Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Hari H


__ADS_3

Hari yang dinanti pun tiba. Rumah yang biasanya terlihat sederhana itu kini sudah tak nampak lagi karena tenda bernuansa gold dan putih yang menutupi seluruh bagian halaman rumah, melebar hingga menutup badan jalan. Luas dan elegan, begitulah kesannya. Di ujung tenda tepatnya di sebelah kanan teras rumah, sebuah panggung yang disebut pelaminan nampak cantik dengan hiasan bunga-bunga di setiap sudutnya. Di sanalah kedua mempelai akan menikmati perannya sebagai raja dan ratu sehari.


Akad nikah sendiri akan dilaksanakan di teras rumah yang sudah ditutup dengan kain bernuansa putih. Sebuah rangkaian bunga berbentuk hati setinggi manusia dewasa dengan nama kedua mempelai di tengahnya, menghiasi salah satu sisinya. Tak lupa meja yang juga disiapkan untuk prosesi ijab qabul sudah nyaman terpasang di sana.


-


Kedua mempelai nampak sudah bersiap di depan penghulu. Sedangkan di samping penghulu ada pak Sholeh sebagai wali nikah dan juga pak Munif dan pak Lukman yang ditunjuk sebagai saksi. Nampak penghulu masih memberikan beberapa arahan kepada mempelai dan juga pak Sholeh yang akan melaksanakan ijab qabul.


Tak sedikitpun Dinda mengalihkan pandangannya dari pemandangan di depannya. Setidaknya dengan menyaksikan prosesi akad nikah kakaknya itu, ia bisa memiliki sedikit gambaran tentang pernikahannya dulu.


Dimas yang duduk di samping Dinda pun sesekali memperhatikan raut wajah istrinya. Gadis cantik dengan gamis warna mint yang senada dengan kemeja yang dikenakannya itu, nampak begitu serius menyaksikan acara akad nikah yang sedang berlangsung.


Dilihatnya tetesan air mata membasahi wajah cantik itu saat saksi mengucap kata 'sah' yang diiringi tepuk tangan para tamu. Dimaspun menjulurkan tangannya menggenggam jemari gadis yang sudah resmi menjadi istrinya itu. Dengan tatapan teduh, ia menatap mata Dinda yang juga menatapnya dengan senyum tersungging di bibirnya.


Seusai acara, Dimas yang sedari tadi memperhatikan Dinda pun tak sabar untuk segera menarik istrinya itu masuk ke dalam rumah. Melalui pintu belakang, laki-laki itu berhasil membawa Dinda ke dalam kamarnya.


"Ngapain kalian?" Dimas kaget melihat Talita dan ketiga teman Dinda berada di dalam kamarnya.


"Aku yang nyuruh mereka ke sini mas" sahut Dinda. "Mereka kan mau di rias nanti untuk resepsi".


Acara resepsi memang diadakan terpisah dari akad nikah. Jika akad nikah dilaksanakan pagi hari, maka resepsi baru akan dilaksanakan jam satu siang nanti.


"Kamu juga?" Tanya Dimas yang ditujukan untuk Talita.


"Iya, emang kenapa?" jawab Talita cuek.


"Ikut-ikutan aja"


"Biarin sih mas. Daripada Talita nanti nggak ada temen"


"Weekkk,,," ledek Talita dengan menjulurkan lidahnya kepada kakaknya itu.


"Kak Dimas butuh kamarnya?" Tanya Maya setelah melihat Dimas yang menggenggam tangan Dinda.


"Iya, kalian bisa keluar bentar?"


"Ciiieee,,, mau ngapain sih mas. Di luar masih banyak tamu kali" sahut Dian.


"Udah, pada keluar gih" perintah Dimas.

__ADS_1


Keempat gadis itupun segera beranjak dari posisinya keluar dari kamar tersebut. Talita yang keluar paling terakhir pun sempat menggoda kakak iparnya itu.


"Jangan mau kalau sampai kak Dimas bikin kak Dinda harus keramas dulu nanti"


"Heh, anak kecil becandanya!" Hardik Dimas yang membuat Talita seketika berlari mengejar Maya dan yang lainnya.


Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah adik iparnya yang baru saja melepas status jomblonya itu dengan menerima Andra sebagai pacarnya.


"Ada apa sih mas?" Tanya Dinda dan mengerutkan keningnya saat melihat Dimas sedang mengunci pintu kamar. "Mas mau ngapain?"


"Mau gini" Dimas memeluk Dinda erat.


