
Dimas memenuhi janjinya untuk menjemput Dinda. Kini mereka sudah berada di dalam mobil dengan situasi yang masih sama seperti sebelumnya.
Hening
"Kamu udah makan siang?" Tanya Dimas memecah keheningan.
"Emm" Dinda mengangguk.
Hening lagi
"Eem,,, kamu mau nggak temenin aku makan dulu? Aku belum makan soalnya".
Dinda melihat jam tangannya. Jarum jam sudah menunjuk angka dua.
Jam segini dia belum makan siang? Masa iya aku harus temenin sih. Mana sendirian lagi. Ck,,,
"Nggak bisa ya?" Tanya Dimas lagi.
"Baiklah" jawab Dinda yang langsung dibalas senyuman oleh Dimas.
Merekapun melaju menuju sebuah rumah makan yang menyediakan berbagai masakan rumahan. Di sana juga tersedia aneka es yang dari gambarnya saja sudah menggugah selera. Dinda yang saat itu sedang melihat-lihat buku menu pun dibuat bingung karenanya.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Dimas.
Dinda menggelengkan kepalanya, tapi matanya terus saja tertuju pada gambar minuman yang terlihat begitu menyegarkan di buku menu.
"Aku pesen minuman aja boleh?"
Dimas senang mendengar suara istrinya itu.
"Tentu saja. Mau yang mana?"
"Aku mau es campur sama ini" ucapnya seraya menunjuk gambar es krim dengan potongan aneka buah di dalamnya.
Dimas pun memesan sesuai yang di inginkan Dinda. Sembari menunggu pesanan datang Dinda fokus melihat hpnya. Ia sedang membalas chat dari Maya yang memang sedari tadi sudah penasaran dengan pasangan yang baru saja bersatu itu.
Maya
Ciiiee,,, yang makan berdua
Tau gini kamu ikut tadi
__ADS_1
Maya
Ogah, bisa jadi obat nyamuk aku
Awas kamu!!!!
Maya
Semoga lancar kencannya.
Tanpa gadis itu sadari, Dimas memperhatikan Dinda sembari menyunggingkan senyumnya. Wajah kesal yang ditunjukkan Dinda saat membalas pesan dari sahabatnya merupakan hiburan tersendiri baginya.
Akhirnya kesenangan itupun terganggu dengan kedatangan seorang pelayan yang membawakan pesanannya. Satu mangkok es campur dan satu gelas es krim sudah bertengger di depan Dinda. Dengan mata berbinar, gadis itupun mengangkat sendoknya dan menikmati eskrimnya terlebih dulu. Sedangkan Dimas yang berada di depannya menikmati makanannya dengan sesekali memperhatikan Dinda yang sama sekali tak menghiraukannya itu.
"Dimas" sapa seorang wanita yang sontak membuat Dimas terkejut. "Kamu bener Dimas kan?"
Dinda yang tengah asik menikmati esnya pun mendongakkan kepalanya melihat ke arah sumber suara.
"Siska?" Suara Dimas terdengar kaget.
Dinda yang mendengar suara Dimas menyebut nama gadis itupun beralih menatapnya.
Siska? Cantik, seksi, terlihat lebih dewasa. Apa ini mantannya?
Dimas yang merasa tak nyaman dengan kehadiran Siska pun tersenyum canggung. Ia menatap kembali ke arah Dinda dan gadis itu sudah kembali asik dengan esnya.
"Ya ampun Dim, muka kamu kenapa lagi? Kamu masih suka berantem?" Ucap Siska berusaha memegang wajah Dimas yang langsung menepis tangannya. Siska yang merasa perhatiannya ditolak pun menurunkan tangannya.
"Ehh,,, kamu sendirian?" Dimas mengalihkan.
"Iya, aku tadi habis ketemuan ma temen aku, tapi dia udah pergi. Ahh iya, ini adik kamu ya?" Tanya Siska melihat ke arah Dinda.
Belum juga Dimas menjawabnya, Siska sudah mengulurkan tangannya kepada Dinda.
