Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Akhirnya


__ADS_3

Dinda merapikan buku-bukunya setelah selesai mengerjakan tugas dari kampusnya. Matanya beralih menatap sosok yang sudah lebih dulu tertidur di atas ranjang. Ya, Dimas suaminya. Entah kenapa ia selalu berpikir suaminya itu selalu saja menghindarinya. Terlebih saat malam tiba, laki-laki itu akan memilih tidur lebih dulu atau bahkan setelahnya. Ia tak melihat kebiasaan suaminya untuk memeluk atau bahkan menciumnya saat malam hari. Entahlah, tapi seperti itulah yang dipikirkannya.


Angin yang menerpa gorden menyadarkan lamunannya. Perlahan ia melangkahkan kakinya menuju pintu yang menghubungkan ruang kamarnya dengan balkon yang masih terbuka. Hujan rintik-rintik membuat sisi melow gadis itu menyeruak. Dengan melipat kedua tangannya di dada, ia keluar menuju balkon dan menatap rintik hujan yang terdengar syahdu itu.


Untuk beberapa saat ia masih saja terdiam merasakan tetes-tetes air yang juga menerpa wajahnya karena hembusan angin.


"Kamu ngapain?" Suara Dimas mengagetkannya.


"Kenapa bangun mas?" Tanya Dinda tak menghiraukan pertanyaan Dimas.


"Aku kedinginan, baru mau nutup pintu, eh ada kamu di luar" ucapnya sembari berjalan mendekati Dinda. "Ini dingin, kamu ngapain di sini?"


"Enggak mas, iseng aja nyapa hujan"


"Kamu ini ada-ada aja. Ayo masuk ntar masuk angin"


"Ya" Dindapun melangkahkan kakinya menyusul Dimas yang lebih dulu berjalan di depannya.


Tanpa berkata apapun, Dimas langsung saja merebahkan diri di atas kasur dan menarik selimutnya sebatas punggung. Ia sebenarnya sudah tertidur sedari tadi. Namun panggilan alam membangunkannya sehingga mengharuskannya bertemu Dinda yang dipikirnya sudah tidur. Ah, betapa ia menyesal sudah terbangun malam itu. Kini ia harus bersiap untuk kembali merana karena tidurnya yang bisa dipastikan tidak akan nyeyak malam ini.


"Aaahhh,,, siallll" gumamnya saat menyadari reaksi tubuhnya saat melihat Dinda yang berdiri membelakanginya karena menutup pintu balkon.


Tidak biasa-biasanya gadis itu mengenakan daster selutut seperti yang dikenakannya malam ini. Dengan tubuh proporsional dan rambut panjang dikuncir cepol yang memperlihatkan lekuk lehernya, benar-benar membuat Dimas menelan ludahnya menahan gejolak kelelakiannya.


"Kamu pakai daster Talita?" Tanya Dimas mencoba berbincang untuk mengalihkan perhatiannya.


"Iihhh,,, nggak lah mas. Ini punyaku sendiri, tapi Talita yang beliin saat KKN kemarin. Katanya sih mau kembaran kalau pas lagi tidur bareng. Eh, sampe sekarang belum sempat. Ya udah aku pakai aja, daripada mubazir. Toh di dalam kamar aja kok, ak nggak keluar make ini" jawab Dinda panjang lebar. "Kenapa mas? Jelek ya?"


Bukannya jelek Din, kamu tuh nyiksa mas tau nggak, pakai pakaian kaya gitu dalam kamar. Hhhh,,,


"Lhohh,,, kok gitu sih mas?" Ucap Dinda yang mendengar Dimas menghela nafasnya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Itu tadi mas Dim 'hhhh,,' gitu apa maksudnya? Dinda cerewet gitu? Atau daster Dinda jelek? Nggak pantes ya?"


Dimas tersenyum menatap Dinda yang memanyunkan bibirnya. Matanya mengikuti gerak tubuh Dinda yang berjalan menuju meja riasnya. Dimas memperhatikan Dinda yang sedang membersihkan wajahnya dengan menggerutu entah apa Dimas tak mendengarnya.


Setelah selesai dengan aktifitasnya, Dinda pun naik ke atas tempat tidur dan merebahkan dirinya memunggungi Dimas.


"Kamu cantik" bisik Dimas yang tiba-tiba sudah melingkarkan tangannya di perut Dinda.


"Ck, apaan sih" Dinda mengangkat tangan Dimas yang menimpanya.


Dimas pun tak mau kalah, ia kembali melingkarkan tangannya dan menarik gadis itu sampai menempel ke tubuhnya.


