
"Mas,,, buka pintunya mas. Dinda mau mandi".
Entah yang keberapa kali, Dinda mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi sembari memanggil suaminya. Sepulangnya dari dokter kandungan tadi, Dimas hanya diam dan mengunci diri di kamar mandi. Dinda yang melihatnya saja merasa iba kepada suaminya itu. Ia tahu, tak mudah memang bagi Dimas untuk menerima kenyataan itu. Bahkan bagi siapa saja laki-laki di dunia ini, pasti akan sangat terpukul saat dokter memvonis nya tidak subur. Yah walaupun dokter tidak bilang mandul, tapi kenyataan bahwa ia adalah seorang lelaki yang tak subur membuatnya benar-benar terguncang.
Sedangkan di dalam kamar mandi sendiri, Dimas duduk tertunduk sembari memeluk kedua lututnya di bawah shower yang mengucur membasahi tubuhnya yang masih berpakaian lengkap. Mungkin dengan begitu ia berharap untuk meredam kepalanya yang terasa mau meledak oleh kata-kata sang dokter. Aaahhh,,, rasa-rasanya dulu tak sesakit ini saat penyesalannya setelah ia melecehkan Dinda.
'Kondisi ****** yang keluar dalam kondisi mati'. Kalimat itu terus saja berputar di kepalanya.
"Mas, jangan bikin Dinda khawatir dong. Buka pintunya" ucap Dinda lagi dengan suara bergetar menahan tangis.
Ceklek
Dimas keluar dengan menggunakan handuk mandinya. Dinda yang masih berada di depan pintu kamar mandi pun sedikit menggeser tubuhnya karena Dimas yang hendak keluar. Laki laki itu berjalan begitu saja melewati Dinda menuju lemari pakaiannya.
Dinda hanya diam memperhatikan gerak-gerik suaminya yang sedang memakai pakaiannya. Air matanya tiba-tiba saja menetes melihat raut wajah Dimas yang nampak terpukul. Pandangannya kosong bak orang linglung yang kehilangan arah. Ada raut kesedihan juga yang tergambar jelas di wajah yang masih terlihat tampan itu.
Tak tahan lagi, Dinda pun mendekati suaminya yang masih berada di depan lemari dan sudah mengenakan pakaian lengkapnya. Dipeluknya punggung laki-laki itu dengan tangan yang melingkar erat di perutnya.
"Mas, jangan seperti ini. Dinda nggak bisa ngeliat mas Dim kaya gini" ucap Dinda di sela-sela isak tangisnya.
Dimas sendiri masih terdiam. Sungguh ia kehilangan kata-kata di depan istri tercintanya itu. Bayangan cerianya Dinda saat pertama kali mengungkapkan kalau ia ingin sekali hamil terlintas di benaknya. Dan lagi, ucapan dokter Harry muncul kembali seolah meleburkan keceriaan itu. Tak mungkin sesuatu yang sudah mati itu bisa menciptakan makhluk hidup lainnya kan?. Begitu pikirnya.
"Mas, jangan Diam saja mas. Dinda nggak suka mas Dim kaya gini. Dinda takut" lirihnya masih dengan tangisnya yang menjadi.
"Maaf" ucap Dimas memegang tangan Dinda yang berada di perutnya. "Maaf" lirihnya lagi.
Dinda pun mengendurkan pelukannya dan memutar tubuhnya sehingga berada di depan Dimas. Kini pasangan suami istri itu sedang berdiri berhadapan dengan air mata menggenangi manik keduanya. Dinda bisa melihat, ada ketakutan yang nampak dari mata Dimas. Tak tahan melihat suaminya terpuruk, Dinda pun melabuhkan tubuhmya pada dada bidang sang suami. Memeluknya erat seolah menyalurkan segenap kekuatan yang ia punya.
"Kenapa minta maaf? Mas nggak salah" ujar Dinda begitu menghentikan tangisnya.
"Maaf, maaf Din. Mas nggak bisa,,,"
"Sssttt,,," potong Dinda. "Mas nggak usah mikir yang macam-macam. Dokter bilang masih ada harapan mas. Kita berdoa, kita terus berusaha ya". Ucapnya menghibur.
"Bagaimana bisa mas mempercayai semua itu? Dokter pasti hanya menghiburku kan?" Dimas mengurai pelukannya, melepas pelukan tangan istrinya yang melingkar erat di pinggangnya. "Dokter pasti membohongi kita. Mana mungkin,,,"
"Mungkin mas!" Potong Dinda lagi. "Nggak ada yang tidak mungkin selagi Tuhan berkehendak. Kita berdoa ya, kita memohon sama Allah".
Tanpa membalas ucapan Dinda, Dimas menyambar jaket yang tergantung di lemari. "Aku keluar dulu" ucapnya tergesa sembari mengusap sisa air matanya.
__ADS_1
"Mas mau kemana?" Tanya Dinda khawatir. Dan berjalan mengikuti langkah Dimas yang tak kunjung menjawab pertanyaannya. Dicekalnya tangan laki-laki itu yang baru saja memegang handle pintu. "Mas,,,"
Dimas menghentikan langkahnya. Memejamkan mata dan menghela nafasnya. "Mas keluar bentar". Ucapnya setelah berbalik menghadap Dinda dan mengecup keningnya.
"Kemana? Udah malem mas" ujar Dinda penuh kekhawatiran.
Sekali lagi Dimas mencium keningnya dan melepas cekalan Dinda di tangan kirinya.
