
Dimas berjalan mondar mandir di teras rumahnya. Nampak sekali raut khawatir yang tergurat di wajahnya. Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Namun istri kesayangannya itu belum juga ada kabarnya. Sejak siang tadi ia sudah dibuat tak tenang setelah mengetahui istrinya itu baru saja dari kantor tanpa bertemu dengannya. Terlebih saat mendengar penjelasan dari Nida dan juga ponselnya yang sama sekali tidak bisa dihubungi.
Dengan petunjuk dari staf sekretarisnya itu, Dimas sudah mendatangi restoran yang tadi dikunjungi Dinda bersama Nida. Tapi apes, istrinya itu sudah pergi entah kemana meninggalkan resto itu. Panik, cemas dan juga khawatir menyerang Dimas. Tanpa berfikir panjang ia langsung pulang ke rumah berharap istrinya itu sudah sampai rumah. Namun nihil. Istri kesayangannya itu tak ada di rumah.
Beberapa kali laki-laki itu menghubungi nomor hp istrinya, namun masih tak aktif juga. Bahkan Niko dan beberapa stafnya pun tak dibiarkannya tenang sebelum istri kesayangannya itu ditemukan. Terlebih adanya beberapa kemungkinan jika sang istri sedang kesal membuatnya semakin kalang kabut dibuatnya.
Setelah mencari tau beberapa petunjuk dan juga atas saran dari Maya, kini Dimas sedang menanti dengan cemas kepulangan istrinya itu.
'Kak Dimas tunggu di rumah aja, nanti Dinda juga pasti pulang. Ia mungkin lagi ada masalah, soalnya beberapa kali tadi sempet hubungi Maya, tapi gak Maya angkat karena gak tau. Biarin dia sendiri dulu, ntar juga pulang'.
Itulah ucapan Maya tadi saat Dimas bertanya pada istri sahabatnya itu. Dan ucapan itu juga yang membuatnya semakin frustasi.
Ada masalah? Kenapa sayang? Apa mungkin tadi dia sempat dengar percakapan kami di kantor? Monolog Dimas dalam hatinya.
Ya, sebelum Dimas kelimpungan mencari keberadaan istrinya itu, ia terlebih dulu mencari tau lewat rekaman CCTV di kantornya. Berdasarkan informasi dari Nida yang mengatakan Dinda sempat menuju ruangannya, ia pun memutar CCTV yag terletak di lorong menuju ruangannya. Dari sana dapat diketahui kalau Dinda sempat berada di depan ruangannya sesaat sebelum meninggalkan kantor. Dan pada saat itu Dimas masih berada di ruangannya bersama Niko dan kedua rekannya
"Sayang, kamu di mana?" gumam Dimas penuh kecemasan. Beberapa kali ia menatap layar ponsel yang sedari tadi di genggamnya. Berharap istrinya itu sudah mengaktifkan kembali hp nya.
Setelah hampir satu jam menunggu Dinda di teras, Dimas pun sudah tak sabar untuk segera menemukan istri tercintanya. Dengan sedikit tergesa ia pun berbalik hendak masuk untuk mengambil kunci mobil bermaksud untuk mencari sendiri istrinya. Entah kemana ia akan mencari, yang penting ia sudah tak bisa jika harus diam saja menunggu.
Saat Dimas baru saja melangkahkan kakinya melewati pintu, bersamaan dengan hal tersebut masuk sebuah taksi ke halaman rumah. Berharap itu Dinda, ia pun kembali berbalik dan berlari kecil mendekat ke arah taksi yang baru saja berhenti itu.
"Sayang!" Pekiknya begitu melihat Dinda keluar dari pintu penumpang. Dengan tak sabar Dimas pun menjangkau Dinda dan memeluk sang istri yang berhasil menguji kesabarannya hari ini. "Kamu dari mana? Kamu nggak papa kan? Kenapa hpnya mati?" Berondong Dimas sembari mendekap Dinda erat.
"Ck, lepas ih" sungut Dinda berusaha melepas pelukan Dimas.
__ADS_1
"Sayang,,," lirih Dimas heran. Ia pun mengendurkan pelukannya. Menjauhkan wajahnya demi melihat ekspresi sang istri yang terlihat kesal.
"Minggir dulu ih, itu bapaknya belum dibayar" protes Dinda yang berhasil lepas dari pelukan Dimas.
Sedangkan Dimas sendiri hanya Diam melihat sang istri yang sedang membayar ongkos taksi yang telah membawanya pulang.
Mengabaikan Dimas yang masih terdiam, Dinda langsung berjalan memasuki rumah begitu taksi yang ia tumpangi keluar dari halaman. Meninggalkan Dimas yang masih berdiri termangu menyaksikan kepergian istrinya yang sedari tadi enggan menatapnya.
