
"Dimas mana Din?" Tanya pak Lukman saat sedang menikmati sarapan pagi dengan keluarganya tanpa Dimas tentu saja.
"Iya, semalem kalian juga nggak ikut makan malam kan?" Timpal mama Ambar.
"Iya, maaf ma. Kemaren kami makan di luar". Bohong Dinda.
"Terus Dimasnya mana?"
"Emm,,, semalam mas Dim ada urusan kerjaan sama mas Niko, mungkin nginep di apartemen" jawab Dinda mencari alasan.
"Paling juga balapan lagi" sambar Talita kemudian menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Tuh anak-anak udah pada punya keluarga masih aja lupa pulang. Emang urusan apasih sampe dibela-belain nggak pulang kaya gitu?" Kesal mama.
"Tapi mas Dim udah ijin Dinda kok ma. Mungkin emang ada urusan penting".
"Ya sudahlah, yang penting kalian baik-baik saja kan?" Sahut pak Lukman. Pria yang masih terlihat segar di usia yang tak lagi muda itu seolah tahu ada yang disembunyikan menantunya.
"I,,iya pa".
"Oh iya, kemarin kalian ke rumah sakit kan? Gimana hasilnya?" Tanya pak Lukman di sela-sela menikmati sarapannya.
Dinda yang sedari tadi berharap tidak mendapat pertanyaan itu pun mendongakkan kepalanya kaget. Mencoba tenang, ia pun menjawab pertanyaan dari ayah mertuanya itu dengan senyum yang tersungging di bibirnya. "Baik kok pa. Mas Dim sehat kok".
"Syukurlah, mungkin memang belum waktunya buat kalian. Sabar saja ya Din, nikmati dulu masa muda kamu. Nggak usah terlalu ngoyo, nanti kalau sudah waktunya pasti kamu hamil juga". Ucap mama menenangkan. Sebagai mertua yang baik, mama Ambar tak ingin membuat stres menantunya itu. Ia juga wanita, sedikit banyak pastilah tau soal perasaan sesama wanita jika terlalu di cerca masalah sensitif tersebut.
"Iya ma" jawab Dinda masih dengan senyumnya.
"Kak Dinda nggak kuliah?" Tanya Talita setelah menyadari kakak iparnya itu masih mengenakan baju rumahan.
"Enggak Ta, aku mau istirahat aja".
"Kak Dinda sakit? Tumben absen".
"Nggak kok, lagi pengen di rumah aja".
"Ya udah sih, Dinda mungkin butuh istirahat. Nggak papa sekali-sekali absen" bela mama Ambar. "Atau kamu mau ikut mama ke salon, biar bisa spa".
"Dinda kayaknya di rumah aja deh ma. Kasian mas Dim nanti kalau pulang trus Dindanya nggak ada".
"Ck, biarin aja tuh anak badung. Salah sendiri pake nggak pulang segala". Omel mama yang gemas dengan kelakuan anak sulungnya itu.
Setelah menyelesaikan sarapannya, Dinda pamit untuk kembali ke kamarnya. Ia sudah tak sabar untuk menanyakan kabar suaminya itu kepada Niko. Sedari semalam, Niko yang berjanji akan menghubungi Dinda ternyata belum juga memberi kabar padanya. Membuat Dinda yang memang menunggu kabar dari Niko semakin didera rasa khawatir.
__ADS_1
Sementara itu di sebuah ruangan apartemen, nampak seorang laki-laki dewasa yang terkulai di sofa. Dengan tv yang menyala, puntung rokok dan kaleng bir yang bertebaran memenuhi meja. Mata yang sedari semalam enggan terpejam membuat lingkaran hitam tercetak jelas di wajah tampannya. Ingatannya kembali pada istri kecilnya yang saat itu begitu bahagia merajut masa depan bersamanya.
Nanti setelah anak pertama nggak usah ditunda ya mas, biar sekalian capeknya ngurus anak. Ucap Dinda kala itu.
'Kamu kan mesti kuliah Din. Nggak capek kalau harus ngurus anak juga?'
Nggak dong, nanti kan bisa dibantu pengasuh. Lagian aku pengen punya anak tiga. Kalau mas Dim?
'Terserah kamu sayang. Kan kamu yang hamil, yang penting kamu nyaman aja'.
Semoga aja abis ini Dinda cepet hamil y mas. Kasian mas Dim kalau lama hamilnya.
'Kok gitu?'
Iya, mas kan udah tua. Ntar cepet cape kalau diajak main ma anak-anak.
Dimas yang sedang rebahan pun seketika mendudukkan dirinya mendengar ucapan istrinya. 'Kamu ya, nakal banget sih ngatain suaminya tua'. Dengan gemas laki-laki itu menggelitiki Dinda yang duduk bersandar di kepala ranjang sampai tertawa kegelian.
Hahahaaa,,, ampun mas, ampun,,, haahahaa,,,
Suara tawa itu menggema di telinga Dimas. Bibirnya pun terlihat menyunggingkan senyumnya tatkala bayangan kebahagiaan itu terlintas. Hingga,,,
Kembali suara sang dokter memecah bayangan indah itu. Kalimat itu laksana sihir yang seketika memporak porandakan suasana hatinya.
Kenapa harus aku? Inikah balasan dari perbuatanku? Kalaupun iya, kumohon, jangan renggut tawa Dinda dari wajahnya. Jangan ambil kebahagiaannya dengan ganjaran yang Kau berikan padaku.
