
Dengan sebelah tangan yang masuk ke dalam sakunya, Dimas berjalan memasuki kantornya dengan bersiul-siul ria. Rona bahagia nyata terpancar dari wajah tampannya. Dengan senyum yang masih mengembang, ia menyapa Niko yang baru saja keluar dari ruangannya.
Niko yang melihat tingkah tak biasa bosnya itupun segera menyusul masuk ke dalam ruangan kantor yang tak terlalu luas itu.
"Ehemm,,, bahagia bener bos" ucap Niko sembari mendudukkan dirinya di depan meja kerja Dimas.
Dimas menjatuhkan dirinya di kursi kebesarannya dan berputar layaknya anak kecil yang bermain-main.
"Bosss!!! Gila ya, gue di cuekin. Segitu bahagianya lo sampai nyuekin sahabat lo" hardik Niko.
"Apaan sih Nik ah, berisik!"
"Bagi-bagi lah Dim kalau punya kabar gembira"
"Ogah, yang ada ntar lo jadi ngebet minta kawin"
"Jiiiaaahhh,,, sialan lo! Mentang-mentang udah kawin. Lo belum tau aja, bentar lagi sohib lo ini bakal nyusulin lo"
"Mau nyusulin kemana?" Heran Dimas.
"Kawin lah, kemana lagi"
"Ck, sama Maya? Hhhhh,,, hubungan aja masih gntung udah belagak mau kawin"
"Bentar lagi bray,,," ucap Niko sambil berlalu meninggalkan Dimas yang mulai sibuk dengan dokumen-dokumen di depannya.
Lain Dimas, lain pula dengan Dinda. Gadis itu seolah kehilangan seluruh energinya hari itu. Satu mata kuliah dilaluinya dengan penuh perjuangan. Ia harus bekerja keras membuat mata cantiknya itu tetap terbuka untuk memperhatikan setiap penjabaran materi oleh dosen di depan kelasnya. Gadis itu begitu kepayahan untuk sekedar menahan kantuknya. Hingga sang dosen yang sedari tadi memperhatikannya pun tergerak untuk mendekati gadis berkerudung abu-abu itu.
Dengan mengetuk-ngetukkan spidol di atas meja Dinda, sang dosen berhasil membuat gadis itu berjingkat menatapnya.
"Enak tidurnya?" Tanya Ilham si dosen ganteng.
"Em,,, eh,,, iya pak" jawab Dinda terbata, membuat seisi kelas riuh menyorakinya.
"Mau belajar apa mau tidur?"
"Belajar pak"
"Bawa buku kamu ke depan" perintah Ilham.
"Ngapain pak?"
__ADS_1
"Bawa buku kamu ke depan atau kamu keluar dari kelas saya!" Tegas Ilham.
Dinda yang terkejut dengan ucapan dosen baru itu pun melempar pandangannya ke arah Maya yang duduk di sampingnya. Dengan isyarat matanya, Maya pun menyuruh Dinda untuk segera mengikuti apa yang diperintahkan dosen ganteng itu.
Setelah selesai dengan kelasnya, seperti biasa Dinda langsung menuju kantin untuk mengisi kembali perutnya yang kosong. Terlebih, karena terlambat bangun tadi pagi membuatnya melewatkan sarapannya dan hanya meminum segelas susu sebagai gantinya.
Dengan lahap Dinda menikmati soto dan juga siomay pesanannya. Segelas jus jambu kesukaannya pun telah habis ia minum. Dan kini, gadis itu sedang membuka snack yang sedari tadi ia pegang membuat Maya sampai terheran dibuatnya.
"Kamu beneran laper Din?" Maya memperhatikan gerak gerik Dinda yang sedang menikmati snack dengan santainya.
"Sekarang udah nggak sih. Kenapa?"
"Ya iyalah Din, satu mangkok soto, seporsi siomay, jus jambu dan sekarang, masih giling aja tuh mulut" Maya menatap snack di tangan Dinda.
"Aku tadi nggak sarapan May. Kaya kamu makannya dikit aja"
"Sebelas dua belas lah sama kamu" ucap Maya meminum es jeruknya.
"Lagian ya, akutuh laper karena masih kesel banget sama pak Ilham. Malu aku May, disuruh berdiri di depan kelas" keluh Dinda masih mengunyah snacknya.
"Alesan aja kamu. Emangnya semalem ngapain aja sampe tidur di jamnya pak Ilham?"
