
"Dinda, bilang padaku apa yang membuat kamu marah seperti ini?" Ucap Dimas mengulangi pertanyaannya.
"Baiklah, aku tidak marah. Cuma bagaimana bisa kamu tidak memberitahu siapa aku kepada mantanmu itu. Sudah jelas dia salah paham dengan statusku, tapi kamu malah diam saja. Sengaja kamu?" Cerocos Dinda.
Dimas pun tak bisa lagi menyembunyikan tawanya. Aahhhh,,, dia terlalu gemas dengan gadis itu. Dan apa ini? Baru kali ini gadis itu berbicara sepanjang itu dengannya. Dengan nada suara yang merajuk seperti itu, Dimas semakin gila dibuatnya. Ia terus saja tertawa hingga lupa gadis di depannya itu sedang menunggu jawabannya dengan wajah yang sudah merah padam.
"Maaf, maaf,,," ucap Dimas menghentikan tawanya menyadari gadis di depannya sudah terlihat sangat kesal. "Ternyata aku memang tak mengenal istriku".
Dinda pun terperangah mendengar ucapan Dimas.
Apa dia bilang tadi? Istriku? Aaahhhh,,, kenapa aku bersikap seperti itu sih. Dia jadi ge er kan. Mana diketawain pula.
"Dinda, maaf. Aku tadi nggak bilang kamu istriku karena aku fikir kamu memang tidak menyukainya kalau aku mengumbar status pernikahan kita. Tapi ternyata aku salah. Maafkan aku, mulai sekarang aku akan dengan bangga memperkenalkanmu sebagai istriku". Dimas tersenyum mengakhiri ucapannya. Lain halnya dengan Dinda, wajah gadis itu sudah memerah malu karena kekonyolan yang diciptakannya sendiri.
"Mulai sekarang aku ingin kita saling terbuka dengan pikiran masing-masing. Bilang padaku saat kamu tidak menyukai sesuatu tentang aku. Begitu juga aku, aku akan mengatakan jika aku suka maupun tidak suka. Seperti tadi, aku sangat menyukai kamu memanggilku 'mas'". Dimas meraih tangan Dinda yang tentu saja ditolak oleh gadis itu. Tapi kali ini Dimas menahannya hingga sia-sia usaha gadis itu melepasnya.
"Dinda, aku benar-benar ingin memulainya denganmu. Kumohon, berilah aku kesempatan menebus kesalahanku. Aku ingin memperbaiki semuanya dengan membahagiakanmu".
Dinda terenyuh mendengar ketulusan laki-laki di depannya. Ia sendiri juga masih belajar menerima kehadiran laki-laki itu. Perlahan tapi pasti, ketulusan laki-laki itu mulai menggoyahkan hatinya.
Dimas masih memegang tangan Dinda, perlahan gadis itu mencoba melepaskan genggaman tangan itu.
"Ayo pulang" ucap Dinda lirih.
"Jawab dulu pertanyaanku. Kamu mau kan memulai semuanya denganku?"
"Emm" Dinda mengangguk mengiyakan.
Betapa senangnya hati Dimas saat itu. Ia kembali melajukan mobilnya dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.
__ADS_1
Seminggu berlalu. Selama itu pula Dinda dan Dimas sudah saling mendekatkan diri untuk memulai kisah rumah tangganya. Dinda yang awalnya memang cuek dengan laki-laki itu, kini sedikit demi sedikit membuka hatinya. Awal pertemuan yang tak mengenakkan pun perlahan dikuburnya. Nampaknya kesabaran dan ketulusan Dimas lah yang perlahan menutup luka hatinya.
Hari itu Dinda dan Maya baru saja menyelesaikan kuliahnya. Seperti biasa mereka berada di kantin kampus untuk sekedar bersantai setelah berkutat dengan buku-buku tebal yang dibawanya. Dinda sendiri sedang menelfon pak Samsul untuk menjemputnya. Dua hari ini Dimas absen tidak menjemput Dinda. Bahkan pagi tadi pun Dinda berangkat diantar oleh pak Samsul.