Dinda yang teringat ucapan Talita pun mrncoba melepaskan diri. "Eh,,, eh,,, ngapain? Banyak orang tau mas".


"Emang kenapa? Kita hanya berdua di sini"


"Mmasss,,," masih mencoba melepaskan diri.


"Maafin mas sayang" ucap Dimas lirih.


Dinda yang semula sibuk dengan usahanya melepas pelukan Dimas pun terdiam.


"Mas narik Dinda kesini cuma mau ngomong ini?"


"Emm" Dimas mengangguk, masih memeluk Dinda.


"Kirain mau ngomong apa. Taunya gini doang?"


"Kok kamu gitu sih. Tadi kan kamu nangis, pasti inget pernikahan kita dulu kan?" Dimas melepas pelukannya dan menatap wajah istrinya.


"Iihhh,,, ge er. Orang Dinda nangis bahagia tadi"


"Beneran kamu nggak sedih?"


"Enggak, ngapain sedih. Inikan hari bahagia. Yah, walaupun tadi sempat kebayang pernikahan kita dulu, tapi Dinda nggak papa kok" ucap Dinda menenangkan suaminya.


Ia tahu suaminya itu begitu sensitif saat berhubungan dengan perasaannya. Senang pasti iya, karena ia sangat bersyukur bersuamikan Dimas yang begitu menyayanginya. Di sisi lain ia juga kasihan dengan laki-laki itu yang selalu dibayang-bayangi rasa bersalah. Bahkan ia sendiri saja sudah benar-benar terbebas dari traumanya.


"Mas dulu pasti kesel banget ya, karena Dinda nggak ada di samping mas kaya kak Nisa tadi?" Lanjut Dinda.

__ADS_1


"Nggak juga, cuma mas deg-degan waktu itu" jawab Dimas masih melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dinda.


"Oh ya? Trus saat ijab qabulnya lancar nggak?"


"Lancar dong" mengecup pipi Dinda.


Cup


"Trus kenapa bisa deg-degan?"


"Nggak tau lah Din, mungkin memang bawaan pengantin kali tiap mau akad nikah mesti deg-degan dulu. Apalagi dulu kamu nggak bisa nemenin aku"


"Maaf deh" Dinda mengelus pipi Dimas dengan sebelah tangannya. "Ya udah ayok keluar ah. Ntar disangka ngapa-ngapain lagi".


"Kaya gini?"Lalu Dimas memagut bibir istrinya. Cukup lama hingga membuat Dinda terbuai.


"Mas Dim ihh,,," Dinda menepuk pelan dada Dimas seusai kegiatan kecil itu, membuat sang suami terkekeh.


"Ya udah ayok" ucap Dimas mengajak Dinda keluar. "Loh kok malah duduk" heran Dimas yang melihat istrinya duduk di depan meja riasnya.


"Nihhh,,, lipstik Dinda udah habis dimakan sama mas!" Kesal Dinda menunjuk bibirnya ke arah Dimas.


Dimas yang melihat kekesalan istrinya pun terkekeh geli.


-


Setelah jeda beberapa jam dari acara akad nikah, kini puncak dari pesta pernikahan Anisa dan Faris yang disebut resepsi pun tiba. Serangkaian acara telah berlangsung. Dan kini saatnya acara ramah tamah yang merupakan akhir dari acara.


Di atas pelaminan nampak kedua mempelai didampingi orang tua masing-masing yang terlihat bahagia menyalami para tamu yang hendak berpamitan. Suasana riuh terdengar dari atas panggung saat teman-teman dari mempelai berkesempatan untuk foto bersama.


Dinda mengedarkan pandangannya mengamati jalannya pesta. Tak jauh dari tempatnya duduk, ada kedua mertuanya yang sedang berbincang dengan Simbah dan juga pak de Munif. Sedang sisi lain yang dekat dengan meja penerima tamu, ada Niko dan juga Andra yang juga ikut hadir karena undangan dari Dinda. Meminta diundang lebih tepatnya.


Sedang di meja penerima tamu, empat orang gadis dengan kebaya yang seragam nampak asik berbincang.


"Jangan jual mahal kamu May, ntar jadi perawan tua loh" ucap Nina setelah mendengar cerita Maya dan Niko dari Talita.


"Iya May, kalau kamu nggak mau, aku siap nampung kok" sahut Dian.


"Air kali ah ditampung" sahut Maya membuat keempatnya tertawa.

__ADS_1


"Waaahhh,,, kayaknya kamu bakalan tetep jomblo kaya aku deh May" Dian melihat Niko sedang berbincang dengan Tyas sepupu Dinda.


__ADS_2