
Dimas berdiri di depan pintu kamar Adinda. Berkali-kali ia mengetuk namun tak kunjung ada jawaban dari dalam. Ia membuka pintu yang ternyata tidak dikunci dan melongokkan kepalanya ke dalam. Tak melihat adanya Adinda, ia pun masuk begitu saja dan duduk di sofa sembari menunggu Dinda yang sedang berada di kamar mandi. Terdengar suara kran air yang dimatikan. Perlahan pintu kamar mandi pun terbuka dan menampakkan sosok cantik yang sudah berganti pakaian dengan gamis rumahan. Dengan rambut yang masih terikat cepol, menambah aura cantik dari gadis yang belum menyadari kehadiran Dimas di kamarnya.
Dinda membuka ikatan rambutnya dan duduk di depan meja riasnya. Tangan kanannya meraih sisir dan matanya tertuju pada kaca di depannya. Dari pantulan kaca nampak sesosok bayangan laki-laki sedang duduk menatap ke arahnya.
"Aaaaaaaaa,,,,!!!" pekik Dinda memutar tubuhnya dan melempar sisir yang dipegangnya ke arah Dimas.
Dimas yang melihat keterkejutan Dinda pun segera berdiri sembari meletakkan jari telunjuk di bibirnya mengisyaratkan untuk tenang.
"Mas Dim ngapain di kamar Dinda?"
"Habisnya kamu tadi diem aja. Lagian aku udah ketuk pintu kok. Berhubung kamu gak jawab ya aku masuk aja" Dimas mendekat ke arah Dinda dan duduk di tepi tempat tidur yang berada tepat di depan Dinda.
Dimas memperhatikan wajah Dinda yang tanpa hijab di depannya. Dengan rambut panjang yang terurai, benar-benar membuat Dimas terkesima.
Apaan sih ngliatin sampai kaya gitu. Mana pas gak pakai kerudung lagi.
"Mas ngapain di sini?!" Ulang Dinda dengan nada sedikit kesal.
"Mas minta maaf kalau udah bikin Dinda marah. Mas bener-bener emosi tadi"
"Mas tau nggak penyebab Dinda kesel kayak tadi?"
Dimas menggelengkan kepalanya. "Karena mas mukul Alex?" Jawab Dimas ragu-ragu.
"Bukan!" Dinda mencebikkan bibirya.
"Terus kenapa?"
"Mas nyadar nggak sih, tadi itu mas bilang mau ngehajar Andra sebelum aku jadi janda. Itu kan sama aja mas berharap Dinda jadi janda. Asal tau ya mas, Dinda bertahan sampai sejauh ini bukan untuk jadi janda. Atau emang mas yang udah berencana mau cerein Dinda? Kalau gitu kenapa nggak dari dulu aja mas ce,,,"
Cup
Dimas mengecup bibir Dinda yang terlihat lucu saat nyerocos di depannya. Dinda sendiri masih terkejut dengan kejadian yang barusan dialaminya.
__ADS_1
"Udah ngomelnya?" Tanya Dimas tersenyum ke arah Dinda.
"Mas apaan sih?!" Dinda memutar tubuhnya menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah.
Dimas pun berdiri mendekat ke arah Dinda dan berjongkok di depannya untuk melihat wajah gadis yang sedang menunduk itu. Tangannya meraih kedua tangan Dinda dan menangkupnya ke dalam genggamannya.
"Dinda, jangan ucapkan kata-kata seperti itu lagi kalau tidak mau melihat mas marah" ucap Dimas sungguh-sungguh. "Mas nggak pernah sedikitpun berpikir untuk melakukan hal seperti yang kamu ucapkan tadi. Mas nggak akan buat kamu jadi janda kecuali tuhan yang menghendakinya".
Dimas berdiri dan menarik tangan Dinda untuk berdiri mengikutinya. Perlahan Dimas membimbing Dinda ke dalam pelukannya.
