
Sepi, mungkin itu yang saat ini Dinda rasakan. Tanpa adanya suami dan juga mertuanya di rumah. Baru beberapa saat lalu Dimas pamit untuk berangkat bekerja seperti biasanya. Sedangkan mertuanya, mereka masih menginap di rumah Talita setelah kemarin malam melangsungkan syukuran kelahiran anak ketiganya.
Biasanya Dinda mengisi waktunya dengan merawat tanaman milik mertuanya. Atau terkadang waktu senggangnya ia gunakan untuk bantu-bantu di salon milik mama Ambar yang sudah bertambah besar dengan adanya spa dan cafe di lantai atasnya. Bekerja? bukan, karena suami gantengnya itu sama sekali tak mengijinkan Dinda untuk bekerja. Kecuali untuk sekedar mengisi waktu, Dimas mengijinkan jika hanya sesekali mendatangi cafe. Karene cafe itu sendiri adalah hadiah dari mama Ambar karena gelar sarjananya beberapa tahun lalu.
Dimas lebih memilih menggaji seseorang untuk mengelola cafe itu daripada mengijinkan istrinya untuk bekerja. Entahlah apa alasan pasti laki-laki itu melarang istrinya bekerja. Setiap kali ditanya ia selalu menjawab tidak ingin istrinya itu kecapekan. Tapi apa iya jika hanya datang ke cafe beberapa jam sehari ia akan kecapekan? Sikap Dimas lebih merujuk pada sikap posesif suami pada istrinya. Karena selain melarang bekerja, Dimas pun hanya mengijinkan Dinda untuk memantau cafenya itu dan datang hanya saat week end saja, dan itupun harus diantar olehnya.
Terkekang. Itulah yang dilihat orang luar pada Dinda. Namun wanita itu sama sekali tak menunjukkan ketidak sukaannya pada sikap suaminya itu. Ia menyukainya, bahkan ia merasa teramat dicintai oleh suami yang sering dikatakan tua itu. Sama sekali ia tak mempermasalahkan sikap Dimas yang dianggap posesif oleh sebagian orang. Toh Dimas tak benar-benar membatasi ruang geraknya. Ia masih bisa jalan-jalan, bertemu teman-temannya atau sekedar cuci mata ke pusat perbelanjaan. Yah walaupun harus dengan Dimas tentunya. Tapi ia menyukainya, setidaknya dengan begitu akan menunjukkan betapa pria itu mencintai wanitanya.
Terkadang Dinda juga merasakan jenuh dengan kehidupannya yang begitu-begitu saja. Hanya di rumah saja menunggu sang suami pulang kerja. Tapi itu hanya perasaan sesaat yang singgah karena sepi yang ia rasa. Karena Dinda punya banyak cara untuk membuang jauh rasa yang tak mengenakkan itu.
Seperti saat ini, Dinda sudah bersiap untuk mengunjungi suaminya di kantor. Dengan diantar sopir keluarga, Dinda berniat untuk mengantarkan makan siang untuk Dimas. Dan selanjutnya ia akan berada di kantor suaminya itu sampai Dimas menyelesaikan pekerjaannya.
Dalam perjalanannya menuju ruangan Dimas, beberapa orang karyawan menyapanya dengan ramah. Tak dipungkiri, Dinda menajadi sosok yang begitu dihormati di lantai ini setelah Dimas, suaminya. Sikapnya yang ramah kepada siapa saja membuat beberapa karyawan begitu nyaman dengan kehadiran ibu bosnya itu. Bahkan sesekali Dinda mentraktir karyawan suaminya itu walau sekedar minuman atau makan siang. Tak heran jika semua karyawan Dimas begitu mengenal wanita yang selalu terlihat cantik itu.
"Selamat siang" sapa Dinda melongok ke dalam ruangan Nida, salah satu staf sekretaris Dimas.
"Eh, mbak Dinda, selamat siang" balasnya menghentikan kegiatannya mengetik di atas keyboard komputernya. "Baru kelihatan mbak?"
"Iya nih, baru sempet" Jawab Dinda sembari berjalan masuk mendekati Nida. "Kok sendirian, yang lain mana?" Dinda mengedarkan pndangannya melintasi tiga meja kosong yang ada di ruangan itu.
"Mungkin masih di ruang rapat mbak, tadi pak Dimas ada rapat sama salah satu kliennya".
Jangan heran jika di kantor Dinda dipanggil mbak dan suaminya dipanggil bapak. Itu semua karena memang Dinda yang memintanya. Selain itu para karyawan juga menganggap wajah Dinda masih terlalu muda untuk dipanggil ibu. Lain lagi dengan Dimas, karena ia adalah pimpinan mereka.
"Ooohhh,,, sekarang udah selesai belum ya?"
__ADS_1
"Mungkin sudah mbak, tadi Krisna udah balik ke sini kok, cuma keluar lagi" Jawab Nida menyebutkan salah satu rekan satu ruangannya. "Makan siang pak Dimas ya mbak?" tanyanya lagi melihat beberapa paperbag di atas meja yang berada di sebelah Dinda.
"Iya, kamu udah makan belum?"
"Belum lah mbak, kan belum jam istirahat juga". Jawab Nida, nyengir. Ia merasa tak enak istri bosnya bertanya seperti itu. Karena ia tau pasti apa yang akan dilakukan Dinda setelahnya.
