Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Panik


__ADS_3

Jarum jam menunjuk di angka setengah dua belas. Dian dan Nina yang baru kembali ke kamar melihat Maya yang sudah tertidur lebih dulu. Nina yang tak melihat Dinda di kamarnya pun membangunkan Maya bermaksud menanyakannya.


"May,,, Dinda ke mana?" tanya Nina mengguncang tubuh Maya.


"Emmmm,,,kalian baru balik?" tanya Maya dengan membuka separuh matanya.


"Eeehhh, ni bocah. Ditanya malah balik nanya. Dinda mana?" kesal Nina.


Seketika Maya membuka lebar matanya mengetahui Dinda yang belum kembali ke kamar "eh, belum balik dia?"


"Emangnya kemana tuh anak?" tanya Dian yang baru keluar dari kamar mandi.


"Tadi diajak ketemuan Guntur di resto. Masa iya sampe jam segini sih" heran Maya dan meraih Hp nya hendak menelfon Dinda.


Tuuut,,,tuuut,,,tuuut,,,


"Nggak di angkat" ucap Maya dengan sorot mata khawatir.


"Coba hubungi Guntur, nggak biasa-biasanya Dinda kayak gini" saran Dian yang mengenal sahabatnya itu.

__ADS_1


Maya pun segera menscroll nama Guntur untuk menghubunginya.


Hallo May, jawab Guntur diseberang.


"Gun, Dinda masih sama kamu? jam segini kok belum di balikin sih Gun" cerocos Maya.


"Nggak May, tadi Dinda nggak dateng ke resto"


Jawaban Guntur seketika menambah raut khawatir ketiga sahabat itu.


"Trus dia kemana Gun? masa ilang. Telfonnya nggak di angkat"


Maya menutup telfonnya dan mereka pun keluar kamar menunggu Guntur di depan pintu.


Tak lama, Guntur yang kamarnya tak jauh pun terlihat sudah sampai di depan kamar ketiga gadis itu.


"Gimana ini Gun, telfonnya masih gak di angkat" Ucap Maya panik.


"Terakhir dia kemana?" tanya Guntur masih terlihat tenang.

__ADS_1


"Dinda tadi menuju resto mau nemuin kamu"


"Tapi ak lama nunggu di sana, dan dia nggak datang. Ku kira memang dia nggak mau datang"


Setelah menerima penjelasan panjang lebar dari Maya, mereka berempat pun berjalan ke arah gedung utama untuk menuju resto. Sesampainya di sana, terlihat suasana sudah sangat sepi. Bahkan security yang berjaga di lobby pun sudah memberi tahu kalau resto sudah tutup. Guntur dan yang lainnya pun kembali ke arah lobby hotel untuk menanyakan keberadaan Dinda kepada security dan resepsionis yang berjaga.


"Permisi pak, bapak tadi lihat ada gadis seusia kami masuk gedung ini?" tanya Guntur kepada security di depannya.


"Wah, maaf dek. Kalau nanya gitu bingung jawabnya. Kan banyak yang keluar masuk sini. Lagian kami baru bergantian shif, dan selama kami bertugas nggak ada orang yang kalian cari masuk sini" Jawab security itu menjelaskan.


"Kalian yang rombongan karya wisata itu bukan" tanya resepsionis itu.


"Iya mbak, tadi temen kami pamit ke resto itu tapi sampai sekarang belum balik" jawab Dian menunjuk restoran yang di maksud.


Setelah berbincang cukup lama dengan security itu, Guntur pun menghubungi pak Joko selaku wali kelas Dinda. Mereka pun meminta bantuan kepada security itu untuk menemukan temannya.


Atas permintaan dari pak Joko, security itu membawa mereka ke ruang cctv. Di sana diketahui kalau Dinda terakhir terlihat di lantai 10.


Sementara itu di sebuah kamar, suara dering Hp tak henti-hentinya berbunyi. Membuat Dimas terbangun dari tidurnya. Dimas membuka matanya dan menepuk-nepuk kepalanya yang masih terasa pusing. Sesaat tangannya menyentuh seseorang disampingnya. Ia pun terperanjat mendapati seorang gadis tidur di ranjangnya dengan kondisi pakaian terkoyak menampakkan sebagian besar anggota tubuhnya. Betapa terkejutnya ia setelah mendapati gambaran kejadian sebelumnya. Ia pun melompat turun dari tempat tidur, memperhatikan ke sekelilingnya, tangannya terulur hendak menyelimuti gadis itu. Saat menyibak selimut di depannya dilihatnya bercak-bercak darah menempel di spreinya. Ia pun memundurkan langkahnya tak percaya pada apa yang telah dilakukannya.

__ADS_1


__ADS_2