Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Keinginan Dinda


__ADS_3

Waktu terus berlalu. Tak terasa sudah dua tahun Dinda menyandang status sebagai istri dari Dimas Putra Sanjaya. Tahun-tahun pertama yang tak semanis pernikahan pada umumnya, ia lalui dengan penuh keikhlasan. Dan di tahun kedua, dua insan yang dipertemukan Tuhan dengan cara tak biasa itupun meraih kebahagiaan layaknya pasangan suami istri lainnya. Cinta dan kasih sayang melimpah ia dapatkan dari Dimas dan keluarganya. Kini keduanya tengah menikmati manisnya berumah tangga.


Bertepatan dengan ulang tahun ke dua pernikahannya, sebuah pesta resepsi baru saja digelar satu minggu lalu. Semua keluarga, sahabat dan juga rekan bisnis turut hadir menjadi saksi kebahagiaan pasangan yang bisa dibilang tak baru lagi itu.


Tak terasa dua tahun sudah mereka membina rumah tangga. Namum dua tahun itu juga bisa menjadi sangat lama jika berada di tengah sebuah penantian. Tak terkecuali Dinda yang begitu mendamba hadirnya malaikat kecil di tengah-tengah keluarganya. Terlebih kakaknya Anisa sudah lebih dulu memberikan kabar baik tentang kehamilannya yang berusia dua bulan membuatnya lebih berambisi lagi untuk segera hamil.


"Woyyy,,, melamun aja sih neng!" Suara Maya mengagetkan Dinda yang sedang menunggunya di bangku taman kampus.


"Ish,,, apaan sih May" kesal Dinda menatap tajam Maya. "Udah telponannya sama ayang mbep?" Tanyanya kepada Maya yang baru saja menerima telfon dari Niko.


"Udah dong". Maya mendudukkan dirinya di samping Dinda. "Mikirin apa sih? Serius amat".


"Nggak ada"


"Jangan bohong deh Din. Aku tuh udah kenal kamu lama lho".


Dinda menghela nafasnya kasar. Seolah-olah memang ada sesuatu yang berat yang sedang dipikirkannya. "Biasa lah May".


Maya pun menghela nafas tanda mengerti. Tak ada hal lain yang bisa membuat sahabatnya itu bersedih selain masalah kehamilan yang tak kunjung menghampiri.


"Din, Din. Sampai kapan sih kamu mau seperti ini? Nyantai aja kali Din, kita masih muda, masih kuliah" ucap Maya santai. Berbeda dengan Dinda, gadis itu memang sudah sepakat dengan Niko untuk menunda dulu kehamilannya sampai selesai kuliah.


"Kamu sama aku tuh beda May. Kamu bisa sesantai itu karena kamu nggak ngerasain apa yang aku rasain" ucap Dinda sembari menatap lurus ke depan. "Kamu bisa santai karena emang kamu menundanya. Sedang aku, aku menginginkannya May. Panas tau kuping aku tiap kali ada yang ngomong 'udah punya anak belum?', 'Kok nggak hamil-hamil?', 'Iihh nggak bisa ya, lama banget hamilnya'". ucap Dinda menirukan suara dari pemberi pertanyaan-pertanyaan itu.


Padahal keluarganya sendiri tak begitu ambil pusing dengan Dinda yang tak kunjung hamil. Walaupun keluarga Dimas beberapa kali pernah menyinggungnya, namun tak ada tuntutan sedikitpun dari mereka untuk Dinda agar segera hamil. Paling hanya sekedar candaan ringan untuk menggoda Dinda. Terlebih lagi Dimas, laki-laki itu lebih memilih melihat Dinda fokus kuliah dan menikmati masa remajanya ketimbang harus disibukkan dengan mengurusnya dan anak-anaknya nanti.


"Ngapain sih mikirin omongan mereka? Semakin kamu stres semakin susah tau buat kamu hamil. Kamu tuh harusnya rileks kalau pengen cepet hamil" nasehat Maya.


"Ck,,, kaya ngerti aja kamu"


"Eh, gini-gini aku ngerti soal gituan. Lagian ya, suami kamu aja nyantai. Nggak usah lah kamu pusingin omongan orang yang unfaedah kaya gitu. Kamu tuh sebenernya pengen hamil karena emang pengen atau karena omongan mereka sih?"


Dinda terdiam mendengar pertanyaan sahabatnya. Jujur ia juga tak begitu tau kenapa ia begitu menggebu-gebu ingin segera hamil. Terlebih setelah mendengar kabar kehamilan dari kakaknya. Apa mungkin hal itu hanya karena rasa iri atau memang dia benar-benar menginginkannya? Dan lagi omongan orang-orang di luar sana yang seolah menghakiminya tak bisa sempurna sebagai seorang istri. Ahhh,,, sungguh menyebalkan.


"Udah ah, cabut yuk" ucap Maya menyadarkannya dari lamunan.


"Kemana?"


"Ke salon mama Ambar yuk" ajak Maya dengan mata berbinar. "Biar suami makin cinta" bisiknya yang disambut dengan toyoran dari Dinda.

__ADS_1


"Yeee,,, ni anak. Dulu aja berlagak nolak mas Niko".


