Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Pencerahan


__ADS_3

Sepulang kuliah, Dinda tak langsung pulang ke rumah mertuanya. Pikirannya terlalu kalut memikirkan Dimas yang sudah kembali ke rumah sedangkan dia sendiri masih enggan menemui laki-laki itu. Ia memilih beristirahat di kosan Maya sebelum akhirnya pulang ke rumah orang tuanya. Yah, Dinda sudah berencana untuk pulang sore ini. Entah alasan apa nanti yang akan ia berikan pada orang tuanya, yang pasti ia ingin menghindari Dimas untuk saat ini.


Dimas sendiri terlihat begitu kacau setelah mendengar sendiri permintaan Dinda untuk tidak menemuinya. Di tempatnya kerja, kepalanya seolah enggan memikirkan hal lain selain istrinya itu. Terlebih setelah mendapat pesan dari Maya bahwa istrinya itu memutuskan pulang ke rumah orang tuanya. Rasa bersalah, marah, dan takut kehilangan pun bercampur jadi satu menyesakkan dadanya. Lelah dengan urusan pekerjaan dan juga masalah rumah tangganya, ia pun memutuskan untuk pulang dan meninggalkan sisa pekerjaannya pada Niko yang tentu saja kesal dibuatnya.


Malam harinya, Dinda sudah berada di rumah orang tuanya. Kangen menjadi satu-satunya alasan yang ia ucapkan pada orang tuanya. Ia pun bersikap ceria sebagaimana Dinda saat pulang waktu lamaran Anisa kemarin, sehingga tak ada yang curiga dengan kepulangannya itu. Ahhh,,, pintar sekali ia berakting seperti itu.


Dinda sudah bersiap untuk tidur saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.


"Udah tidur Din?" Suara Anisa dari luar kamarnya.


"Belum kak, masuk aja nggak dikunci" ucapnya sedikit keras.


Anisa pun masuk dan mendekati Dinda yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya.


"Kamu baik-baik saja kan dek?" Tanya Anisa setelah mendudukkan dirinya di tepi ranjang.


"Baik kok"


"Di sini nggak ada ibu sama bapak. Sekarang cerita sama kakak. Kamu ada masalah sama Dimas?"


Darimana kakak tau? Apa mungkin dia yang beritahu kak Nisa?


"Maksud kakak apa sih? Dinda nggak ngerti" elak Dinda.

__ADS_1


"Udahlah Din, kakak tau banget sama kamu. Kalau alasan kamu pulang itu karena kangen, itu nggak masuk akal banget. Setahun lebih kamu di sana, baik-baik saja kok. Kalau kamu kangen bisa video call kan, nggak harus sampe pulang. Ayok, sekarang cerita sama kakak" paksa Anisa sembari membaringkan tubuhnya di samping Dinda.


Dinda pun tak bisa lagi membohongi kakaknya itu. Ia pun menceritakan semua keluh kesahnya mulai dari pertemuannya dengan Siska sang mantan dari suaminya itu. Bahkan ia pun menceritakan semua pembicaraannya dengan Dimas tanpa satupun terlewat, hingga keputusannya untuk pergi meninggalkan laki-laki itu.


"Kamu ini, kekanakan banget tau nggak? Kamu tuh sebenernya cinta nggak sih dek sama suamimu?" Tanya Nisa setelah mendengarkan cerita Dinda.


"Emm,,, nggak tau sih kak" jawab Dinda ragu.


"Sekarang gini. Kalau misalnya Dimas kesel sama kamu terus ninggalin kamu, kamu bisa terima?"


"Eng,,, enggak mau. Dinda nggak rela, Dinda sayang sama mas Dim" lirih Dinda.


"Nah itu tau. Kalau kamu sayang kenapa kamu nekat kaya gini? Nggak takut kalau dia malah balikan sama mantannya itu?"


"Nggak mungkin lah kak. Mas Dim udah bilang cinta sama Dinda"


"Kak Nisa kok gitu sih. Bukannya belain adiknya. Kak Dimas yang salah kak" ucap Dinda penuh penekanan.


"Salah dari mana? Semua itu masa lalu Din. Kalau Dimas tau kamu yang bakal jadi istrinya, dia juga pasti mikir lah ngelakuin itu sama Siska. Emang kamu dulu tau siapa yang bakal jadi suamimu? Enggak kan?"


"Tapi kan Dinda kesel kak. Masa dia aja dapetin perawan Dinda, eh Dinda malah dapat bekasnya si Siska"


"Haaiiisssh,,, pikiran kamu ini lho" Nisa menyentil dahi Dinda kesal.

__ADS_1


"Awhhh!"


"Sejak kapan ada hukum timbal balik seperti itu? Terus apa kabar para perawan yang berjodoh sama duda? Perjaka yang berjodoh sama janda itu semua gimana hukumnya? Semua sudah ada suratannya masing-masing Din" ucap Nisa sedikit meninggi.


"Kamu bisa ngaji kan? Kamu juga pasti tau kalau tuhan itu sudah menyediakan orang baik untuk orang baik. Begitu juga sebaliknya. Nggak ada tuh ayat yang menjelaskan kalau perawan jodohnya juga harus perjaka. Di ayat mana kamu baca itu?"


Dinda terdiam mendengarkan ucapan kakaknya. Nggak ada yang salah dengan semua yang keluar dari mulut kakaknya itu. Apa mungkin dia saja yang terlalu picik, terlalu kekanakan pemikirannya?


"Sekarang kamu introspeksi deh, kamu udah jadi orang baik belum? Kalau belum, kamu fokus aja perbaiki diri kamu. Yakinlah sama apa yang udah dikasih sama Allah. Semua itu sudah yang terbaik Dinda. Kakak yakin, Dimas itu orang baik, karena adik kakak ini juga baik kan?" Anisa mengusap kepala adiknya lembut.


"Tapi kak, kalau dia beneran cinta sama Dinda, harusnya kan dia mau diajak tinggal sama Dinda. Lha ini malah dia kayak ngehindar terus"


"Kalau itu kamu tanyakan sendiri sama Dimas. Mungkin, dia punya alasannya sendiri. Udah deh, kamu jangan mikir macem-macem. Sekarang kamu inget aja gimana sikap Dimas sama kamu selama ini? Cinta tidaknya dia sama kamu pasti kelihatan kok dari sikapnya"


Dinda mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti. Selama ini Dimas memang begitu perhatian pada Dinda. Bahkan di tengah kondisi Dinda yang dulu trauma terhadapnya pun ia selalu bersabar menunggu kesembuhan Dinda. Tak ada satupun sikap dari laki-laki itu yang tidak menunjukkan cintanya pada Dinda.


Dinda menyadari kesalahannya kali ini. Ia mungkin terlalu menuntut kesempurnaan dari suaminya itu. Aaahh,,, tamaknya dia. Tidak ada manusia sempurna bukan?


Ia pun sedikit lega setelah mendapat pencerahan dari kakaknya. Setidaknya ia sudah bisa memutuskan langkah apa yang akan ia ambil selanjutnya.


"Makasih kak. Nggak sia-sia Dinda cerita sama kakak" Dinda beringsut memeluk kakaknya yang berbaring di sampingnya.


"Ya udah, tidur gih. Jangan ambekan lagi yah. Kasihan suamimu"

__ADS_1


"Iyah" Dinda tersenyum lega setelahnya.


Di tempat lain, Dimas terlihat melajukan motornya di tengah jalanan malam. Rasa frustasi mengarahkannya kembali ke arena untuk sekedar melupakan sejenak kegalauannya.


__ADS_2