"Iya juga ya" Dinda membuka waistbagnya dan mengeluarkan tiga lembar uang ratusan ribu dari dalamnya. "Nid, nanti kalau keluar aku nitip es boba seberang jalan bisa nggak? Nih uangnya, sekalian buat kamu sama yang lain" Ucapnya sembari menyodorkan kepada Nida.
"Siap mbak!" Jawab Nida sumringah sembari menerima uang dari Dinda. Sebenarnya ia sungkan, tapi bagaimanapun rejeki nggak boleh ditolak kan?.
"Aku ke ruangan mas Dim dulu ya".
"Iya mbak makasih traktirannya" Nida berdiri dan membantu Dinda mengemas bawaannya. "Saya antar ke ruangan pak Dimas ya mbak?"
"Daaa,,,mbak. Makasih sekali lagi" Nida kembali masuk dan duduk di mejanya, meraih kembali tiga lembar uang merah yang ia letakkan di mejanya. "Punya bu bos baik banget dah. Jadi makin betah kan. Tapi tumben-tumbenan mbak Dinda minta boba, biasanya juga jus jambu. Yaudah ah, sebodo amat mau minum apa, yang penting gratis ini" monolog Nida sembari memasukkan uang ke dalam saku roknya.
Dinda berjalan menuju ruangan suaminya, sesampainya di depan pintu, ia tak langsung masuk karena terdengar beberapa orang berbincang dari dalam ruangan yang pintunya tak tertutup sempurna itu. Menyadari suaminya yang masih menerima tamu, Dinda pun berniat kembali ke ruangan Nida untuk menunggu. Namun sebuah suara dengan kalimat menggelitik menghentikan niatnya untuk mengangkat kaki.
"Kita tuh makin tua Dim, butuh penerus buat ngelanjutin usaha. Masih mending aku punya tiga anak. Yah walaupun cewek, tapi setidaknya kan masih ada keturunan. Nah kamu, udah seusia ini masih belum ada tanda tanda istri kamu mau ngasih keturunan. Nggak pengen usaha lagi gitu?"
"Maksud kamu apa Gun? Emang kalau Dimas usaha mesti laporan dulu sama kamu gitu?" Tanya Niko pada Gunawan yang barusan bersuara. Ia juga berada di dalam ruangan itu karena masih menjadi asisten Dimas.
"Bukan gitu Nik, Aku yakin pasti Dimas udah berusaha keras. Tapi usaha yang lain?" Ucap Gunawan mengangkat dua jarinya membentuk tanda kutip. "Kita udah lama berteman, kamu juga pasti tau kan gimana kita para pengusaha kalau jauh dari istri. Bukan begitu Ndra?" Ucap Gunawan ke arah Indra yang duduk di sebelahnya. "Jika di rumah ada istri yang menjadi tempat kita pulang, di luar ada 'mereka' tempat kita singgah. Hahaha,,," lanjut Gunawan dengan tawanya.
"Ck,,, kita? Kalian aja kali" sinis Niko.
__ADS_1
"Ah iya, mereka kan para suami takut istri Ndra, lupa aku, hahaha,,,"
Dimas yang mendengar dua orang yang terkesan menertawakannya itu pun hanya acuh tak menanggapi. Ia masih berkutat dengan layar laptopnya memeriksa kembali hasil rapat beberapa saat lalu.
"Udah lah Dim, kalau emang istri kamu nggak bisa hamil, mending nyari lagi". Seketika Dimas mengalihkan perhatiannya ke arah Indra. Sedangkan laki-laki itu acuh tak menyadari tatapan mematikan yang dilontarkan Dimas untuknya. "Banyak cewek yang lebih cantik, lebih muda dan pastinya subur untuk mengandung benihmu. Sayang kan kalau kerja kerasmu tiap malam sia- sia tanpa hasil" lanjutnya pongah.
"Nah itu maksudku tadi" sambar Gunawan tanpa menyadari adanya ekspresi kemarahan dari dua orang di depannya.
Sedangkan Dimas sendiri masih terdiam dengan emosi yang sudah berada di ubun-ubun. Ingin rasanya ia membalik meja dan melayangkan tinju ke mulut dua orang rekannya itu. Namun sebisa mungkin ia masih bisa menahannya, mengingat hubungan kerjasama yang sudah terjalin. Di sisi lain, ia begitu emosi mendengar mereka menyalahkan istrinya atas belum hadirnya keturunan dalam rumah tangga mereka. Andai mereka tahu bahwa ucapan mereka itu lebih tepat ditujukan untuk Dinda istrinya.
Dinda sendiri yang masih berada di luar pintu pun membalikkan langkahnya meninggalkan ruangan Dimas dengan perasaan yang berkecamuk. Sungguh, ia begitu ingin masuk dan berteriak kalau ia wanita yang subur. Tapi apa daya, ada suaminya di sana yang patut ia tutupi aibnya.
"Kalian sudah selesai?" Tanya Dimas datar. Begitu banyak kemarahan di balik ucapannya itu.
"Sudah, tapi bolehlah kita nyantai dulu di sini" jawab Indra.
"Nih Dim, sugar babyku punya temen cakep. Mau aku kenalin?" Ucap Gunawan menyodorkan hpnya. Nampaknya laki-laki itu begitu tidak peka dengan suasana hati lawan bicaranya.
"Kalian ini!" Geram Niko.
"Apa sih Nik, kita tuh lagi ngasih solusi buat Dimas. Istrinya,,,"
"Diaaammmmm!!!"
__ADS_1