Apa yang harus kulakukan?
Setetes air bening mengalir dari sudut matanya. Tak ada suara, hanya helaan nafas panjang yang terdengar berat ia lepaskan.
"Ya tuhan Dimas! Semalaman gue nyariin lo kaya nyari anak ilang tau gak. Taunya lo malah pesta disini". Terdengar pekikan suara Niko yang tiba-tiba memecah keheningan. Entah Dimas yang terlalu larut dengan pikirannya sendiri atau memang ia yang tak mendengar sahabatnya itu membuka pasword apartemennya, hingga sahabat sekaligus asistennya itu kini sudah berdiri dengan berkacak pinggang di depannya.
"Lo kenapa sih, kaya orang putus cinta aja" Niko menatap jengah meja di depan Dimas yang penuh dengan kaleng bir yang berserakan. "Ini lagi, sejak kapan lo minum kaya gini lagi? Gue pikir udah bener insap lo" cerocosnya sembari mengangkat kaleng bir yang masih utuh.
Sedangkan Dimas, laki-laki itu memejamkan matanya tanpa sedikitpun berniat membalas omelan sahabatnya itu. Tangan kanannya terangkat ia gunakan untuk menutup matanya dari air mata yang terlanjur mengalir.
Niko pun meletakan kembali kaleng bir yang setelah ia perhatikan ternyata tanpa kandungan alkohol itu. Beranjak dari tempatnya berdiri, ia pun menyahut remote tv dan mematikannya. Kemudian mendudukkan dirinya di ujung sofa dengan menggeser kaki Dimas hingga berada dibalik punggungnya.
"Ada masalah apa sih Dim? Nggak biasa-biasanya lo kaya gini?"
Lama bersahabat dengan Dimas, tentu saja Niko tahu kebiasaan dari laki-laki yang tak bergeming dari posisi tidurnya itu. Jika Dimas bersikap seperti itu saat dulu sebelum menikah dengan Dinda, mungkin Niko akan memakluminya. Namun karena Dimas melakukan aksinya itu sekarang, tentu saja membuat otak peka Niko berfikir jika sahabatnya itu tengah dilanda masalah yang cukup serius. Dan masalah apalagi yang bisa membuat Dimas terpuruk seperti itu jika bukan berhubungan dengan Dinda, istrinya.
__ADS_1
"Istri lo semalaman nyariin lo Dim. Bahkan barusan dia nelfon gue. Gue yakin semalaman dia gak tidur nunggu kabar dari gue". Niko menghela nafasnya melihat Dimas yang sama sekali tak terusik dengan ucapannya. "Kalian ada masalah apa sih?".
Tak terdengar jawaban dari Dimas, Niko pun mengeluarkan hpnya dan menghubungi seseorang. Tanpa berpindah dari posisinya, ia mengeraskan suaranya sehingga dengan jelas Dimas bisa mendengar kalau Dinda yang berada di seberang telfon.
'Kamu tenang aja, nih si Dimas udah ketemu'.
(...)
'Iya, nampaknya dia ketiduran di apartemen'.
(...)
'Nggak papa kok, abis ini kita mo ngantor bentar. Kamu nggak usah khawatir'.
(...)
'Iya,,,'
(...)
'Ya udah, ntar aku bilangin sama dia'.
(...)
'Wa'alaikumsalam'. Ucap Niko mengakhiri panggilannya.
"Bini lo kuatir banget sama lo Dim. Lo nggak pengin pulang gitu?"
"Gue nggak sanggup Nik". Ucap Dimas masih menutup matanya. "Gue nggak sanggup nemuin dia. Dia pasti kecewa banget sama gue. Gue takut dia ninggalin gue Nik" lanjutnya dengan suara bergetar.
Niko menghela nafasnya kasar. "Gue nggak tau pasti apa masalah lo ya. Tapi setidaknya lo bicarain kek sama bini lo. Emang dengan begini masalah lo bisa selesai gitu? Yang ada malah lo yang tanpa sadar nyakitin bini lo".
"Gue mesti gimana Nik?" Dimas beranjak dari tidurnya. Ia duduk dengan menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. "Gue nggak bisa bahagiain Dinda. Gue nggak bisa ngasih apa yang dia mau. Gue takut dia ninggalin gue. Gue mesti gimana Nik?" Ucap Dimas frustasi. Laki-laki itu meremas rambutnya membuat Niko iba melihatnya.
"Kenapa lo mikir kaya gitu sih Dim? Belum tentu juga itu yang dipikiran Dinda. Emang dia minta apa? Apa harta lo yang bejibun itu masih nggak cukup buat nyenengin dia?"
"Dia nggak minta harta gue, dia pengen punya anak dari gue".
"Lhahhh,,, emang lo nggak pengen punya anak sama Dinda. Tinggal bikin apa susahnya sih. Heran gue. Lagian ya, bukannya lo suka sama pro,,,"
"Gue nggak bisa bikin dia hamil. ****** gue mati! Nggak guna Nik. Mati! Lo tau kan artinya? Gue nggak bisa bikin dia hamil!" Potong Dimas yang membuat Niko terdiam seketika.
"Maksud lo?" Tanya Niko setelah berhasil menguasai keterkejutannya.
__ADS_1
Dimas tersenyum sinis mendengar pertanyaan dari Niko. "Hhhh,,, lo pasti ngetawain gue kan? Gue nggak bisa bikin istri gue hamil" lanjutnya lirih.