Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Arena


__ADS_3

Dimas bersiap dengan balapan pertamanya setelah sekian lama. Di sampingnya ada Devan yang juga turut dalam pertandingan. Ada sekitar sepuluh lebih motor sport yang waktu itu bersiap untuk mengadu kecepatan di kerasnya aspal jalanan. Suara bising dari knalpot kndaraan memenuhi arena sebelum seorang gadis melepaskan sebuah syal tanda di mulainya pertandingan.


Niko bersiap dengan kamera hpnya di garis finish. Dia sengaja tidak mengikuti petandingan itu demi melihat kedua sahabatnya berpacu. Di banding Dimas, Niko dan Devan sesekali masih menyempatkan diri untuk mengunjungi arena. Entah itu turut bertanding atau hanya sekedar berkumpul dengan sesama pembalap jalanan.


Lain halnya dengan Dimas. Laki-laki itu lebih memilih menghentikan semua kesenangannya setelah menikahi Adinda Maharani istrinya. Baginya, tak ada hal lain yang membuatnya senang selain melihat senyum istrinya itu. Sejak saat itulah ia bertekad untuk hanya fokus kepada gadis itu. Gadis yang telah memporak porandakan hatinya. Yang mengenalkannya pada indahnya rasa mencintai. Bahkan saat bersama Siska pun tak sampai sebesar itu rasa yang timbul di hatinya. Rasa ingin selalu membahagiakan dan rasa ingin memiliki seutuhnya, selamanya.


Niko masih fokus menatap jauh ke gelapnya jalanan. Ada sedikit kekhawatiran menelusup saat sahabatnya Dimas memutuskan mengikuti balapan waktu itu. Sekian lama sahabatnya itu tak pernah beradu kecepatan, dan tiba-tiba saja dengan keras kepalanya ia mengajukan diri sebagai peserta balapan malam itu. Usaha Niko dan Devan untuk menghalanginya pun sia-sia saat Dimas sendiri sudah hadir di Arena.


Samar-samar terlihat cahaya lampu di ujung jalan. Semakin lama semakin nyata cahaya itu berasal dari lampu motor peserta balapan. Niko yang juga melihatnya pun bersiap dengan kamera di tangannya berharap lampu itu berasal dari motor salah satu sahabatnya. Dan benar saja, saat matanya menjangkau siapa pemilik lampu itu, seketika ia melompat kegirangan mengetahui sahabatnya lah yang berada di urutan paling depan yang melewati garis finish. Ia pun berlari menghampiri Devan yang saat itu baru saja menghentikan laju motornya.


"Waaa,,, jahat lo Van. Bisa tambah stres dia kalah dari lo" ucap Niko pada Devan.


"Biarin! Suruh siapa dia keras kepala kaya gitu"


Tak lama kemudian Dimas pun sampai di garis finish dan memarkir motornya tepat di samping Devan.


"Whhuuuuu,,, gillaaaa! Masih hebat aja lo Dim" Heboh Niko mencoba menghibur Dimas sembari meninju lengannya.


"Mata lo buta? Gue kalah dari Devan noh" ketus Dimas menunjuk Devan dengan dagunya.


"Baru pertama turun bisa nyampe finish. Gue salut sama motor lo Dim" gurau Devan.


"Haiiisshhh,,," Dimas mengangkat helmnya dan pura-pura hendak melempar Devan. "Gini-gini gue juga masih sanggup kali ngalahin lo. Mau coba lagi?" Tantang Dimas.


"Eitt,,, cukup sudah malam ini. Lo mesti traktir kita-kita dulu. Party bro,,, anggap aja ngerayain kembalinya nyali lo yang pernah ilang" goda Niko.


"Sialan lo!!!" Dimas benar-benar melempar helmnya dan ditangkap sempurna oleh Niko.

__ADS_1


"Bener tuh Dim, dah lama kan kita gak ngumpul kaya gini" sahut Devan.