Mendengar pertanyaan Maya, Dinda pun menjadi salah tingkah dibuatnya. Kejadian semalam kembali berputar di kepalanya. Sentuhan Dimas, ciuman Dimas dan bahkan semua perlakuan Dimas masih terekam sempurna di kepalanya.
"Issshhh,,, apaan sih May" elak Dinda malu.
"Truss,,, ngapain kamu senyum-senyum kaya gitu?" Maya bergidik.
Ting
Suara pesan masuk di hp Dinda membuatnya urung membalas ucapan sahabatnya itu.
Masku
Udah selesai kuliahnya sayang?
Udah mas, lagi nungguin Talita mau pulang.
Masku
Maaf, mas gak bisa jemput.
__ADS_1
Gak papa mas
Masku
Ya udah, hati-hati pulangnya. I love u sayang
Dinda tersenyum setelah selesai membaca pesan dari suaminya. Lega sudah perasaannya mengetahui hubungannya dengan Dimas benar-benar berjalan dengan semestinya. Rasa benci bahkan jijik yang dulu menghinggapi hatinya, kini dengan seijin Allah yang membolak balikkan hati dengan begitu mudahnya berubah menjadi cinta.
Pertemuan yang dulu menyakitkan, kini seolah hilang ditelan kebahagiaan. Laki-laki yang dulu wajahnya begitu ia benci, kini menjadi seseorang yang begitu ia rindu disetiap waktu.
Begitu banyak hal yang di luar kuasa kita sebagai manusia, termasuk memunculkan rasa. Baik itu rasa benci, suka maupun cinta. Tak pernah kita tahu kepada siapa bermuara. Jika yang kuasa sudah menghendakinya, kita manusia bisa apa?
Sebahagia itu mendapat pesan dari suaminya hingga tak sadar Dinda pun tersenyum sembari memeluk erat hpnya. Maya yang sedari tadi melihat tingkah sahabatnya pun cuma bisa menggeleng heran dibuatnya.
Di sudut lain kampus, nampak Andra yang masih setia menunggu Talita di depan kelasnya. Sesekali laki-laki itu melongokkan kepalanya melihat sang gadis yang masih sibuk dengan buku-bukunya. Sementara ruang kelas berangsur sepi, namun sang pujaan hati tak kunjung menampakkan diri. Andra yang tak sabar pun menerobos masuk dan dengan kasar mendudukkan dirinya di depan Talita.
Greeekkk
Andra menarik kursinya mendekat ke arah Talita.
"Issshhh,,, berisik Ndra!" Hardik Talita yang masih sibuk dengan buku-bukunya.
"Kalau menghindar kira-kira dong Ta. Masa iya dari tadi nggak keluar kelas cuma ngeberesin buku yang nggak seberapa ini" ucap Andra sembari merebut buku yang ada di tangan Talita.
"Ck, apaan sih lo!"
"Ta, udah dong ngambeknya. Kalau kamu nggak mau kita pacaran, kita kan bisa temenan kaya dulu. Ayo lah Ta, please. Masa iya kamu cuekin aku kaya gini sih. Akutuh nggak bisa diginiin" ucap Andra dengan gaya centilnya. Membuat Talita yang tadinya kesal tanpa sadar tertawa karena tingkah konyol laki-laki itu.
"Apaan sih lo. Jijik tau!" Ucap Talita sembari memukul lengan Andra.
"Naaahh,,, gitu dong ketawa. Akutuh nggak bisa nggak ngeliat senyum kamu"
"Hahaa,,, udah deh Ndra, nggak pantes tau lo ngegombal kaya gitu"
"Biarin, yang penting kamu ketawa. Udah ya ngambeknya. Kita baikan okayyy?" Rayu Andra.
"Ck, iyyyaaahh. Gue tuh nggak marah. Cuma kesel aja sama lo yang setiap saat teriak-teriak bilang suka ma gue. Malu tau Ndra".
"Ya elah Ta, kamu aneh banget. Biasanya cewek-cewek bakalan klepek-klepek kalau diperlakukan kaya gitu, nah kamu malah kesel. Kamu beneran cewek kan Ta?" Andra mendekatkan wajahnya memperhatikan Talita yang langsung mendapat jitakan oleh sang gadis.
"Mulai deh gila"
__ADS_1
Sialan lo Ndra, bisa banget bikin jantung gue kelojotan kaya gini.