Tanpa diduga gadis itu menurut dan menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya. Perasaan aneh bergelanyar di hatinya tatkala Dimas membelai lembut rambutnya. Ia memejamkan matanya menikmati setiap belaian dari tangan kokoh suaminya. Bahkan ia sendiri dapat mendengar detakan dari dada bidang itu tak jauh berbeda dengan apa yang ia rasakan. Sesaat mereka terbuai dengan perasaan masing-masing. Kehangatan dan kenyamanan sungguh melenakan keduanya.
Perlahan Dimas melepaskan pelukannya. Ditatapnya wajah gadis yang masih saja tertunduk itu. Kedua tangannya menangkup wajah cantik di depannya dan mengarahkannya untuk menatap kepadaya. Dengan lembut ia menyingkirkan rambut yang terurai dan menyelipkannya ke belakang telinga. Kini tak ada lagi yang menghalanginya menatap mata cantik di depannya. Matanya beralih pada bibir mungil yang sedari tadi sudah membuat akal sehatnya menggila.
"Mas,,," lirih Dinda yang melihat Dimas semakin mendekatkan wajahnya.
Tak sampai hitungan detik, Dimas sudah menikmati bibir mungil yang sedari tadi menggodanya. Dinda pun terbuai dengan perlakuan lembut Dimas. Bisa dibilang ini adalah ciuman pertamanya dengan seorang pria.
"Ciuman pertama?" Goda Dimas yang merasa Dinda baru pertama melakukannya.
Dinda memukul dada Dimas kesal.
"Kan waktu itu mas sudah mencurinya"
Dimas kembali meraih tubuh Dinda ke dalam pelukannya.
"Maafin mas ya Din. Mas benar-benar menyesal".
Dinda mengangguk di pelukan Dimas.
Ceklek
Tiba-tiba pintu terbuka dan nampak mama Ambar yang berdiri terpaku di tempatnya melihat Dimas yang masih dalam posisi memeluk Dinda.
__ADS_1
"Eehhh,,, maaf. Mama gak jadi masuk deh" mama kembali menutup pintu dan meninggalkan kamar Dinda dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Mas sih, Dinda malu kan sama mama" kesal Dinda menjauhkan tubuhnya.
"Kenapa malu? Mama aja bisa ngerti kok. Buktinya pintunya kembali di tutup".
"Ck,,, udah deh. Mas turun sana temuin mama dulu"
"Oke, berarti nanti boleh balik ke sini lagi dong?"
"Aaahhh,,, udah ah" kesal Dinda sembari mendorong Dimas keluar dari kamarnya dan menutup pintunya.
Dimas berjalan menuruni tangga menuju ruang tengah dimana kedua orang tuanya berada. Ia duduk di sofa tunggal di samping mamanya.
"Kayaknya bentar lagi kita bakalan dapat cucu nih pa" goda mama kepada Dimas.
"Oh,,, ya? Bagus dong ma" sahut pak Lukman.
"Mama papa apaan sih. Kalau Dinda denger bisa malu dia"
"Ini kan nggak ada Dinda Dim. Mama seneng banget hubungan kalian udah membaik. Kamu baik-baik ya jaga perasaan Dinda. Dia gadis yang baik Dim"
"Iya ma"
"Kamu nggak ada rencana kembali ke rumah? Dinda kan sudah sembuh. Apa nggak sebaiknya kalian tinggal bersama?" Tanya pak Lukman.
"Nanti Dimas bicarain dulu sama Dinda pa. Takutnya dia nggak mau lagi"
"Kamu pinter-pinter dong ngambil hatinya Dinda".
Pembicaraan pun terhenti saat Dinda terlihat berjalan menuju ke arah mereka. Dinda mendekat dan mencium tangan kedua mertuanya itu. Belum juga Dinda mendudukkan dirinya, Dimas lebih dulu memegang dan menarik tangannya.
"Yuk"
__ADS_1