
Akhirnya Dinda menyelesaikan acara makan malam keluarganya dengan sukses. Dengan sekuat tenaga ia meredam segala rasa yang berkecamuk di dadanya. Perlakuan keluarga yang hangat dan juga Dimas yang terkesan memahaminya pun membuatnya lebih bisa mengontrol perasaannya.
Yah, Dimas memang terkesan acuh kepada Dinda. Bukan karena ia tidak memperhatikan istrinya itu, tapi ia tahu betul bahwa istri kecilnya itu lebih nyaman jika ia tidak terlibat pembicaraan dengannya. Sesekali ia melirik ke arah Dinda yang hanya fokus pada makanannya. Melihat Dinda dari jarak sedekat itu membuat Dimas tak henti-hentinya menyunggingkan senyumnya. Baginya itu adalah kali pertama ia bisa menatap wajah istrinya dari jarak yang masih dalam jangkauannya. Aaahhh,,, ingin rasanya ia meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Mengambil alih luka yang bersemayam di hatinya. Luka yang pernah ia torehkan dulu, yang telah merenggut senyuman gadis yang sekarang duduk di depannya.
Setelah menyelesaikan acara makan malam, mereka pun berjalan keluar dari restoran bersama-sama. Pak Samsul yang malam itu bertindak sebagai supir yang membawa keluarga pak Lukman sudah memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk restoran. Sedangkan Dimas yang membawa kendaraannya sendiri masih berdiri melihat satu persatu anggota keluarganya memasuki mobil.
Brukkk
Tiba-tiba saja Dinda terkulai lemas kehilangan kesadarannya. Dimas yang melihatnya segera menghambur ke arah Dinda.
"Din,,, Dinda,,," Dimas menepuk pelan pipi Dinda.
Pak Lukman dan mama yang sudah berada di dalam mobil pun kembali keluar memeriksa keadaan Dinda.
"Kita bawa pulang aja Dim" ucap pak Lukman tenang.
"Tapi pa," ucap Dimas yang merasa harus membawa Dinda ke rumah sakit.
"Dinda gak papa, nanti kita panggil dokter keluarga saja".
"Iya pa" jawab Dimas dan menyerahkan kunci mobilnya kepada Talita. "Kamu bawa mobil kakak".
"Iya kak" jawab Talita patuh.
Dimas pun mengangkat tubuh Dinda masuk ke dalam mobil bersama orang tuanya. Raut khawatir terlihat jelas di wajahnya.
Sesampainya di rumah, Dimas sendiri yang menggendong Dinda menuju kamarnya di lantai dua. Dengan hati-hati ia merebahkan tubuh Dinda, melepas sepatu dan kemudian menyelimutinya.
__ADS_1
Pak Lukman masuk dengan membawa tas yang berisi peralatan medisnya. Ia memeriksa Dinda yang masih juga belum membuka matanya. Wajah gadis itu nampak pucat dengan keringat yang membasahi dahinya.
"Dia cuma stres aja Dim, kamu gak usah khawatir" jelas pak Lukman menenangkan Dimas yang memang nampak khawatir.
"Tapi kenapa belum sadar juga pa? Apa gak sebaiknya kita bawa ke rumah sakit?"
"Bentar lagi juga sadar. Kamu tenanglah"
Tak lama kemudian, mama Ambar dan Talita masuk dengan membawa satu gelas teh manis di tangannya.
"Masih belum sadar pa?" Tanya mama yang melihat Dinda masih tertidur. Ia pun mendudukkan dirinya di tepi ranjang sembari mengoleskan minyak kayu putih berharap Dinda lekas sadar.
"Kita bawa ke rumah sakit aja pa" sela Talita yang juga ikut khawatir.
"Sudahlah, gak papa. Ayok kita tunggu di luar" pak Lukman memegang pundak mama yang menatapnya bingung. "Kita tunggu dokter Hasan di luar" lanjut pak Lukman mengedipkan matanya.
Lita pun dengan terpaksa mengikuti kedua orang tuanya keluar dari kamar Dinda.
"Kenapa keluar sih ma, kan kasian kak Dinda" protes Talita.
"Tanya papamu tuh" jawab mama menunjuk ke arah pak Lukman di depannya.
Sesampainya di lantai bawah, mereka pun duduk di sofa yang ada di ruang keluarga.
"Kenapa pa?" tanya Talita tak sabar.
"Biarin Dimas sama Dinda dulu. Gitu aja masih nanya kamu".
__ADS_1
"Ihhh,,, papa gimana sih. Kak Dinda masih pingsan gitu"
"Siapa bilang?"
"Emang Dinda udah sadar pa?" Tanya mama lagi.
"Heemmm,,," angguk pak Lukman. "Berikan kesempatan pada Dimas. Mungkin ada yang mau disampaikan sama istrinya".
"Tapi nanti kalau kak Dinda tambah panik gimana? Dia kan gak bisa ditinggal sendiri ma kak Dimas"
"Sudahlah, Dimas pasti tau apa yang harus dilakukan" jawab pak Lukman santai.
Sementara itu di dalam kamar. Dimas dengan telatennya mengelap keringat yang terus saja membasahi dahi Dinda. Sesekali tangannya juga memijit-mijit telapak tangan Dinda yang juga terasa dingin itu.
"Apa sesulit itu untuk menemuiku?" Ucap Dimas lirih. "Maaf sudah membuatmu jadi seperti ini, kenapa tidak bilang sebelumnya kalau kamu masih tidak nyaman menemuiku? Kenapa kamu simpan sendiri lukamu? Maafkan aku, maaf membuatmu menderita. Maafkan aku Dinda" Dimas tak lagi kuasa menahan air matanya. Dadanya terasa sesak tiap kali melihat istrinya itu begitu menderita berada di dekatnya.
"Apa yang harus kulakukan sekarang? Apa jika tidak bersamaku kau akan bahagia? Apa dengan tidak melihatku kau akan baik-baik saja? Jika memang semua itu adalah kebaikan untukmu, aku akan menjauh darimu. Maafkan aku".
Dinda yang memang sedari tadi sudah tersadar dari pingsannya pun tak bisa lagi berpura-pura. Dadanya bergemuruh mendengarkan kata-kata yang baru saja diucapkan oleh Dimas. Perasaan lega dan juga tidak rela menyeruak ke dalam relung hatinya. Ya, tentu saja ia lega karena ia tak lagi harus melihat Dimas yang membuatnya mengingat kembali lukanya.
Tapi perasaan tidak rela itu kenapa begitu saja muncul di hatinya? Apa mungkin ia tidak rela jika Dimas harus menjauh darinya? Tapi kenapa? Toh bukannya selama ini memang dia sendiri yang menghindarinya. Aahhh,,, haruskah ia memikirkannya sekarang?
Perlahan Dinda pun membuka matanya. Dilihatnya Dimas sedang tertunduk sembari menggenggam sebelah tangannya. Perlahan ia menarik tangannya dari genggaman Dimas yang membuat pria itu mengangkat kepalanya.
"Kamu sudah sadar?" tanya Dimas terdengar khawatir.
Tak menghiraukan pertanyaan Dimas, Dinda memalingkan wajahnya.
__ADS_1
"Aku akan panggilin mama" ucap Dimas lagi dan berdiri keluar dari kamar Dinda.