
"Lo beneran suka sama Talita?" Dimas kepada Andra.
"Emm" angguk Andra mantap.
"Hhhhh" Dimas menghembuskan nafasnya kasar. "Nggak usah ada balapan. Lo usaha aja sendiri"
"Nggak bisa gitu dong. Abang udah janji besok kita balapan" protes Andra.
Dimas pun membiarkan saja Andra yang masih menggerutu karena protes. Ia lebih memilih menikmati ayam goreng pesanannya ketimbang meladeni calon pejuang untuk adiknya itu.
"Pokoknya besok gue tunggu di arena!" Ucap Andra masih berusaha.
Andra sudah mengenal arena sedari dia duduk di bangku SMA. Disanalah dia mengenal Dimas yang ia tahu sebagai kakak dari Talita teman sekolahnya. Kepopuleran Dimas membuat Andra yang saat itu menaruh hati pada Talita pun mengurungkan niatnya memacari gadis itu. Yah, terlalu pengecut memang. Ia lebih memilih menyimpan perasaannya daripada harus berhadapan dengan Dimas sang raja jalanan.
Sampai akhirnya, entah mendapat keberanian darimana Andra memberanikan diri untuk bertanding dengan Dimas, dan meminta sesuatu yang bisa dibilang cukup menggelikan bagi Dimas. Bagaimana tidak, Andra meminta Dimas untuk merestuinya mendekati adik satu-satunya itu jika ia berhasil menang. Dimas yang tak begitu menganggap keseriusan dari ucapan Andra pun mengiyakan saja permintaan pemuda itu.
Andra pun semakin melupakan tujuannya tatkala tak ada satupun pertandingan yang ia menangkan dari Dimas. Tujuannya mendekati Talita menguap begitu saja berubah menjadi ambisi untuk mengalahkan sang raja jalanan.
Flash back end.
Dimas melajukan mobilnya dengan hati-hati dalam perjalanan pulangnya. Ditatapnya gadis yang tertidur di sampingnya itu dengan seutas senyum menghiasi bibirnya. Ia tak tau apa jadinya jika dia tetap bertahan dengan kebodohannya dan menuruti permintaan istrinya itu untuk tidak menemuinya. Mungkin kalau ada sekolah yang mengajar tentang bahasa wanita, ia akan dengan senang hati mengikutinya.
Jarum jam menunjuk angka lima saat ia memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Dinda yang merasakan mobil yang ditumpanginya berhenti pun membuka matanya bingung.
"Nyenyak banget tidurnya" ucap Dimas mengusap pucuk kepala Dinda.
"Loh, udah sampai mas?" Tanya Dinda memperhatikan sekeliling.
"Iya, ayo turun"
Dinda baru saja hendak melangkahkan kakinya saat Talita keluar dari pintu dengan hebohnya. Gadis itu berlari dan memeluk Dinda layaknya sudah terpisah sekian tahun lamanya.
"Aaaaa,,, kangeeeennnn"
__ADS_1
"Aduh,,, aduh,,, Lita,,, sesak ini" Dinda mencoba melepaskan pelukan Talita.
Dimas yang melihatnya pun mendekati keduanya dan menguraikan pelukan Talita dari istrinya itu.
"Apaan sih Ta, lebbay banget" Dimas menarik tangan Dinda agar berdiri di sampingnya.
"Hillliiiihhh,,, kakak tuh yang lebay. Lita kan kangen" mencoba meraih tangan Dinda kembali dan ditepis oleh Dimas. "Ck, apaan sih pelit banget. Kalau bukan karena Lita, kakak juga nggak bakal bisa begini kali"
"Emang kenapa Lit?" Sahut Dinda penasaran dengan ucapan Talita.
"Nggak papa, yuk masuk dulu" potong Dimas mencegah pembicaraan itu lebih jauh.
"Hhhmm,,, takut kan?" Talita menatap sinis Dimas. "Asal tau ya Din, kalau nggak diancam sama papa, kak Dimas pasti nggak bakal jemput kamu".
Deg
Litaaaa,,, sialan nih anak. Baru juga baikan udah dirusuhin aja. Awas kamu!!!
Dimas seketika memperhatikan raut wajah istrinya yang mulai menegang.
Dinda menatap Dimas dengan tatapan membunuhnya. Tanpa mengucap sepatah katapun ia melenggang menggamit tangan Lita dan meninggalkan suaminya yang masih terdiam di tempatnya.
