
Hari minggu, hari yang sangat dinantikan anak sekolah pada umumnya. Satu hari dimana mereka tak diharuskan berkutat dengan buku-buku pelajaran untuk sejenak melepaskan kepenatan dari segala kegiatan yang berhubungan dengan proses belajar mengajar.
Hari ini seperti biasa Dinda mendapat kunjungan dari tiga orang sahabatnya. Kali ini mereka tidak membawa buku-buku pelajaran seperti biasanya. Mereka sudah mendengar tentang rencana Dinda yang akan pindah sekolah. Maka dari itu hari ini mereka hanya ingin menghibur dan juga memberikan dukungan kepada sahabatnya nya itu.
Di kamar Adinda empat orang gadis sedang fokus menatap layar laptop menonton drama kesukaannya.
"Eemmm,,,Din" panggil Dian mengalihkan perhatian Dinda.
"Hemmm?" Dinda menolehkan kepalanya.
"Kalau misalnya Guntur ikut kesini kamu bolehin nggak?" ceplos Dian membuat Maya dan Nina serempak menoleh ke arahnya.
Sejenak Dinda terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Dian.
"Maaf Yan, sampaikan sama Guntur terima kasih atas perhatiannya. Dan maaf sekali lagi kalau aku belum siap menemuinya" ucap Dinda pada akhirnya.
"Ihh, apaan sih Yan. Bikin Dinda sedih aja" sungut Maya
"Yeee,,,aku kan cuma nyampein pesen aja May"
"Oh ya, jadinya kamu sekolah dimana Din?" tanya Nina mengalihkan.
"Belum tau Nin, kak Nisa masih berusaha nyari sekolah yang deket. Kemarin dah nemu tapi jauh.
"Di mana?" tanya Maya.
"SMA Harapan"
"Waduuhhh,,,jauh bener. Mana mahal lagi tuh sekolah"
"Iya Nin. Tapi kalau adanya itu gimana dong? gak banyak sekolah yang mau nerima statusku. Lagian belum tentu juga aku bisa sekolah lagi" jawab Dinda. Nampak gurat-gurat putus asa di wajahnya.
Di tengah pembicaraan ke empat gadis itu, terdengar suara Alfian yang sudah melongokkan separuh badannya ke dalam kamar Dinda.
__ADS_1
"Kak Dinda ada tante Ambar tuh".
"Hahhh? masa sih Al?" tanya Dinda ragu.
"Ya udah kalau gak percaya" sahut Alfian kembali menutup pintu meninggalkan kamar Dinda.
"Tante Ambar siapa Din?" tanya Maya mewakili dua sahabatnya yang sama-sama penasaran.
"Mertuaku"
"Ooohhh,,,berarti ada suami kamu juga dong" sahut Dian.
Ucapan Dian seketika membuat Dinda tertegun menyadari kemungkinan laki-laki yang berstatus suaminya itu berada di rumahnya.
Semenjak pernikahan Dinda dengan Dimas, bu Ambar memang beberapa kali mengunjungi Dinda. Setiap kali ada perjalanan bisnis yang lokasinya tak jauh dari rumah Dinda ia selalu menyempatkan diri mengunjungi menantunya itu. Dimas pun beberapa kali diajaknya untuk mengunjungi istrinya, walaupun pada akhirnya Dimas masih saja tak bisa bertemu dengan Dinda. Namun bu Ambar tetap meyakini bahwa suatu saat pasti Dinda akan bisa menerima Dimas.
"Iihh,,,apaan sih yan semangat amat" hardik Maya menoyor kepala Dian.
"Apaan sih May main toyor pala orang. Aku cuma penasaran aja pengen liat wajah pria brengsek itu"
Hening
"Assalamu'alaikum" sapa seseorang yang muncul dari arah pintu.
"Wa'alaikumsalam" jawab ke empat gadis bersamaan.
"Dinda sayang, mama ganggu ya?" mama Ambar masuk dan mendekat ke arah Dinda. Memeluk dan mencium kedua pipinya seperti biasanya.
"Mama kok gak telfon Dinda kalau mau dateng?"
"Iiihhh,,,mama kan mau bikin surprize" jawab mama Ambar menoel hidung Dinda. "Ini teman-teman kamu?" lanjut mama memperhatikan ketiga gadis di depannya.
"Iya Mah"
__ADS_1
Dinda pun memperkenalkan ketiga sahabatnya kepada mama Ambar.
"Kalian sering-sering ya temenin Dinda" ucap mama kepada ketiga sahabat Dinda.
"Iya tan, walaupun udah nggak satu sekolah kita tetep satu geng kok hehe,,," ucap Dian yang membuat raut wajah mama berubah.
"Nggak satu sekolah gimana maksud kamu?"
"Lohhh,,,tante belum tau kalau Dinda mau pindah sekolah?" heran Dian
"Pindah?" pandangan Mama beralih kepada Dinda dengan tatapan menyelidik.
"Nanti Dinda jelasin mah" ucap Dinda gugup.
Ketiga sahabat yang merasakan ketegangan di antara mertua dan menantu itupun memilih pamit. Saat perjalanan keluar, di teras mereka bertemu dengan Dimas yang sedang memainkan ponselnya ditemani Alfian. Dian yang tadinya memang penasaran dengan suami Dinda pun mendekat.
"Kamu yang namanya Dimas?"
Nih bocah, gak sopan banget manggil orang yang lebih tua
Dimas yang merasa disapa teman Dinda pun berdiri "Iya"
"Awas ya kamu nyakitin Dinda lagi. Tak satet kamu" ancam Dian sembari meremas tangannya di depan wajah Dimas.
Dimas yang melihatnya cuma mengernyitkan dahinya tak habis pikir dengan kelakuan teman istrinya.
Dinda pun berlalu diikuti Nina dan Maya di belakangnya.
"Awas lu" Nina mengepalkan tangannya di udara.
Maya yang paling terakhir tiba-tiba berhenti dihadapan Dimas. Tanpa aba-aba ia menginjak sebelah kaki Dimas dengan sengaja yang membuat Dimas mengernyit menahan sakit ''rasain lu''.
Awwhh,,,apa-apaan sih tu bocah
__ADS_1
Sepulangnya ketiga sahabat Dinda, pak Sholeh dan bu Atikah pun tiba di rumah. Ia memutuskan menutup rukonya setelah mendapat kabar dari Alfian kalau besannya datang berkunjung.
Kini Adinda dan ketiga orang tuanya sudah berkumpul di ruang tengah. Meninggalkan Dimas yang masih tetap di tempatnya semula. Pak Sholeh pun menjelaskan tentang alasan Dinda pindah sekolah yang tentu saja membuat mama Ambar terkejut. Bukan karena kabar dikeluarkannya Adinda dari sekolah, tapi ia sama sekali tak mengira kalau menantunya itu harus mengalami hal seperti itu. Dijadikan bahan gunjingan hingga sampai dikeluarkan dari sekolah. Beruntung pihak sekolah masih memberi kesempatan dengan menganjurkan untuk pindah sekolah.