Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Sah


__ADS_3

Keriuhan itu terdengar jelas dari kamar Adinda. Alfian memperhatikan Dinda yang masih berbaring dengan posisi membelakanginya. Punggungnya bergerak naik turun sambil sesekali tangannya menyeka sesuatu dari wajahnya. Alfian pun berjalan mendekat dan duduk di bibir tempat tidur.


Dengan hati-hati ia bertanya ''Kak Dinda kenapa?''


''Nggak papa'' jawab Dinda pelan.


"Kak, kakak sebenarnya kenapa? kenapa jadi aneh gini?" Alfian tak lagi mampu menahan rasa penasarannya. Akhirnya ia pun ikut menangis melihat kakak kesayangannya itu.


Adinda menyeka air matanya dan duduk menatap Alfian di depannya.


"Al" ucapan Dinda terhenti menatap adiknya. Air matanya mengalir begitu saja dan bahkan semakin deras membasahi pipinya. Ia pun memeluk adiknya dan menangis bersama-sama saling menguatkan.


Ceklekk


Pintu kamar dibuka. Bu Atikah terdiam di depan pintu saat melihat kedua anaknya sedang menangis sembari berpelukan. Ia pun masuk mendekati dua orang yang mengharu biru itu. Di belakangnya ada mama Ambar dan juga Talita yang membawa sebuah kotak merah.


Alfian berdiri memberikan tempat untuk mama Ambar. Kini mama Ambar duduk tepat di depannya. Ia meraih kotak kecil yang disodorkan oleh Talita.


''Sayang, ini adalah pengikat kamu dengan Dimas. Sekarang kalian sudah resmi jadi suami istri'' mama Ambar memakaikan sebuah cincin di jari manis Adinda dan kemudian mencium kening dan pipi kanan kirinya.


Dinda masih berderai air mata, mama Ambar yang juga terbawa suasana pun memeluk gadis yang baru saja menjadi menantunya itu. Bu Atikah nampak terharu melihat kasih sayang yang ditujukan mama Ambar untuk putrinya itu.


"Sayang, mulai sekarang kamu juga putri mama. Terima kasih sudah memberi kesempatan kepada Dimas" ucap mama Ambar masih memeluk Dinda.

__ADS_1


Sementara itu Dimas dan pak Lukman terlihat masih berbincang di ruang tamu bersama dengan pak Sholeh dan juga pak de Munif yang merupakan kakak dari bu Atikah. Tamu-tamu yang lain sudah beranjak pulang dengan membawa segudang pertanyaan di kepala masing-masing. Mulai dari acara pernikahan yang mendadak dan juga ketidak hadiran mempelai wanita pada saat akad nikah membuat siapa saja yang hadir bertanya-tanya.


Pak de yang kala itu juga diliputi rasa penasaran pun akhirnya memberanikan diri bertanya kepada iparnya itu.


"Leh, ini kan sudah nggak ada orang lain lagi. Apa kamu nggak mau menjelaskan sesuatu sama masmu ini?"


"Menjelaskan apa mas?"


"Ya tentang pernikahan ini. Apa benar semua ini karena Dinda hamil?" tanya pak de to the point.


Dimas dan pak Lukman yang juga mendengarnya pun terkejut, dan seketika menoleh ke arah pak de.


"Mas Munif ini lho kok ada-ada aja. Dengar dari mana Dinda hamil?" pak Sholeh menanggapi.


"Maaf pak Munif. Itu semua atas permintaan dari keluarga kami" Pak Lukman ikut menimpali. "Yaa,,,tau sendiri kan pergaulan anak-anak jaman sekarang. Dari pada nanti kebablasan kan mending langsung saja dinikahkan. Lagipula anak-anak kan bersedia. Jadi ya nunggu apa lagi?"


"Iya sih. Kalau itu tujuannya ya saya setuju-setuju saja sama pak dokter. Lagipula nak Dimas yang lebih dewasa pasti bisa ngemong Dinda nantinya?" ucap pak de tersenyum ke arah Dimas.


Dimas tersenyum getir mendengar ucapan pak de yang seperti sebuah harapan itu.


Waktu menunjukkan jam 9 malam. Rumah sederhana yang siang tadi menjadi tempat berlangsungnya sebuah acara pernikahanpun sudah nampak sepi. Keluarga Sanjaya sudah pamit pulang sejak sore tadi. Memberikan kesempatan si tuan rumah untuk beristirahat setelah acara yang tiba-tiba.


Di kamar Dinda, dua orang gadis masih nampak berbincang sambil berbaring di atas ranjang. Sejak peristiwa itu, Dinda selalu meminta Anisa ataupun ibunya untuk tidur bersamanya.

__ADS_1


"Kak Nisa dah tidur?"


"Belum, kenapa?'' Nisa yang mendengar suara adiknya urung memejamkan matanya.


"Tadi acaranya gimana?"


"Eemmm,,,lancar kok"


"Tadi pasti banyak yang bicarain Dinda".


"Jelas aja, kan kamu pengantennya" Anisa tersenyum menggoda adiknya.


"Udah jangan mikir macem-macem" lanjutnya mengerti maksud dari adiknya. "Tidur yuk ah, kakak dah ngantuk"


Anisa menaikkan selimutnya bersiap untuk tidur. Sedangkan Adinda sendiri masih bergelut dengan pikiran-pikiran yang mengganggunya. Ia tahu keluarganya juga pasti kesulitan menjawab semua pertanyaan tamu-tamu yang hadir siang tadi. Walaupun hanya saudara dan beberapa tetangga, tapi mereka pasti juga memiliki rasa ingin tahu. Terlebih dirinya sebagai pengantin perempuan tidak menampakkan diri dan juga tidak bisa ditemui pasti membuat mereka bertanya-tanya.


Sama halnya yang terjadi dengan Dimas. Laki-laki yang juga masih terjaga itu berbaring menatap langit-langit kamarnya. Kenyataan bahwa saat ini ia sudah berstatus menikah sangat mengganggu pikirannya.


Suami,


Ya, saat ini aku seorang suami dari Adinda Maharani. Hhhh,,,lucu sekali, bahkan aku baru tau nama lengkapnya hari ini. Dan bahkan aku tak bisa melihat gadis yang sudah kunikahi.


Dimas tersenyum getir membayangkan nasibnya. Seorang laki-laki menikahi seorang gadis yang bahkan tak bisa dilihatnya. Dan semua itu karena kebodohan yang dilakukannya.

__ADS_1


__ADS_2