"Suami kamu gak jemput lagi hari ini? Gak kasih kabar dia?" Tanya Maya.
"Mungkin dia masih sibuk".
"Kamu percaya gitu aja?"
"Emang kenapa? Dia juga butuh kerja May".
"Din,,, Din. Jadi orang lugu banget sih. Semua orang juga tau kali suami kamu itu juga kerja. Tapi selama ini masih sempet tuh ngantar jemput kamu".
"Trus maksud kamu apa ngomong kaya gitu?"
"Ya kamu mikir lah Din. Kalian tinggal terpisah, udah jelas kan kamu gak benar-benar tau pekerjaannya gimana. Trus, seharian ini kayanya hp kamu anteng-anteng aja tuh. Padahal udah dua hari kalian gak ketemu. Sesibuk apapun dia masa iya gak ngasih kabar ke istrinya sih? Ati-ati lho Din".
"Jangan sampai kamu nyesel. Punya laki cakep dibiarin tinggal sendiri. Disamber pelakor tau rasa kamu"
"Ck,,, kamu ini. Ngomongin itu mulu"
"Oh iya, kamu bahkan nggak tau kan tempat tinggalnya?"
Dinda menggeleng sembari berpikir. Hubungan mereka memang sudah membaik, tapi belum pernah sekalipun Dinda terpikir untuk mengunjungi apartemen suaminya. Ya selain Dimas memang selalu mengantarnya pulang ke rumah orang tuanya, dia juga tidak pernah mengajak Dinda untuk sekedar melihat tempat tinggalnya selama ini.
"Kamu temenin aku ke apartemen Dimas ya?" Ucap Dinda setelah beberapa saat berpikir.
"Naahhh,,, gitu dong punya inisiatif. Jangan cuma nunggu disamperin aja. Inget ya Din, pelakor jaman sekarang tuh pinter-pinter".
__ADS_1
"Apaan sih. Ayuk ah, pak Samsul udah di depan".
Mereka pun meninggalkan kantin dan menuju ke apartemen Dimas dengan diantar oleh pak Samsul. Dengan perasaan yang campur aduk Dinda memasuki lift ditemani oleh Maya. Saat itu ia memang sengaja tidak memberi kabar kepada Dimas terlebih dulu. Tentu saja hal itu sengaja untuk membuktikan bahwa omongan Maya itu salah.
Triing
"Beneran lantai yang ini Din?" Tanya Maya ragu.
"Tadi bilangnya pak Samsul emang bener ini kok"
Merekapun berjalan sembari memperhatikan nomor yang tertempel di depan ruangan. Sesampainya di apartemen yang dituju, Dinda dan Maya hanya berdiri mematung tanpa berani menekan bel yang terdapat di depannya. Sampai pada akhirnya seorang wanita hamil dengan santainya melenggang menekan pasword pintu dan masuk tanpa menghiraukan keberadaan kedua gadis itu.
"Ini bener apartemennya kan Din?"
"Iya, bener ini kok"
"Trus siapa wanita itu?"
Dinda mengedikkan bahunya. Jujur Dinda sendiri juga penasaran dengan wanita yang baru saja dilihatnya. Seorang wanita hamil yang dengan bebasnya keluar masuk apartemen suaminya. Pikirannya pun sudah membayangkan sesuatu yang selama ini selalu disangkalnya.
??
"Din! Mau masuk nggak?" Tanya Maya membuyarkan lamunannya.
"Eh,,, iya"
Dengan perasaan yang tak karuan itu Dinda memberanikan diri menekan tombol yang berada tak jauh darinya.
Ceklek,,,
__ADS_1
Seorang wanita membukakan pintu. Ia mengamati Dinda dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan wajah datar. Sedangkan Dinda sendiri hanya terdiam menata perasaannya. Sepertinya gadis itu masih menerka-nerka siapa wanita hamil di depannya itu.
Apa jangan-jangan,,,