Serpihan Kaca

Serpihan Kaca
Makan Siang


__ADS_3

"Sudah siap?" Tanya Maya kepada Dinda yang masih mematung di depan meja riasnya.


"Emm" angguk Dinda mantap.


"Yakin?"


"Emm. Ayok"


Merekapun berjalan menuruni tangga menuju lantai bawah. Suasana rumah nampak sepi karena Talita dan kedua orang tuanya berangkat ke luar kota pagi tadi.


Selesai acara ulang tahun Talita, Dinda mengajak Maya untuk menginap di rumahnya. Setelah semalaman meyakinkan diri dan juga karena dukungan dari Maya, siang ini Dinda pun berencana memulai trauma healingnya dengan cara yang disarankan oleh Maya. Ya, hari ini ia yang akan menemui Dimas.


Sungguh membutuhkan keberanian yang cukup besar bagi Dinda untuk melakukannya. Bagaimana tidak, tubuh gadis itu masih bereaksi di luar kendalinya saat bertemu Dimas. Tapi kali ini dia bertekad dialah yang akan menang melawan rasa takutnya. Yah, kapan lagi ia akan terbebas dari masa lalu yang menyakitkan itu jika bukan sekarang. Ia tidak ingin masa lalunya menjadi penghalang untuk menikmati masa muda yang sudah setahun lebih ia lewatkan.


Dinda dan Maya menuju sebuah restoran dengan diantar seorang sopir. Sepanjang perjalanan Dinda tak henti-hentinya meremas jari jemarinya. Sesekali ia mengatur nafasnya untuk menghilangkan perasaan gugup yang entah keberapa kalinya ia alami.


"Rilex Din. Percaya deh sama aku" ucap Maya menenangkan.


"Ini lagi usaha May biar bisa rilex. Kamu gak lihat apa sedari tadi aku gugup kaya gini?"


"Iya,,, iya,,," Maya menahan senyumnya melihat sahabatnya yang bertingkah lucu itu.


Dimas kembali melihat hpnya. Dilihatnya lagi sebuah pesan yang dikirim dari nomor yang selama ini hanya ia simpan saja tanpa pernah berani untuk bisa menghubunginya.


Istriku:


Hari ini jam makan siang di Orange cafe n resto.


Tanpa berniat membalasnya, ia yang pada saat menerima pesan itu sedang bersiap ke luar kota pun mengurungkan niatnya. Penasaran, ia pun menghubungi Talita untuk mencari tau perihal pesan yang dikirim Dinda tersebut. Tanpa diduganya jawaban Talita malah semakin membuatnya penasaran.


"Datang dan tanya aja sendiri sama kak Dinda" Dimas kembali mengingat kalimat yang diucapkan Talita pagi tadi.


Dinda dan Maya sudah melangkahkan kakinya masuk ke dalam kafe. Tangannya menggenggam erat lengan Maya. Sedangkan Maya yang lebih tenang menyapukan pandangannya mencari sosok Dimas sembari masih melangkahkan kakinya.


Dimas yang memang duduk menghadap ke arah pintu masuk akhirnya terlebih dulu melihat Dinda. Ia berdiri mengangkat tangannya yang kemudian mendapat balasan dari Maya.


Cakep bener suami kamu Din. Bener-bener selera kamu ini.

__ADS_1


"Kak Dimas udah lama nunggu?" Tanya Maya sembari membenarkan duduknya.


"Nggak juga".


Dinda yang sedari tadi sudah meyakinkan dirinya pun nampaknya menciut begitu melihat Dimas berada di depannya. Ia masih saja menundukkan wajahnya sembari meremas jemarinya di pangkuannya.


"Apa kamu baik-baik saja?" Pertanyaan Dimas yang selalu ia lontarkan tiap kali bertemu dengan Dinda.


"Emm" Dinda mengangguk.


"Kalian mau pesen apa?" Dimas memberi kode kepada salah seorang waiters untuk mendekat.