"Kenalin, aku Siska. Aku mantan pacarnya Dimas. Hehehe,,," ucap Siska menatap ke arah Dimas.
"Adinda".
"Tapi bisa jadi kami balikan loh Din, dulu dia mohon-mohon waktu aku putusin" bisik Siska percaya diri.
"Siska!" Hardik Dimas yang merasa tak nyaman dengan ucapan Siska.
__ADS_1
"Kenapa? Kita dulu emang pernah pacaran kan? Yaahh,,, walaupun sempat ada kesalah pahaman yang menyebabkan kita putus"
"Sis!!!"
"Mas, aku udah selesai" ucap Dinda tiba-tiba.
Mas? Apa barusan dia manggil aku mas?
"Ah iya. Siska kami permisi dulu" ucap Dimas seraya bersiap untuk beranjak.
"Oh iya mbak Siska. Adiknya mas Dimas namanya Talita sedangkan saya Adinda. Dan saya istrinya"
Setelah mengucapkan kalimat mengejutkan itu, Dinda berdiri dan berjalan keluar meninggalkan Dimas dan Siska yang masih terbengong tak percaya. Siska terkejut mendapati kenyataan mantan kekasih yang dulu mengejar-ngejarnya itu kini telah menikah. Sedangkan Dimas, ia terkejut dengan sikap Dinda yang dengan lantang menyebut statusnya sebagai istrinya. Antara terkejut dan bahagia Dimas masih mencerna kalimat yang barusan dia dengar.
Dinda sudah berdiri di samping mobil dengan melipat kedua tangannya. Gadis itu terlihat kesal saat melihat Dimas keluar dari restoran. Mereka memulai perjalanannya dengan Dinda yang masih mengerucutkan bibirnya.
"Kamu marah?" Tanya Dimas hati-hati.
Dinda hanya diam tak menanggapai. Namun dengan wajah yang seperti itu membuat Dimas berinisiatif menepikan mobilnya.
"Kamu kenapa?"
"Nggak papa"
"Dinda, kamu marah soal tadi?"
Dinda tak menjawaba pertanyaan dari Dimas. Dan hal itu malah semakin meyakinkan Dimas kalau gadis itu sedang merajuk.
"Maaf, aku memang pernah pacaran sama dia. Tapi udah putus, dan itupun sebelum kita menikah"
"Nggak ada yang nanya"
Dimas tersenyum melihat tingkah istrinya yang terlihat menggemaskan. Yah, ia tidak berani menyimpulkan kalau istrinya itu cemburu. Tapi setidaknya ia bisa merasakan istrinya itu jadi lebih bisa diajak berkomunikasi dari sebelumnya. Dan itu sudah sangat membuatnya senang.
"Dinda, aku nggak mau jalan kalau kamu masih seperti ini"
"Kenapa? Dari tadi aku begini. Kalau gak mau ya udah aku turun" ancam Dinda berniat membuka pintu. Reflek Dimas menahan tangan Dinda yang langsung mendapat pelototan darinya.
"Maaf" Dimas melepas pegangan tangannya. "Jelaskan dulu kenapa kamu seperti ini".
"Gak papa!!! Maksa banget sih"
__ADS_1
"Dinda, hubungan kita baru saja membaik. Dan aku nggak mau semua ini rusak karena kesalah pahaman yang kamu simpan sendiri. Kalau aku salah, bilang padaku agar aku bisa memperbaikinya. Kalau kamu diam seperti ini, bagaimana aku mengetahui kesalahanku. Bantu aku untuk bisa mengerti dirimu. Karena aku sungguh-sungguh ingin memulainya denganmu".
Mendengar penjelasan Dimas, Dinda nampak berfikir. Ia pun tidak memungkiri, lelaki yang tadinya ia sebut sebagai penjahat itu kini dengan tulus mengharap maafnya. Bahkan laki-laki itu tanpa ragu menunjukkan perhatiannya walaupun ia sendiri tak pernah menghiraukannya.