Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Guntur


__ADS_3

"Guntur" gumam Dinda.


Nampak Guntur sedang berjalan ke arah Dinda dan yang lainnya. Laki-laki itu nampak begitu bahagia dengan senyuman yang menghiasi wajahnya. Ia begitu antusias tatkala Dian memberitahu bahwa Dinda akan pulang menghadiri acara lamaran kakaknya. Dan itu berarti kesempatan baginya untuk bertemu dengan Dinda. Dengan sedikit memaksa akhirnya di sinilah ia sekarang. Menemui Dinda, gadis yang pernah mengisi hatinya dan juga sangat ingin ditemuinya.


Guntur menarik kursi tepat di samping Dinda. Matanya tak pernah lepas dari gadis yang sudah lama tak ditemuinya itu.


"Hai Din" sapa Guntur.


"Hai Gun. Apa kabar?"


"Baik. Kamu sendiri gimana?"


"Aku baik"


"Lama tak bertemu, kamu banyak berubah ya" ucap Guntur yang melihat Dinda dengan jilbabnya.


"Ehemm,,, kenalin aku Dimas suami Dinda" ucap Dimas tiba-tiba memecah kecanggungan. Dimas pun mengulurkan tangannya ke arah Guntur.


Guntur sendiri baru tersadar kalau Dinda datang bersama suaminya. Sedari dia datang tatapannya hanya terfokus pada Dinda sehingga ia pun tidak begitu memperhatikan laki-laki yang juga duduk di samping gadis itu.


"Ah iya Gun sampai lupa, ini suamiku" sahut Dinda menyadarkan Guntur dari keterkejutannya.


"Guntur" balas Guntur menyambut tangan Dimas.


Kedua laki-laki beda usia itupun berjabat tangan dengan aura yang begitu menegangkan. Yah, setidaknya itulah yang dirasakan Dian dan Nina. Mereka tak menyangka jika Dinda akan datang dengan suaminya. Bahkan mereka berpikir Dinda masih trauma jika melihat suaminya itu.


Kilatan kebencian nampak jelas terpancar dari sorot mata Guntur. Karena laki-laki di depannya itulah ia harus memupus harapannya pada gadis pujaannya itu.


Sedangkan di mata Dimas, Guntur tidak lebih dari seorang anak yang gagal mendapat mainannya. Dimas dengan percaya diri menunjukkan kepemilikannya atas Dinda. Dngan memperkenalkan diri sebagai suaminya, ia sudah berhasil membuat ciut nyali remaja di depannya itu. Bagusnya lagi, Dinda pun seolah mengamini jika mereka adalah pasangan yang benar-benar sudah saling menerima.

__ADS_1


Mereka melanjutkan kegiatannya menuju sebuah karaoke yang juga tersedia di mall itu, dengan Guntur yang masih setia mengekor. Ketiga sahabat Dinda memang memiliki keunikan masing-masing. Dian lebih suka ke karaoke jika mereka sedang hang out. Sedang Maya lebih memilih nonton dan juga makan. Untuk Nina dan Dinda, dua gadis itu adalah makmum setia kedua sahabat lainnya.


Dimas tersenyum melihat Dinda yang nampak bahagia dengan kedua sahabatnya. Matanya tak pernah lepas dari istrinya yang terlihat ceria dengan bernyanyi dan juga menari-nari heboh yang berhasil membuat Dimas terkejut. Bagaimana tidak, istrinya kembali menunjukkan sisi lain yang benar-benar membuatnya terpana. Gadis itu seolah begitu menikmati kebersamaannya dengan dua sahabatnya itu. 'Inikah Dinda sebelum bertemu denganku' pikirnya.


Sedangkan Guntur, laki-laki itu sedang mengamati segala gerak-gerik Dimas dengan tatapan yang sulit diartikan. Sedari tadi ia melihat Dimas yang menatap Dinda dengan tatapan penuh cinta. Dan Dinda pun sesekali melayangkan senyumnya untuk Dimas yang tentu saja membuat hatinya terkoyak. Ia merasa masih belum ikhlas jika Dinda dimiliki oleh laki-laki sebejat Dimas.


