.
"Ck, ibuk. Maya tuh shock buk. Ibuk ngerti kan?"
"Hellehhh,,, pake shock-shock segala. Aslinya kamu seneng kan"
"Ck, ibuk aaahhhh,,," rengek Maya dengan suara manjanya. "Lagian kok bisa sih buk, ayah gitu aja nyuruh mas Niko ngelamar Maya. Baru juga ketemu, langsung nyuruh nikah aja" rengut Maya.
"Malah bagus dong. Itu tandanya ayah sayang sama kamu. Ayah nggak mau anak gadisnya ini dipermainkan sama laki-laki. Apa lagi sampai disakiti." bu Siti membelai rambut anak sulungnya. "Lagian mau nunggu apa lagi? Niko ganteng, mapan dan yang pasti dia bertanggung jawab".
"Ayah kan baru kenal tadi. Gimana bisa yakin kalau mas Niko itu bertanggung jawab?"
"Ayah sama ibu sih lihatnya seperti itu. Tau deh sama kamu" Bu Siti sedikit menggeser posisinya sehingga menghadap Maya. "Coba kamu pikir, apa ada laki-laki nggak bertanggung jawab yang menyatakan kesungguhannya kaya Niko tadi. Mana gentle banget tadi calon mantu ibuk" Ibuk tersenyum mengingat Niko yang dengan lantangnya mengungkapkan perasaannya.
"Lagian ya May, ayah nggak akan maksa kamu kalau kamu tadi nolak niat Niko. Lha kamunya manggut-manggut aja, itu artinya kamu mau kan?" ucap ibu mengingatkan Maya yang menganggukkan kepalanya saat Niko mengungkapkan niatnya untuk melamar Maya.
"Udah lah nak, mantepin aja hati kamu. Mungkin ini memang jalan dari tuhan untuk kamu. Ibu nggak tau apa yang membuat kamu ragu dengan Niko. Tapi ibu yakin kamu juga menginginkan semua ini kan? Yang harus kamu ingat, nggak ada manusia sempurna. Kamu punya kekurangan, begitu juga Niko. Kamu paham maksud ibu kan?".
__ADS_1
Mendengar nasehat ibunya, seketika Maya pun teringat dengan Adinda sahabatnya. Dua insan yang tak saling mengenal dan bahkan awal pertemuannya pun teramat menyakitkan bagi Dinda cukup membuatnya percaya bahwa campur tangan Tuhan itu nyata adanya. Bahkan setelah mengetahui masa lalu Dimas yang mungkin tak jauh beda dengan Niko, Dinda dengan ikhlas menerimanya. Dan perlu diingat, semua itu juga berkat nasehat darinya Dinda bisa menerima masa lalu Dimas. Dan lihat sekarang, mereka bahagia.
"Baiklah buk. Maya nurut ajalah sama orang tua. Mungkin mas Niko memang jodoh Maya" ucap Maya sembari merangsek memeluk ibunya.
"Bilang aja kamu seneng susah amat sih nak" ledek ibu membelai kepala anaknya.
"Ibuk iihhh,,,"
Pertemuan Niko dan keluarga Maya yang mendadak itu memang telah menghasilkan keputusan yang mendadak pula. Pertemuan keluarga yang sebenarnya akan digelar dua hari kemudian. Sedangkan pernikahan akan dibahas dalam pertemuan tersebut. Mendadak memang, tapi inilah yang dikehendaki dari sang ayah. Dan Niko yang memang sudah mantap dengan perasaannya pada Maya pun meng aminkan saja permintaan orang tua itu.
Bukan tanpa sebab pak Sarman selaku ayah dari Maya memberikan restunya pada Niko. Memiliki anak gadis cukup umur dan berada jauh dari keluarga membuatnya merasa khawatir. Terlebih sang anak sudah mulai mengenal lawan jenis. Ya, walaupun pak Sarman yakin anak gadisnya akan bisa menjaga dirinya, namun rasa khawatir sebagai orang tua tidak akan hilang begitu saja.
Dan Niko, laki-laki itu hadir dengan kesan tersendiri di mata orang tua itu. Ketegasan dan juga kesungguhannya benar-benar membuat pak Sarman yakin mempercayakan Maya kepadanya. Lagipula Niko memiliki pekerjaan tetap yang tentunya akan membuatnya tenang. Yah, mau cari mantu yang bagaimana lagi? jika yang bertanggung jawab dan juga mapan sudah ada di depan mata begitu pikirnya.
Dan tak dipungkiri, biarpun Maya menyangkal perasaannya, namun dengan kesediaannya menerima lamaran dari Niko membuat pak Sarman semakin yakin jika anak gadisnya itu juga menghendaki ikatan yang sebentar lagi akan terjalin.
Saat itu Dinda baru saja selesai mengganti pakaiannya setelah sebelumnya mandi terlebih dahulu tentunya. Dimas yang masih mengenakan kemeja batiknya pun menarik istrinya yang terlihat segar itu ke dalam pelukannya.
"Hhmmmm,,, wanginyaaa" Dimas membaui wangi sabun yang melekat pada istrinya.
"Mas Dim belum mandi iiiihhhh,,, ntar aku ikutan bau lagi nih"
"Masa sih? Masih wangi gini kok" ucap Dimas sembari melepas pelukannya dan mengangkat kedua tangannya untuk membaui sendiri tubuhnya.
Dinda tersenyum melihat tingkah suaminya itu. "Ya udah mandi dulu gih. Mas Niko sama kak Andra udah balik ke hotel kan?"
"Udah, tapi mereka nggak jadi pulang besok"
__ADS_1
"Lohhh,,, emangnya pada mau ngapain?" Dinda menerima kemeja yang baru di lepas oleh Dimas. "Tau gitu tadi Talita suruh nginep aja biar kita bisa liburan bareng di sini. Jarang-jarang kan mas Dim sama mas Niko libur lama kaya gini".
"Lusa, keluarga Niko mau ke sini ngelamar Maya"
"Hahhhh,,, masa sih mas?" Ucap Dinda terkejut. Ia pun mengurungkan niatnya mengambil handuk untuk suaminya demi mendengar detail kabar yang mengejutkan itu.
"Iya, tadi sewaktu Niko nganter Maya, ia ketemu sama ayahnya. Dan nggak tau gimana tiba-tiba aja disuruh ngelamar"
"Kok bisa sih mas? Kok Maya nggak cerita ma aku?"
"Mungkin belum Din. Kan baru tadi kejadiannya"
"Iya juga yah. Kok bisa sih? Iiihhh,,, aku penasaran deh" Dinda mengerucutkan bibirnya gemas. Dimas yang melihatnya pun langsung saja menyambarnya.
Cup
"Udah ah, jangan terlalu kepo sama cerita orang lain. Kamu lupa pernikahan kita bahkan jauh lebih mendadak dari ini" Dimas mengusap lembut kepala istrinya.
"Iya sih, tapi,,,"
"Udah, ini mas boleh mandi nggak? Mana handuknya?" Ucap Dimas yang sudah bertelanjang dada dengan celana pendeknya.
"Ehh,,, iya. Hehehe,,," Dinda pun mengambil handuk yang ada di sudut kamar dan menyerahkannya pada Dimas. "Mandinya di kamar mandi depan aja, yang di belakang masih di pakai sama yang lain".
"Iya sayang" Dimas mencapit hidung Dinda mesra.
"Masss!" Protes Dinda yang membuat Dimas terkekeh sebelum akhirnya keluar dari kamar itu.
__ADS_1