"Hati-hati" ucap Dinda akhirnya.
Dimas pun keluar kamar diiringi tangis Dinda yang masih berada di depan pintu. Ia begitu menghawatirkan suaminya itu. Namun apa boleh buat, mungkin saja saat ini sang suami butuh waktu untuk menenangkan dirinya. Dengan cara apa itu Dinda tak berani memikirkannya.
Jam menunjukan pukul 01.00. Dinda yang masih terjaga nampak gelisah di atas tempat tidurnya. Sedari jam 11.00 tadi, Dinda menghubungi nomor Dimas, namun tak satupun panggilan yang dijawabnya. Rasa khawatir kian menjadi tatkala nomor yang kembali ia hubungi sudah tidak aktif. Mengabaikan rasa sungkannya, ia memutuskan untuk menghubungi Niko yang mungkin saja tahu keberadaan suaminya.
Tuuutt
Tuuutt
Tuuutt
"Hallo". Terdengar suara serak di seberang setelah cukup lama menunggu.
Niko yang belum sepenuhnya terbangun pun membuka lebar matanya saat mendengar suara perempuan di seberang telfonnya. Ia pun beranjak duduk dari tidurnya dan bersandar pada ujung tempat tidur. "Ini siapa?"
"Mas Niko sama mas Dimas nggak?" Tanya Dinda mengabaikan pertanyaan Niko sebelumnya.
Niko pun menatap singkat layar ponselnya dan mengerti dengan siapa ia bicara. "Nggak Din. Emang kemana dia?"
"Tadi dia keluar. Sampai sekarang belum pulang. Mas tau kira-kira dia kemana?"
"Kalian ada masalah?"
"Enggak sih" Bohong Dinda.
"Ya udah, aku hubungi temen-temen dulu, kali aja ada yang tau. Kamu tenang aja, ntar aku kabarin" ujar Niko menenangkan. Ia seolah tau ada yang disembunyikan dari ucapan Dinda.
"Iya mas, makasih ya".
Selesai berbicara dengan Niko, Dinda pun mencoba untuk memejamkan matanya, mencoba untuk berfikir positif bahwa suaminya itu baik-baik saja. Namun tetap saja, perasaannya tak bisa dibohongi. Ia begitu menghawatirkan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu.
__ADS_1
"Mas, kamu dimana?" Lirihnya menatap bantal kosong di sisinya.
"Ada apa mas?" tanya Maya yang ternyata terbangun dari tidurnya. "Tadi Dinda kan?"
"Iya, Dimas belum pulang katanya" jawab Niko sembari mengutak-atik hpnya untuk menghubungi teman-temannya.
"Mereka ada masalah?" Tebak Maya.
"Kayaknya sih. Tapi Dinda nggak bilang apa-apa".
Niko pun berbicara dengan beberapa temannya di telfon untuk menanyakan keberadaan Dimas. Namun tak satupun dari mereka yang mengetahuinya. Sampai pada akhirnya setelah panggilan ke lima, salah seorang memberikan jawaban yang cukup untuk digunakan sebagai petunjuk.
"Sayang aku keluar dulu ya" ucap Niko menatap Maya yang berbaring di sampingnya.
"Udah ketemu mas?"
"Belum sih, tapi tadi ada yang lihat Dimas di arena. Aku mau coba nyusulin dia ke sana. Nggak biasa-biasanya anak itu kayak gini". Niko pun beranjak dari tempat tidurnya untuk mengganti celana pendeknya dengan celana panjang dan menyambar sebuah jaket kulit yang tergantung di lemari.
Maya pun mendudukkan dirinya dengan arah mata yang senantiasa mengikuti pergerakan Niko yang sedang memakai jaketnya. "Mas Niko hati-hati bawa motornya, udah malam".
"Iya, mas pergi dulu" ucap Niko lalu mendaratkan kecupan di kening Maya.
Niko melajukan motor sportnya menuju arena, dimana biasanya balap liar berlangsung. Sesampainya di sana, hanya tinggal beberapa anak-anak ABG yang sedang nongkrong dan beberapa diantaranya ada pula yang sedang mempersiapkan motornya untuk beradu kecepatan di jalanan. Niko pun mendekati mereka bermaksud menanyakan keberadaan Dimas.
"Bang Niko tumben sendirian?" Tanya Andi salah satu dari lima remaja yang sedang berkerumun. Mereka mengenal Niko karena sudah dianggap sebagai senior di arena itu.
"Kalian lihat temen abang di sini nggak?"
"Tadi ada beberapa sih bang. Barusan aja pada pergi".
"Ada Dimas nggak?"
"Andi nggak lihat bang Dimas balapan sih tadi". Ucap Andi sedikit berfikir. "Tapi tadi kayaknya dia emang di sini kok bang". Lanjutnya yang diangguki teman-temannya.
"Kalian lihat dia kemana?"
"Nggak lihat bang" jawab ke lima remaja itu bersama-sama.
__ADS_1
Niko pun kembali mengeluarkan hpnya untuk bertanya kembali kepada teman-temannya. Tak ada satupun petunjuk yang di dapat Niko karena Dimas memang tidak terlalu dekat dengan orang lain selain kedua sahabatnya. Seusai melakukan panggilan yang tak membuahkan hasil, Niko pun kembali menaiki motornya untuk mencari Dimas. Ia yakin, pasti sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja sehingga bersikap seperti itu.