Setelah cukup bersenang-senang, merekapun melanjutkan dengan makan siang bersama di sebuah resto seafood kesukaan Dinda. Dengan begitu antusiasnya, ketiga gadis itu menikmati semua pesanannya tanpa risih sedikitpun diperhatikan kedua laki-laki tampan di depannya.


Dan Dimas, ahh,,, entah sudah berapa kali ia dibuat terpana dengan kelakuan istrinya itu. Dalam satu hari itu, ia merasa sudah berkali-kali dibuat jatuh cinta dengan semua tingkah Dinda. Dan kali ini, Dinda yang sedang menikmati kepiting saus padang nampak begitu lucu di mata Dimas. Bibirnya yang sudah penuh dengan saus kemerahan membuat Dimas reflek mengulurkan tangannya.


"Pelan-pelan dong" ucap Dimas sembari menghapus sisa-sisa saus di bibir Dinda.


Dan perlakuannya itu pun tak luput dari tatapan iri ketiga pasang mata yang juga duduk bersama mereka.


"Nanti bungkus buat di rumah ya mas. Al pasti seneng banget"


"Iya" Dimas tersenyum.


"Mas Dimas nggak cemburu?" Ucap Dian setelah Guntur mengajak Dinda duduk terpisah dari mereka bertiga.


"Emmm,,, sedikit" jawab Dimas asal.


"Guntur itu dulu suka sama Dinda lho mas. Dan kayaknya sekarang masih deh" sahut Nina.


"Tapi sekarang Dinda kan sudah bersuami. Saya suaminya" ucap Dimas percaya diri.


"Iya sih" jawab Dian dan Nina bersamaan.


Dian pun mengamati Dimas dari ujung kepala hingga ujung kaki.

__ADS_1


Tinggi, bersih. Cakep sih suami kamu Din. Pantes aja kalau kamu bisa dengan mudah jatuh cinta.


Dimas yang sadar sedang diperhatikan pun pura-pura sibuk dengan hpnya sembari sesekali melihat ke arah Dinda dan Guntur.


Sedangkan di meja lain, nampak Guntur sedang menyerahkan sebuah paper bag yang sedari tadi ia bawa.


"Ini buat kamu"


"Apa ini?" Dinda penasaran.


"Hanya sebuah kenang-kenangan kecil"


"Terima kasih" Dinda mengambil paper bag itu dan menaruhnya di kursi sampingnya.


"Apa kamu bahagia dengan laki-laki itu?" Tanya Guntur tiba-tiba.


"Hmm?" Dinda mendongak menatap Guntur dan Guntur pun menatap ke arahnya.


"Apa kamu mencintainya?"


"Gun,,," lirih Dinda.


"Aku masih belum merelakanmu bersama dengan penjahat itu Din. Masih begitu jelas bayangan penderitaanmu waktu itu karena laki-laki itu"


"Gun, beberapa bulan yang lalu pikiranku juga masih sama seperti apa yang kamu pikirkan sekarang. Tapi bagaimanapun juga kami sudah menikah. Dan kami sepakat untuk mempertahankan pernikahan ini. Dia juga sudah menyesali perbuatannya. Memang sulit pada awalnya, tapi seiring berjalannya waktu, aku bisa merasakan ketulusannya".


"Hhhh,,, seperti itu ya" Guntur tersenyum getir.


"Terimakasih untuk semuanya Gun. Semoga kita bisa menjadi sahabat baik setelah ini"

__ADS_1


"Baiklah" Guntur berdiri dan mengulurkan tangannya. "Biarpun telat tapi, selamat untuk pernikahanmu. Semoga kalian bahagia"


Dinda pun berdiri dan menyambut tangan Guntur. "Terima kasih".


__ADS_2