
Keesokan harinya, Dinda masih kuliah seperti biasanya. Ia menyibukkan dirinya dengan membaca beberapa buku di perpustakaan kampusnya. Maya yang memang sudah bosan berada di ruangan itu berkali-kali menggeliatkan tubuhnya.
"Din, kantin yuk" bisik Maya.
"Bentar lagi"
"Iihhh,,, tumben-tumbenan sih kamu rajin kaya gini. Ayookkk". Rengek Maya menarik-narik lengan baju Dinda.
"Iiihhh,,, apaan sih May? Kamu laper?"
"Bosen ah di sini. Kamu mau aku tinggal? ancam Maya.
"Haisssh,,, bisanya ngancem mulu. Ya udah, aku balikin dulu bukunya" akhirnya Dinda pun menuruti kemauan Maya karena tidak mau jika Maya meninggalkannya.
Merekapun sampai di kantin kampus. Di depan Dinda sudah ada jus jambu dan juga beberapa snack untuk menemaninya. Sedangkan Maya memesan es jeruk dan juga siomay untuk mengisi perutnya.
"Eh Din, gimana semalam?" tanya Maya sembari menyuapkan siomay ke mulutnya.
"Gimana apanya" tanya Dinda pura-pura tak mengerti.
"Kamu kan ketemu suami kamu semalem. Gimana?"
"Aku pingsan". Jawab Dinda singkat.
"Haaahhhh??? Kok bisa?" Maya menghentikan makannya dan mulai fokus menatap Dinda.
"Apaan sih May. Lebay banget tau nggak"
"Ceritain,, gimana bisa kamu pingsan? Udah setahun lebih Din, masa iya belum ada perubahan?" Tanya Maya menyelidik.
"Pelan-pelan napa sih May?" ucap Dinda setengah berbisik.
"Iyyaaa,,," Maya mengurangi volume suaranya. "Buruan ceritain".
"Pada awalnya sih semua berjalan lancar. Aku bisa meredam ketakutanku saat melihatnya. Yah bisa dibilang sudah nggak separah dulu lah. Bahkan saat itu aku duduk tepat di depannya. Tapi gak tau kenapa tiba-tiba pas mau pulang aku pingsan" cerita Dinda.
"Mungkin kamu terlalu panik kali"
"Mungkin, kata papa juga karena akunya yang terlalu stress".
__ADS_1
"Ehh,,, tapi bagus loh. Seenggaknya kamu dah ada kemajuan saat ketemu dia"
"Iya sih, tapi gak tau kenapa aku malah jadi tambah kesel ma dia"
"Kenapa?"
Dinda pun menceritakan kejadian saat ia pura-pura belum sadarkan diri sementara Dimas berbicara meluapkan isi hatinya. Ia tak habis pikir Dimas memiliki pemikiran seperti itu. Suaranya dan bahkan isakannya menggambarkan betapa pria itu juga terluka karena perbuatannya.
"Bukannya itu bagus Din? Setidaknya dia sudah menyesali perbuatannya" ucap Maya menanggapi.
"Cihhhh,,, menyesal? apa itu cukup untuk membayar perbuatan bejatnya itu?"
"Din, aku tau kamu terluka karenanya. Dan akupun tau betapa menderitanya kamu karena perbuatannya. Tapi Dimas sudah menyesalinya, dia bertanggung jawab penuh atas perbuatannya. Hukuman apalagi yang akan kamu berikan padanya? Rasa bersalahnya itu sudah merupakan hukuman terberat baginya Din. Terlebih lagi dia itu suamimu sekarang. Suka tidak suka, kamulah yang menginginkan hal itu".
"Tumben kamu bisa ngomong bijak kayak gitu" jawab Dinda acuh menanggapi ucapan Maya.
"Lagian kamu udah setahun lebih kan berstatus sebagai istrinya. Apa nggak ada rasa-rasa gitu?"
"Apaan sih. Kamu sendiri tau kan alasan aku nikah ma dia?"