Sementara Talita, dengan sombongnya ia merangkul Dinda dan berjalan masuk ke dalam rumah dengan wajah penuh kemenangan.
Hahaha,,,, rasain lo!
Hari-hari berlalu. Dinda sudah kembali lagi dengan aktivitas perkuliahannya. Sepulang kuliah, Dinda bersama Talita dan juga Maya menyempatkan diri untuk mampir ke salon mertuanya. Mau apalagi, selain mendapat perawatan gratis tentunya.
Salon milik mama Ambar bisa dibilang adalah salon yang cukup ternama untuk kalangan menengah atas. Berbagai jenis perawatan bisa didapat dengan sangat lengkap di tempat itu. Dinda sendiri bukanlah gadis yang suka menghabiskan waktu dengan menjalani perawatan berjam-jam di salon. Ia datang ke salon mertuanya itu, hanya jika mama sendiri yang mengajaknya atau Talita yang meminta untuk menemaninya.
Suasana salon terlihat cukup ramai saat itu. Beberapa ibu-ibu sosialita terlihat menjalani perawatan mahalnya sembari bergosip ria. Ya, apalagi yang dilakukan ibu-ibu itu saat berkumpul selain menggosip.
Sebelum memilih jenis perawatan yang akan di jalaninya, Dinda dan yang lainnya menyempatkan diri untuk menemui mama yang saat itu sedang berbincang dengan pelanggannya.
__ADS_1
"Eeehhh,,, anak-anak mama udah dateng" sambut mama melihat ketiga gadis yang dikenalnya.
Mama pun menyambut dua putrinya dan seperti biasa mencium pipi kanan dan kirinya. Sedangkan Maya, ia cukup salim aja dengan mama cantik itu.
"Maya ngikut lagi nih tante" ucap Maya basa-basi.
"Santai aja May" mama menepuk pelan pundak Maya. "Mau tretment apa sayang, hm?" Alihnya merangkul Dinda.
"Kok kak Dinda aja sih ma yang ditanyain. Yang ngajak ke sini kan Lita" sewot Lita.
"Iya-iya, kalian semua. Gitu aja cemburu" mama menoel janggut Lita.
"Yang mana mantu kamu Mbar?" Tanya salah seorang pelanggan tiba-tiba.
"Ohhh,,, iya jeng. Sini nak" mama menuntun Dinda mendekat ke sumber suara. "Kenalin ini tante Andini, temen mama"
"Adinda tante" Dinda mencium tangan Andini.
"Punya mantu cantik gini kok diumpetin sih Mbar. Sejak kapan nikahnya ini?"
"Udah lama, kamu aja yang nanyanya baru sekarang" sahut mama.
"Waaahh,,, udah siap-siap jadi nenek dong ya"
Dinda mulai merasa tidak nyaman dengan pembicaraan itu. Hal yang sama setiap kali ia diperkenalkan dengan teman mertuanya.
"Iya doain aja. Dinda juga masih kuliah ini"
Di tengah pembicaraan yang membosankan menurutnya itu, Dinda pun permisi untuk menyusul Talita dan juga Maya yang sudah lebih dulu meninggalkannya.
Dinda memasuki ruangan untuk perawatan wajah yang sering ia lakukan bersama Talita. Di sana sudah ada Talita yang sudah terbaring dengan serangkaian treatment pada wajahnya. Sedangkan Maya, ia cukup tau diri dengan hanya memilih facial wajah saja.
Di sela-sela perawatan yang dijalaninya, Dinda masih saja terngiang dengan ucapan Andini yang baru dikenalnya beberapa saat lalu. Pikirannya kembali teringat dengan sosok Dimas suaminya.
__ADS_1
Gimana mama mau jadi nenek kalau mas Dim aja cuek kaya gitu.
Dinda sendiri bingung dengan sikap Dimas yang seperti itu. Sudah dua malam ia tidur di kamar yang sama dengan Dimas, namun tak sedikitpun laki-laki itu tergerak untuk menyentuhnya. Bahkan saat Talita mengadu tentang drama penjemputannya kemarin, Dinda sempat ngambek dan berencana tidur di kamar Talita. Namun laki-laki itu seolah biasa saja tanpa sedikitpun mencegahnya. Entah apa yang ada dipikiran suaminya itu.