"Dulu belum tau rasanya Din. Sekarang udah beda, udah ngerti enak soalnya" balas Maya terkekeh sembari berdiri menghindari pukulan Dinda.


Keduanya pun kemudian beranjak untuk pergi memanjakan diri ke salon mama Ambar sebagaimana ajakan dari Maya.


Malam harinya Dinda sedang mengerjakan tugas-tugas kampusnya di dalam kamar. Ditemani Dimas yang juga sibuk dengan laptopnya, keduanya memilih fokus dengan urusannya masing-masing.


"Belum selesai juga sayang?" Tanya Dimas yang lebih dulu menyelesaikan pekerjaannya. Ia menutup laptopnya dan menggeser duduknya mendekati Dinda.


"Dikit lagi" jawab Dinda yang masih menggerakkan jemarinya di atas keyboard.


Dimas mengarahkan pandangannya menuju jam Dinding yang sudah menunjuk di angka sembilan.


Merapatkan tubuhnya dengan memeluk pinggang Dinda yang masih duduk di lantai dengan pandangan yang masih fokus dengan laptopnya di atas meja. "Emang banyak tugasnya?"


"Lumayan".


Dengan tangan yang melingkar di pinggang Dinda, Dimas menyandarkan kepalanya di pundak istrinya. "Hari ini ngapain aja?"


"Biasa aja. Kuliah, terus ke salon mama" jawabnya tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"Maya. Siapa lagi?"


"Talita?"


"Nggak ikut dia. Katanya sih mau kencan".


"Ck, anak itu. Aku bilangin papa biar cepet dikawinin" Ucap Dimas kesal.


"Kenapa?" Dinda menghentikan aktifitasnya dan menengok ke arah Dimas yang masih bersandar di bahunya.


"Sayang, Talita itu udah lama pacaran sama Andra. Nunggu apalagi coba?"


Dinda terkekeh mendengar ucapan Dimas. "Mas iri ya?"


"Hehhh,,, ngapain iri? Aku udah punya istri kali. Cantik lagi istriku" gombalnya kemudian mengecup pipi Dinda.


"Abisnya sewot gitu. Kadang akutuh yang ngiri sama Lita. Mereka bisa puas pacaran. Mana kak Andra perhatian banget sama Lita".

__ADS_1


Dimas pun menegakkan tubuhnya menatap Dinda yang terlihat lesu. "Kok gitu sih sayang? Emang selama ini perhatian mas masih kurang?" Tanya Dimas tak terima.


"Menurut mas?"


Dimas pun melepas pelukannya dipinggang Dinda dan memutar tubuhnya hingga bersila menghadap istrinya itu. "Jelasin dong Din. Di mana kurangnya?"


"Nasib punya suami nggak pekaan ya gini nih".


"Sayaaang,,," rajuk Dimas. "Kamu ngiri gimana sih maksudnya? Kita tiap akhir pekan juga kan jalan-jalan. Kencan juga kan itu namanya?"


"Bukan itu mas".


"Terus?" Tanya Dimas makin tak mengerti.


"Ihhh,,, mas Dim bener-bener nggak ngertiin Dinda ih" rajuk Dinda.


"Pliissss,,, ngomong dong Din. Mas kurang ngertiin gimana?"


Dinda menghela nafasnya kasar. Salah memang jika harus menunggu suaminya itu mengerti perasaannya. Bagaimanapun Dimas hanya laki-laki biasa yang tak begitu peka. Dan dia berharap suaminya itu bisa mendengar suara hatinya gitu? Aahhh,,, salah besar.


Benar, komunikasi harus dibangun dua arah. Mungkin bicara dari hati ke hati solusinya. Kalau dia diam saja, mana mungkin suaminya itu mengerti yang dipikirkannya. Ahhh,,, bodohnya dia. Kenapa tak bicara langsung saja dengan suami yang tak peka namun baik itu.


"Mas,,," Dimas mendengarkan dengan seksama. "Dinda mau minta sesuatu boleh?"


"Tentu saja sayang. Apasih yang nggak buat kamu?"


"Kita periksa yuk".


"Periksa?" Dimas mengernyitkan keningnya.


"Kita ke dokter kandungan. Aku mau hamil mas".


Dimas menghela nafasnya mendengar permintaan istrinya. Tak disangkanya istrinya begitu terbebani karena masalah itu. "Sayang, kamu yakin udah siap?"


Dinda mengangguk yakin. "Aku sebenernya tuh kepikiran terus omongan orang-orang yang bilang aku nggak bisa hamil. Aku takut itu bener mas. Secara kita kan udah dua tahun nikahnya" ucap Dinda berkaca-kaca.


Dimas yang melihat istrinya hampir menangis pun meraih gadis itu ke dalam pelukannya. Beberapa kali Dinda bercerita tentang kekesalannya dengan nyinyiran orang tentang ia yang tak kunjung hamil. Namun tak disangkanya, Istrinya itu begitu terbebani dengan hal semacam itu.


"Sssttt,,, saaayaang. Maafin mas yang nggak ngertiin kamu. Baiklah, Besok kita ke dokter. Dan mas yakin, semua akan baik-baik saja".

__ADS_1


__ADS_2