Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Jahil


__ADS_3

"Kakak kamu orangnya gimana sih?"


Pertanyaan Dinda membuat Lita yang tadinya fokus pada layar laptop kini mengalihkan pandangannya menatap Dinda. Ia bangun dari posisi tengkurapnya dan menggeser duduknya sejajar dengan Dinda.


"Kamu nanyain kak Dimas?" Ucapnya tak percaya.


"Emang kamu punya kakak yang lain apa?" jawab Dinda kesal.


"Bukan begitu, aku heran aja. Udah setahun lebih kalian menikah tapi baru sekarang kamu nanyain hal itu?"


"Ya udah kalau gak mau jawab" kesal Dinda memalingkan mukanya.


"Haisshhh,,, bukan begitu. Aku gak nyangka aja kamu akhirnya nanyain hal itu. Ini benar-benar keajaiban tahu nggak?"


"Ahh,,, sudahlah. Gak usah dibahas" Dinda yang kesal pun menarik selimutnya dan merebahkan tubuhnya tapi segera ditahan oleh Lita.


"Tunggu-tunggu, gitu aja ngambek" Lita menarik tangan Dinda kembali ke posisi duduknya.


"Kak Dimas sekarang itu orangnya gila kerja, sampai lupa punya adik yang cantik kaya gini" ucap Lita pura-pura kesal.


"Lita!" Hardik Dinda yang merasa jawaban Lita tidak seperti yang diharapkannya.


"Apa sih?"


"Bukan itu. Maksud aku tuh, kakak kamu dulu sebelum kenal ma aku" jelas Dinda kesal.


"Ngomong dong" goda Lita.


"Ya udah ah" Dinda ngambek lagi.


"Iya,,,iya. Eeemmm mesti cerita dari mana ya" Lita pura-pura berpikir dan mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya pada dagunya.


Kemudian Lita pun menceritakan segala sesuatu yang berhubungan dengan Dimas. Mulai dari Dimas yang suka balapan sampai hubungannya dengan Siska. Lita benar-benar tak menutupi sedikitpun informasi tentang Dimas yang ia ketahui. Ia tahu iparnya itu sedang mencoba berdamai dengan dirinya sendiri untuk lebih mengenal sosok Dimas. Lita bahkan menceritakan perubahan yang terjadi pada Dimas sejak kejadian itu. Aahhh,,, benar-benar ipar yang baik bukan?

__ADS_1


"Apa motor yang ada di garasi itu miliknya?" Tanya Dinda mengingat ia pernah melihat seorang supir sedang memanasi sebuah motor sport di garasi rumah mertuanya.


"Iya, dulu kak Dimas jarang banget pake mobil"


"Trus pacarnya yang dulu itu sekarang gimana?" tanya Dinda lagi.


"Nggak tau. Mungkin putus"


"Apa karena aku?" Tanya Dinda hati-hati.


"Ihhhh,,, apaan sih kak. Mereka putus nggak ada hubungannya sama kak Dinda. Putus ya putus aja. Berarti sudah bukan jodohnya. Sekarang jodoh kak Dimas itu kak Dinda".


Semburat merah tergambar jelas di pipi Dinda. Ia benar-benar tak menyangka keluarga barunya itu sepenuh hati menerimanya. Walaupun hubungan yang terjalin dengan Dimas sampai saat ini hanya sebatas hubungan di atas kertas, mereka sama sekali tak menghiraukan hal itu. Mereka benar-benar menganggap Dinda sebagai istri dari Dimas, sebagai menantu dan juga kakak ipar di keluarga Sanjaya.


Malam pun telah larut. Talita baru saja menutup laptopnya setelah selesai menonton drama kesukaanya. Sekembalinya dari kamar mandi ia melihat Adinda yang sudah tertidur sedari tadi sembari memeluk gulingnya. Posisi tidur Dinda yang meringkuk lucu membuat ide jahil di kepalanya muncul. Ia meraih hp yang masih tergeletak di atas bantal di samping Dinda. Dengan kelihaiannya ia berhasil mengambil beberapa foto Dinda yang sedang terlelap.


Dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya, iapun mengirim pesan kepada seseorang.


Kakakku


Foto apaan? Balasan dari seberang.


*Mau gak???


Iya,,,iya,,,


Tapi besok aku pengin ngemoll.


Liatin dulu fotonya*


Lita pun mengirim gambar yang barusan diambilnya.


Setelah kembali mendapat balasan dari seberang, iapun merebahkan tubuhnya di samping Dinda dengan tawa kecil yang ia tahan dengan tangannya.

__ADS_1


"Maaf kakak ipar. Abisnya kamu lucu banget sih" ucapnya berbisik ke arah Dinda dan masih diiringi tawa yang ia tahan.


Sementara itu di apartemen Dimas.


Dimas yang sudah merebahkan diri di tempat tidurnya itu kini sedang menatap sebuah foto di hpnya. Senyumnya terus mengembang sambil sesekali jemarinya membelai lembut wajah yang tertidur dalam bentuk sebuah foto itu. Yaa,,, barusan dia menerima kiriman sebuah foto Dinda yang sedang tertidur dengan pulasnya. Wajah Dinda yang polos dan juga posisi tidur yang di anggapnya lucu membuatnya tak henti-hentinya menatap foto itu. Bahkan ia meletakkan hp di depannya dengan posisi layar masih menyala memperlihatkan foto Dinda. Yah, tentu saja ia membayangkan Dinda yang tidur di sampingnya. Aaahhh,,, ngenes sekali sih kamu Dim.


"Selamat tidur istriku" ucapnya kembali membelai layar hpnya.


Pagi harinya, mobil Lita baru saja memasuki area parkir kampusnya. Baru saja Lita keluar dari mobilnya, sudah nampak Andra yang mendekat ke arahnya.


"Pagi Talita" sapa Andra.


"Pagi Ndra. Tumben pagi-pagi dah kuliah"


"Hehe,,, jangan gitu dong Ta" Andra menatap Dinda yang baru saja keluar dari mobil Lita.


"Aku duluan Lit" ucap Dinda tanpa melihat ke arah Andra.


"Iya kak"


Andra yang melihat Dinda acuh terhadapnya pun berjalan mendekat ke arah Dinda. Dengan sigap ia sudah berdiri di depan Dinda.


"Hay, gue Andra temennya Talita" sapa Andra mengulurkan tangannya.


Dinda yang melihat Andra sudah di depannya hanya menundukkan kepalanya tanpa bermaksud membalas uluran tangan Andra.


"Ndra, apaan sih lo" hardik Lita menarik Andra dari hadapan Dinda.


"Gue kan cuma mau kenalan sama saudara lo Ta".


"Gak perlu!" ketus Lita masih menarik Andra yang belum juga beranjak dari tempatnya.


Dinda yang melihat peluang untuk menghindar pun tak menyia-nyiakannya. Ia segera melangkah melewati Andra yang masih berdebat dengan Lita. Namun sayang, langkahnya tak secepat tangan Andra yang kini sudah mencekalnya.

__ADS_1


"Lepasin!" ucap Dinda dengan suara bergetar. Keringat dingin mulai memenuhi dahinya. Cengkeraman Andra membuat sekelebat bayangan kejadian melintas di kepalanya.


__ADS_2