"Iya tau. Dulu kamu menuntut pertanggung jawabannya kalau-kalau kamu hamilkan? Nyatanya kamu gak hamil, dan sampai sekarang kamu masih berstatus sebagai istrinya. Apa kamu gak mikir perasaannya? Suamimu itu pria dewasa Din".
"Ya elah Din, setahun ini kamu mikirin apaan sih bisa seb*go ini" kesal Maya. Dengan kasar ia meletakkan sendok yang dipegangnya. Ia pun menghela nafas kasar memandangi sahabatnya itu. "Suamimu itu pria normal lho Din. Kamu bayangin aja, laki-laki dewasa udah nikah tapi gak pernah ketemu istrinya. Apa kamu gak mikir dia juga punya kebutuhan biologis yang harus dipenuhi sama istrinya?" ucap Maya menahan suaranya sedikit emosi.
"Kamu ngomong apaan sih May?" Dinda menyeruput jusnya.
"Kalau dia selingkuh gimana?" ceplos Maya.
"Uhuk,,,uhukk,,, " Dinda terkejut dan memelototkan matanya menatap Maya.
"Nahhh,,, kan. Baru ngerti kan sekarang?"
"Terserah dia mau ngapain aja" cuek Dinda.
"Helleh,,, yakin kamu? Bagaimanapun kamu itu istrinya. Mau tidak mau istri yang baik harus berbakti sama suaminya Dinda" tegas Maya jengah.
Dinda terdiam mendengarkan ucapan Maya. Mau bagaimanapun pernikahannya itu memang sudah sah dimata agama dan juga hukum. Semua hukum yang berada di dalamnya pun berlaku pula untuknya. Dan dia tak sedikitpun terpikir akan hal itu.
Selama ini Dimas memang menjalankan kewajibannya sebagai suami dengan menafkahinya. Sementara Dinda? Menemuinya pun tidak. Apalagi untuk melayaninya. Aaahhh,,, rumit memang.
__ADS_1
"Heiii,,, ngomongin apaan sih? Serius bener"
Dinda dan Maya yang memang lagi serius pun terkejut dengan kedatangan Andra yang begitu tiba-tiba.
"Apaan sih kak, ngagetin aja" kesal Maya.
"Lagian kalian berdua serius banget. Ngomongin apaan sih hmm?" kepo Andra. Dan iapun duduk di sebelah Dinda.
"Mau tau aja urusan cewek" jawab Maya lagi.
"Gak papa dong, kali aja bisa bantu. Ya kan Din?" ucap Andra menatap Dinda.
"Hemmm" Dinda mengangguk.
"Udah yuk Din, kelasnya udah mau dimulai nih" ucap Maya sembari merapikan buku-buku di sampingnya.
"Eeehhh,,, jahat bener sih. Baru juga gabung udah ditinggal" Andra menimpali.
"Suruh siapa gabung kita?"
"Helleh,,, May, jutek bener sih lo. Kalem dikit kek, kaya Dinda gitu".
"Yuk ah Din,,,"
"Hey,,, hey,,, bentar dong" spontan Andra memegang tangan Dinda yang langsung ditepis oleh Dinda.
"Maaf. Eh, habis kuliah mau kemana? Kan masih siang ini".
"Dinda masih ada latihan kak" ucap Dinda pelan.
"Latihan apa? Aku anter ya? Talita kan gak kuliah".
"Makasih, tapi Dinda ma Maya aja"
"Ayok Din. Duluan ya kak" pamit Maya kepada Andra.
Kedua gadis itupun berlalu meninggalkan Andra yang tak bergeming dari tempat duduknya. Matanya menatap punggung Dinda yang sudah berjalan menjauhinya. Di bibirnya tersungging senyum smirk yang sulit diartikan.
Aahhhh,,, gadis itu benar-benar mencuri perhatianku. Jadi benar kamu menikah sama si Dimas itu bukan karena cinta? Kenapa harus Dimas sih? Pria br*ngsek itu, kenapa seberuntung itu bisa mendapatkanmu.
__ADS_1