"Kamu udah makan?" Tanya Dimas saat Dinda telah usai membersihkan dirinya.
"Udah!" Jawab Dinda judes.
Dimas yang paham istrinya itu sedang merajuk pun hanya diam. Berjalan mendekati Dinda yang duduk bersila di atas sofa, ia pun mendudukkan dirinya tepat di samping istrinya. Memeluknya dari samping sembari mengecup pelan pipi yang terasa dingin itu.
Hening, wanita itu masih acuh dengan tatapan yang tak beralih dari tv di depannya.
"Sayang, kok diem sih. Kamu tuh udah bikin mas khawatir tau nggak, seharian kamu gak ada kabar. Mas khawatir sayang. Jangan di ulangi ya?" Pinta Dimas lembut. Laki-laki itu mengurungkan niatnya untuk mencecar Dinda karena melihat suasana hati sang istri yang tak kunjung membaik. Dari barang bawaannya, mungkin tadi istrinya itu pergi berbelanja, begitu pikirnya.
"Sayang, udah dong ngambeknya. Nggak usah dipikirin omongan orang, yang penting kan mas sayang sama kamu. Apapun yang terjadi, mas akan tetap sayang ma kamu".
Dahi Dinda berkerut, mencerna kembali apa yang diucapkan Dimas barusan. Ah iya, pasti suaminya itu sudah tau kalau ia datang ke kantornya siang tadi. Apa mungkin ia juga tau kalau Dinda mendengar obrolannya dengan rekan kerjanya?
"Mas tau kalau kamu pasti kesel dengan omongan temen mas tadi siang". Lanjut Dimas.
Tuh kan.
__ADS_1
"Nggah usah dipikirin ya, pokoknya mas Dim cuma sayang sama kamu. Apapun yang terjadi, entah nanti kita punya anak atau tidak, yang pasti kita akan selalu sama-sama".
Ih kok aku nangkepnya kaya aku yang gak bisa hamil sih.
"Buat mas, kamu tuh udah yang terbaik. Jadi nggak usah mikirin omongan orang ya".
"Jangan sok tau deh" sinis Dinda. Ingin sekali ia menjelaskan kalau ia kesal karena sikap suaminya yang diam saja ketika ada orang yang mencelanya. Namun karena rasa dongkol yang tak kunjung hilang ia pun jadi enggan berbicara panjang lebar. "Udah ah sana an, gerah ih". omel Dinda sembari melepas tautan tangan Dimas di pinggangnya.
"Kok gitu sih sayang, seharian tuh mas khawatir banget ma kamu tau nggak? Pergi nggak pamit, hp mati, trus pulang-pulang marah-marah kaya gini. Harusnya aku yang marahin kamu Din! Bukan malah kamu yang merajuk kaya gini." Ucap Dimas yang tanpa sadar meninggikan volume suaranya.
"Kenapa emang kalau aku merajuk? Nggak boleh aku marah? Aku juga manusia asal mas tau. Aku bisa marah, aku bisa merajuk aku juga bisa sakit hati" balas Dinda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Mas tau, tapi nggak gini juga marahnya. Main kabur-kaburan kaya anak kecil aja" Ucap Dimas yang terlanjur emosi. Rasa lelah dan lapar yang seharian ia tahan kini ia tumpahkan dalam bentuk emosi.
"Mas yang anak kecil! Mana ada orang dewasa yang diem aja saat istrinya dijadikan bahan ledekan? Mas sengaja kan?"
"Apa maksud kamu?"
"Mas Dim seneng kan kalau Dinda yang di anggap mandul sama mereka, mas seneng kan kalau mereka nyalahin Dinda?" ucap Dinda berapi-api disertai lelehan air matanya. "Dinda subur mas! Mas Dim yang bermasalah!".
Bagai petir menyambar di tengah hari, begitu pula dengan ucapan Dinda yang terasa menyakitkan di telinga Dimas. Kalimat itu bagai sembilu yang merangsek masuk menyayat hati laki-laki gagah itu. Sakit, ngilu, perih mungkin itu yang ia rasa saat mendengar kalimat Dinda yang di tujukan untuknya.
"Mas,,," lirih Dinda menyadari kesalahannya. Ia merutuki mulutnya yang ia yakini telah menyakiti hati suaminya itu. "Mas Dim,,," panggilnya mencoba meraih tangan Dimas yang nampak terkepal menahan amarah. Belum sempat ia menyentuh tangan itu, sang empunya sudah lebih dulu berdiri dan meninggalkannya dengan membawa luka yang barusan ia torehkan.
Ya, Dinda tau, suaminya terluka karena mulut lancangnya.
__ADS_1