Deg


"Tidurlah"


Yaaaahhh,,,, seketika ambyar sudah rasa deg-degan Dinda. Baru saja ia berfikir akan terjadi sesuatu tapi saat itu juga musnah karena ucapan suaminya.


Dengan kesal ia memutar tubuhnya hingga kini berhadapan dengan Dimas. Ia tak akan lagi menahan berbagai pertanyaan yang memenuhi kepalanya.


"Hmmm?" Dimas masih memejamkan matanya.


"Apa mas nyesel udah nikahin Dinda?"


"Kamu ngomong apa sih?" Masih terpejam.


"Mas nggak suka ya sama Dinda? Dinda jelek? Nggak menarik? Atau benar mas punya selingkuhan? Kenapa mas sepertinya menghindar terus dari Dinda sih? Selama ini Dinda udah berusaha keras buat nerima mas. Dan sekarang setelah semuanya terlihat normal, mas malah gini. Apa maksudnya?"


Dimas membuka matanya. Dalam keremangan lampu tidur di kamarnya, ia masih bisa melihat wajah kesal istrinya itu.


"Masss! Kok diem sih"


Dimas masih terdiam menatap wajah Dinda. Dan wajah yang ditatap kini sudah kembali memunggunginya karena kesal yang sudah sampai di ubun-ubun.

__ADS_1


Dinda masih memejamkan matanya saat tiba-tiba tangan kekar itu membalik tubuhnya. Matanya terbuka saat ia merasakn gerakan bibir Dimas yang menempel pada bibirnya. Tak seperti biasanya, Dimas melakukannya dengan aura yang berbeda. Laki-laki itu benar-benar melepaskan hasrat yang selama ini disimpannya.


Dinda yang merasakan sensasi berbeda karena sentuhan suaminya pun hanya terdiam pasrah menikmati segala bentuk sentuhan yang memang ia sendiri mendambanya. Matanya terbuka saat tiba-tiba Dimas menghentikan aktifitasnya.


"Apa boleh aku lanjutkan?" Dimas menatap Dinda penuh hasrat.


Perlahan gadis itu menganggukkan kepalanya, membuat Dimas yang saat itu sudah begitu menginginkannya menyunggingkan senyum. Dengan lembut ia mengecup kening gadis di bawahnya, kemudian kembali melanjutkan aksinya.


-


-


Suara ketukan pintu mengusik dua insan yang masih meringkuk di dalam selimutnya. Dinda yang lebih dulu mendengarnya pun terlonjak hingga terduduk dari posisi tidurnya. Bayangan kejadian semalam pun kembali berputar saat dilihatnya selimut yang tadinya menutupi tubuhnya melorot hingga memperlihatkan tubuh bagian atasnya. Perlahan ia memutar kepalanya dan menangkap sosok Dimas yang masih tertidur dengan bertelanjang dada. Ah, dia tersenyum melihatnya.


Suara di luar kembali menyadarkannya. Matanya membelalak tatkala ia membuka hpnya dan melihat angka digital 07.15 tertera di layar ponselnya. Dengan satu tangan yang masih memegang selimutnya, Dinda mrngguncang-guncang tubuh Dimas dengan sebelah tangannya.


"Mas,,, mas,,, ayo bangun. Udah kesiangan ini"


Dengan malas, Dimas pun membuka matanya dan menatap heran istrinya itu.


"Hm? Kenapa?" Tanya Dimas dengan suara serak khas bangun tidur.


"Ayo bangun, kita kesiangan mas. Dinda malu ih. Tuh denger Talita udah di depan pintu"


"Emang jam berapa ini?"


"Jam tujuh lebih. Ayo mas cepetan bangun. Tuh Talita di luar" ucap Dinda menarik-narik tangan Dimas tak sabar.


"Kamu ke kamar mandi gih, biar mas yang nemuin Talita"


Seketika Dinda berlari ke kamar mandi dengan membawa selimut yang dipegangnya. Dimas yang melihat kepanikan istrinya hanya tersenyum melihatnya. Ia lantas memakai celana pendek yang masih terserak di lantai dan berjalan membuka pintu yang sudah hampir berlubang karena gedoran dari Talita.


"Apaan sih Ta, berisik tau nggak" hardik Dimas begitu pintu terbuka.

__ADS_1


"Dinda mana? Mau kuliah nggak? Aku ada kuliah pagi nih. Kaya penganten baru aja jam segini baru bangun"


"Ck, berangkat aja sana. Ntar Dinda kakak yang anter" tanpa permisi, Dimas kembali menutup pintunya. Membuat Talita menggerutu kesal di depan pintu.


__ADS_2