"Oke, kemana kita?" Tanya Dimas.


"Tempat biasa. Okey?"


"Oke" jawab Dimas sekenanya. Ia benar-benar butuh pelampiasan untuk melupakan sejenak wajah yang memenuhi fikirannya belakangan ini.


Niko pun dengan sigap mengomando beberapa orang teman lainnya yang juga ikut balapan tadi untuk turut serta ke tempat yang dimaksud. Dan tentu saja dengan senang hati mereka menerima ajakan itu.


Dimas dan yang lainnya baru saja bersiap meninggalkan tempat itu saat beberapa orang menghadang jalannya dengan motor yang mereka tumpangi. Seseorang yang berada paling depan pun turun dari motornya dan membuka helm full facenya. Orang tersebut adalah Andra Alexander. Laki-laki itu berjalan menghampiri Dimas dan rombongannya.


"Wow,,, wow,,, woww,,, apa-apaan ini? Gue baru dateng dan kalian udah mau pergi aja"


"Minggir lo Lex!" hardik Niko.


"Bukan urusan lo! Sana minggir!" Sinis Dimas.


"Oke, gue minggir kalau lo nerima tantangan gue"


"Maksa banget sih lo"


"Ok"


Ucap Niko dan Dimas bersamaan.


"Yesss! Kapan kita mulai balapannya?" Tanya Andra yang fokus dengan jawaban Dimas.

__ADS_1


"Besok!" jawab Dimas singkat.


"Ok, Besok malam gue tunggu lo di sini"


"Puas kan lo? Sekarang minggir, kita mau lewat" ucap Devan.


"Oke,,, oke,,," Andra pun memberikan isyarat pada teman-temannya untuk menyingkir membuka jalan bagi Dimas dan yang lainnya.


Rombongan Dimas pun berangsur meninggalkan arena meninggalkan tiga sahabat yang masih berhadap-hadapan dengan Andra.


"Lo boleh ikut. Anggp aja permintaan maaf gue yang kemaren bikin bonyok muka lo" ucap Dimas kemudian berlalu meninggalkan Andra yang masih terbengong karena ajakan Dimas.


Malam semakin larut. Hampir tengah malam, rombongan sampai di tempat yang dimaksud. Dimas sedikit terkejut mendapati tempat yang didatanginya bersama teman-temannya. Sebuah warung makan pinggir jalan yang menyediakan berbagai jenis makanan, mulai dari nasi goreng sampai ayam dan juga ikan goreng. Ia masih saja terdiam di atas motornya saat yang lain sudah sibuk mencari tempat ternyamannya. Niko yang melihat Dimas masih bertengger di atas motornya pun berjalan mendekati sahabatnya itu.


"Lo mau di situ terus?" Ucap Niko menyadarkan Dimas.


"Ini tempat yang lo bilang 'tempat biasa' tadi?"


"Iya, emang kenapa?"


"Sejak kapan lo demen yang beginian? Gue kira lo minta gue nraktir lo semua ke klub yang dulu biasa kita datengin. Gue udah nyediain duit banyak ini" sombong Dimas menepuk-nepuk saku celananya.


"Segitu frustasinya lo ditinggal ma bini lo, sampe pingin kembali ke club. Gue tau kali lo udah tobat. Masa iya gue racunin lagi. Ayok turun, atau lo mau makan di situ?"


Dimas tersenyum mendengar kelakar sahabatnya itu. Ia pun turun dan mengikuti Niko duduk di lesehan yang tersedia di warung itu.


Tak lama kemudian rombongan Andra yang berjumlah sekitar lima orang pun sampai di tempat itu. Mereka segera membaur mencari tempat duduknya masing-masing. Sedangkan Andra, ia lebih memilih bergabung dengan Dimas. Dengan senyum yang tersungging di bibirnya ia duduk tepat di samping Dimas.

__ADS_1


"Perjanjian kita masih berlaku kan?" Ucap Andra kepada Dimas.


__ADS_2