Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Laporan


__ADS_3

Berkali-kali Dimas meraup kasar wajahnya. Matanya kembali tertuju pada gadis di atas ranjang. Keadaannya begitu memprihatinkan, beberapa luka memar terlihat jelas di wajahnya. Air matanya menetes menyadari perbuatannya. Perbuatan hina yang dengan begitu kejamnya merenggut masa depan seorang gadis.


Suara dering Hp membuyarkan lamunannya. Dicarinya arah sumber suara yang ternyata berasal dari sebuah tas kecil yang teronggok di lantai. Di dekatinya barang itu, dengan ragu-ragu ia mengeluarkan sebuh Hp dari dalamnya.


Kini Dimas sudah mengenakan pakaian lengkapnya setelah sebelumnya membersihkan diri. Diraihnya Hp Dinda dan mengetikkan sesuatu ke nomor yang terakhir kali menelfonnya. Dia mendekati tubuh Dinda yang masih tak bergerak. Memandangnya begitu dalam. Rasa bersalah, takut dan bingung nampak menghiasi wajahnya.


Maafkan aku, bukannya aku tak mau bertanggung jawab. Tapi aku masih bingung untuk saat ini. Maaf,,,


Dimas beranjak meninggalkan kamarnya. Saat keluar dari lift, ia sempat berpapasan dengan rombongan Guntur yang sedang mencari Dinda. Sekilas matanya beradu pandang dengan Guntur, sebelum rombongan itu masuk ke dalam lift.


Di dalam lift, Maya masih berusaha menelfon nomor Dinda setelah sebelumnya mendapat pesan singkat dari Hp Dinda berupa nomor kamar. Mereka semua segera menuju kamar yang di maksud dengan pikiran yang sudah mengembara entah kemana. Terlebih Dinda kembali tidak mengangkat telfonnya setelah mengirim pesan.


Jarum jam menunjuk di angka 9. Di sebuah ruangan di rumah sakit, nampak Guntur yang sedang menunggui Dinda di samping ranjangnya. Matanya menatap Dinda yang masih belum sadar. Ingatannya kembali saat dia dan pak Joko mendengar penjelasan dari dokter yang menyatakan bahwa Dinda adalah korban perkosaan. Matanya berkaca-kaca membayangkan hal buruk yang baru saja dialami gadis pujaannya itu.


Terdengar suara pintu dibuka. Pak Joko dan Maya masuk mendekat ke arah Guntur dan Dinda. Mereka baru saja kembali dari hotel tempatnya menginap untuk mengambil barang-barang yang masih tertinggal di sana. Sedangkan Dian dan Nina terpaksa harus mengikuti jadwal karya wisata selanjutnya.


"Bagaimana keadaannya Gun?" tanya Maya mendekati Dinda.

__ADS_1


"Masih belum sadar" jawab Guntur lemah "Kamu sudah hubungi keluarganya?" lanjutnya.


"Sudah, tadi pak joko udah bicara sama mbak Anisa dan mereka mengijinkan untuk lapor polisi"


"Iya Gun, bapak mau buat laporan sekarang. Kamu ikut ya, biar Maya disini" ucap pak Joko menimpali.


"Baik pak, kita berangkat sekarang" jawab Guntur yakin. Ia tak mau menunda untuk segera menemukan laki-laki yang telah merenggut masa depan pujaannya itu.


Sore hari di rumah keluarga Sanjaya, nampak Dimas sedang berbaring di kamarnya. Matanya menatap ke langit-langit kamarnya dan sesekali menatap ke layar Hp yang sedari tadi ia pegang.


Pikirannya masih saja tertuju pada Dinda yang ia tinggalkan begitu saja. Sebentar berpikir untuk menghubungi nomer gadis itu, sebentar merasa takut karena perbuatannya pada gadis itu. Pikirannya sungguh kalut mengingat perbuatan bejatnya semalam.


Tok,,,tok,,,tok,,,


"Kak Dimas buka pintunya, di panggil mama tuh" terdengar suara teriakan seorang gadis dari luar kamar.


Dimas yang dengan jelas mendengar suara itu hanya diam tak menyahuti.

__ADS_1


"Gimana Ta?" tanya seorang wanita paruh baya kepada Talita yang masih di depan kamar Dimas.


"Tau tuh ma, nggak biasa-biasanya kak Dimas kayak gini" jawab Talita kepada mama Ambar.


"Dimas, buka pintunya. Kamu nggak lapar apa seharian di kamar?"


"Iya ma, nanti Dimas turun"


"Masih hidup ma" ucap Talita spontan


"Hush, kamu ini. udah ayo turun!" ajak mama Ambar menarik lengan putrinya.


Mama Ambar yang berniat menuju dapur di kagetkan dengan mbak Narti yang tergopoh-gopoh dari arah ruang tamu.


"Ada apa mbak?"


"Anu nyah, itu ada pak polisi di depan"

__ADS_1


__ADS_2