Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Curhat


__ADS_3

Dimas masih duduk di sofa menghadap laptop yang ia letakkan di atas meja. Matanya mengikuti setiap gerak gerik wanita di depannya. Wanita cantik dengan body proporsional itu kini masuk ke dalam kamarnya dengan menyeret koper yang berisi pakaiannya. Dengan wajah datar wanita itu menata pakaian Dimas ke dalam lemari tanpa sepatah kata pun terucap dari bibirnya.


Dimas menghembuskan nafas kasar dan kembali melanjutkan pekerjaanya. Tak berapa lama wanita itu keluar kamar. Ia duduk di hadapan Dimas dengan membawa botol air mineral yang baru separuh diteguknya.


"Besok pagi akan ada ART yang akan membersihkan apartemen. Namanya mbak Siti usia 42 tahun. Mulai besok ia datang setiap hari dari jam tujuh pagi sampai jam tiga sore. Ia yang akan memasak dan juga membersihkan apartemen termasuk mencuci pakaian. Ada pertanyaan? " wanita itu berceloteh masih dengan wajah datarnya.


"Mama yang suruh?" tanya Dimas. Tak mendengan jawaban dari lawan bicaranya Dimas pun melanjutkan ucapannya.


"Aku nggak mau dia datang tiap hari. Suruh dua hari sekali saja dari jam sembilan".


"Oke. Ada lagi?"


"Oh ya, soal makan dia bisa masak untuk makan malam saja kalau pas disini" ucap Dimas menyandarkan punggungnya.


"Oke. Urusanku sudah selesai. Aku pulang dulu". Ucap wanita yang dipanggil Raya itu berlalu dari hadapan Dimas.


"Satu lagi" ucap Dimas menghentikan langkah Raya. "Aku nggak mau ya mbak Raya ke apartemen tanpa aku suruh"


Raya menolehkan sedikit kepalanya hendak menyahuti ucapan Dimas "Bu,,,,"


"Biarpun mama yang suruh" potong Dimas yang sudah lebih dulu mengetahui maksud Raya.


Tanpa mendebat lebih jauh, Raya melanjutkan langkahnya keluar dari apartemen Dimas.


Raya adalah asisten pribadi bu Ambar. Tapi semenjak Dimas ikut menjalankan bisnisnya, Raya lah yang membantu dan mendampingi Dimas. Wajah Dingin dan judesnya terkadang membuat Dimas enggan berurusan dengan wanita itu. Tapi untuk masalah pekerjaan Raya memang sangat bisa diandalkan.


Jarum jam menunjukkan pukul 21.00. Dimas yang sudah menyelesaikan pekerjaanya menutup laptopnya dan berjalan menuju kamar. Ia membersihkan diri di kamar mandi dan kemudian mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos oblong warna abu-abu. Tanpa menunggu lama ia pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang ukuran king size itu.


Mungkin Dimas yang dulu jam sembilan masih terlalu sore untuk tidur. Saat ini mungkin ia baru saja keluar rumah mengawali kegiatan malamnya. Entah itu di jalanan yang disulap menjadi arena balap atau di klub malam bersama teman-teman nongkrongnya. Yang pasti bukan di tempat tidur seperti yang ia lakukan saat ini. Beberapa kali teman-temannya menghubungi tapi sama sekali ia tak menanggapinya.


Satu jam sudah berlalu dan Dimas belum juga memasuki alam mimpinya. Bayangan wajah Dinda yang ketakutan saat melihatnya siang tadi sungguh mengganggunya.


Apa gadis itu sebegitu takutnya ngeliat aku?


Bayangan Adinda yang bersliweran di kepalanya membuat Dimas urung memejamkan matanya. Ia pun bangkit dan menyandarkan punggungnya di ujung tempat tidur. Tangannya meraih hp yang ia letakkan di atas meja kecil di samping tempat tidurnya.


Perlahan ia mengecek pesan masuk yang ia abaikan beberapa hari ini.

__ADS_1


Devan:


Lo kenapa bro?


Di mana Dim?


Ke tempat biasa yuk


Kenapa sih lo?


Hoeeyyy,,,


???


Lo gak papa kan Dim?


Niko:


Kumpul yuk


Dapet tantangan dari Alex, lo dateng ya


Ada masalah lo?


Gue sama Devan di club


???


Dimas tersenyum menanggapi pesan dari teman-temannya yang baru ia buka sejak beberapa hari lalu. Karena ia juga belum tidur, Ia pun berinisiatif untuk menelfon teman-temannya itu.


Tuuttt,,,tuuuttt,,,tuuuttt


Hei bro masih idup lo. Terdengar suara di seberang.


Sialan lo. Dimas


Sorry, abisnya lo gak da kabar. Di mana sekarang?

__ADS_1


Di apartemen. Ke sini gih, ajak Devan juga.


Ok,,


Nik,,,Nik,,,bawain makanan. Ucap Dimas mencegah temannya menutup telfon.


Beresss,,,


Setengah jam kemudian dua orang teman Dimas pun sampai di apartemen. Mereka berbincang-bincang di sofa dengan beberapa camilan dan softdrink.


"Trus sekarang apa rencana lo?" Tanya Niko setelah Dimas menceritakan semua kejadian yang menimpanya termasuk pernikahannya.


"Ya gini, kerja dan menata hidup gue yang udah kalian rusak" jawab Dimas santai.


"Sialan lo" ucap Niko dan Devan bersamaan.


"Jadi lo dah tobat sekarang? Gak mau kumpul kita lagi gitu maksud lo?" Lanjut Devan


"Nggak! ntar gue terkontaminasi ma kalian lagi susah sembuhnya"


"Haiisshh,," Devan yang kesal melempar Dimas dengan botol minuman yang dipegangnya yang ditangkap sempurna oleh Dimas.


"Lo beneran cinta ma tuh cewek Dim?" tanya Niko yang seketika menghentikan tawa Dimas.


"Tau Nik. Yang pasti gue pengin ngmbaliin dia seperti sebelum ketemu ma gue"


"Emang lo tau sebelumnya dia kaya apa?" tanya Devan penasaran.


"Entahlah" Dimas mengedikkan bahunya. "Kata bapaknya dia sih anaknya ceria. Dan sekarang, boro-boro ngeliat senyumnya, dia ngeliat gue aja ketakutan kaya ngeliat setan tau nggak".


"Tapi tuh cewek hebat loh bisa ngerubah seorang Dimas yang badboy jadi softboy kaya gini. Jadi penasaran gue" Devan menatap Dimas penasaran.


"Apaan sih lo. Dia udah jadi bini gue tau!" kesal Dimas melempar bantal ke arah Devan.


"Ciiihh,,,bini. Punya bini tidurnya sendirian. Makan tuh bini" ledek Niko diikuti tawa Devan.


Mereka bertiga pun berbincang-bincang hingga larut dan sampai akhirnya tertidur di apartemen Dimas.

__ADS_1


Dimas yang tadinya susah tidur pun kini terlelap, sepertinya ia baru saja melepaskan beban berat yang dipanggulnya.


__ADS_2