"Aku boleh pesen apa aja ya kak?" Sahut Maya bersemangat.


"Tentu saja"


"Aku mau ini,,, ini juga,,, sama minumnya yang ini" ucap Maya menunjuk gambar di buku menu.


"Kamu Din?" Tanya Dimas mengagetkan Dinda yang masih belum berani menatapnya.


"Emm,,, aku cumi asam manis aja" ucap Dinda pelan.


Waiters itupun mengulang pesanan Dimas dengan menambahkan tiga nasi putih ke daftar pesanannya dan berlalu meninggalkan mereka bertiga.


"Kak Dimas suka es krim juga?" Maya penasaran.


"Nggak juga. Tadi itu buat Dinda. Kamu suka es krim kan?" Dimas menatap Dinda yang masih juga belum melihat ke arahnya.


"Iya"


Dimas tersenyum mendengar Dinda menyahuti ucapannya.


"Oh iya, kita belum kenalan" ucap Dimas menjulurkan tangannya ke arah Maya. "Dimas"


"Maya"


"Apa ancamanmu dulu itu masih berlaku?" Ucap Dimas mengingatkan Maya saat pertemuannya di rumah Dinda. Dinda pun mengernyitkan dahinya menatap Maya.

__ADS_1


"Tentu saja" jawab Maya cepat. Merekapun tersenyum setelahnya.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang. Mereka menikmati makanannya dalam diam. Sesekali Dimas mencuri pandang ke arah Dinda. Dan hal itu tak luput dari perhatian Maya.


Selesai makan Maya pun menyampaikan tujuan Dinda mengajak Dimas bertemu.


"Kak Dimas pasti heran kan tiba-tiba Dinda ngajak ketemuan?" Tanya Maya yang saat ini berperan sebagai jubir dari Dinda.


"Iya. Apa ada yang mau Dinda sampaikan?" Ucap Dimas masih berusaha mengajak Dinda bicara.


"Dinda sudah bertekad untuk sembuh kak. Maka dari itu dia juga butuh bantuan dari kakak".


"Tentu saja. Aku pasti bantu". Binar kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya. "Apa yang bisa aku bantu?" Lanjut Dimas menatap Maya.


"Bantu Dinda untuk sembuh dari traumanya dengan kehadiran kakak. Dia yang akan mengatasi perasaannya".


"Benarkah itu? Kamu yakin bisa?" Dimas menatap Dinda.


"Dinda akan berusaha" jawab Dinda singkat.


Tak dapat digambarkan betapa bahagianya Dimas hari ini. Harapan yang selama ini ia simpan hanya sebagai angan, tak lama lagi akan menjelma menjadi sebuah kenyataan. Ya, apalagi yang lebih membuatnya bahagia saat ini selain melihat istrinya itu bisa menerimanya. Istri yang benar-benar sudah bertahta dihatinya.


"Baiklah, setelah ini kalian kemana? Aku akan mengantar kalian".


"Pak Samsul,,," ucap Dinda yang langsung dipotong oleh Maya.


"Udah aku suruh pulang. Hehehe,,,"


"Habis ini kami mau ke tempat latihan. Tapi masih satu jam lagi" Maya lagi


"Oke, kita tunggu aja di sini".


"Tapi kak, baju latihan aku masih di kosan. Eemm,,, bagaimana kalau aku ambil baju dan kak Dimas temenin Dinda?"


Dinda pun melayangkan tatapan protesnya kepada Maya. Ia memegang tangan Maya dengan ekspresi memohon dan Dimas melihat hal itu.


"Nanti kita anter kamu ke kosan dulu May". Ucap Dimas seakan mengerti fikiran Dinda.

__ADS_1


"Ya udah, kita berangkat sekarang aja".


Merekapun berjalan keluar dan menunggu di depan kafe sementara Dimas menyelesaikan pembayaran di meja kasir.


__ADS_2